Beranda Aspirasi

Kartini dan Perempuan Zaman Now

 

RA Kartini (Foto: Ist)

*Risa Junita Sari

Kartini sudah terkubur di pangkuan ibu pertiwi, tapi perjuangan yang dilakukannya masih terpatri dalam hati perempuan yang berupaya keluar dari kebodohan, ketidaktahuan dan kekangan yang mengikat dirinya. Bung Karno boleh mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda akan aku gocangkan dunia”. Bagi saya cukup dengan satu perempuan mampu menghancurkan sepuluh dunia laki-laki. Sejarah mencatat Indonesia hanya mempunyai satu perempuan yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Sebagai negara demokrasi, perempuan tetap terdiskriminasi oleh berbagai status jadul yang telah melekat kuat dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia.

Sepanjang sejarah Indonesia, posisi dan kedudukan perempuan berada di bawah kukungan patriarki. ketika masa kolonialisme menjarah negeri ini perempuan hanya dipandang sebelah mata. Perempuan layaknya sebuah barang yang dapat diperjualbelikan dan dibuang ketika tidak berguna lagi bagi pemiliknya. Perempuan hidup dalam perbudakan nafsu birahi laki-laki. Hal ini disebabkan oleh keadaan, situasi sosial, kemiskinan dan ketidak tahuan.

Dalam tulisan Tineke Hellwig mengenai citra kaum perempuan di Hindia Belanda menyatakan bahwa “Kompeni membeli perempuan budak untuk dijadikan istri para bujangan dengan syarat perempuan yang boleh menikah itu memiliki agama Kristen yang sama dengan laki-laki Eropa”. Hal yang demikian menjelaskan kehidupan perempuan sepenuhnya bergantung pada kaum laki-laki, sebagai budak, perempuan berada di bawah kendali tuannya. Posisi perempuan sebagai budak, mereka tidak berada dalam posisi negosiasi, mereka tidak dapat mengajukan tuntutan apa pun. Hubungan yang terjalin antara mereka seringkali mendapat tindakan yang sewenang-wenang.

Sekalipun terjadi perkawinan resmi, perempuan tetap berada di posisi nomor dua, mereka memiliki banyak tanggungjawab, mulai dari kebutuhan anak, rumah tangganya, kebutuhan seks suaminya, tapi mereka tidak bisa menuntut hak yang harus mereka terima. Apabila sang perempuan ditinggalkan oleh tuannya. Mereka tidak lagi menjadi tanggung jawab siapa pun, sehingga untuk tetap hidup mereka menjadi gundik dan pelacuran di rumah-rumah bordil.

Pergundikan waktu itu merupakan perbuatan yang sering terjadi. Banyak istilah untuk menamakan seorang gundik, yang paling populer di kalangan masyarakat adalah “nyai”. Seorang ‘nyai’ tidak mempunyai hak apa pun termasuk hak atas anaknya dan atas posisi dirinya sendiri, artinya kapan pun perempuan dapat ditinggalkan oleh majikannya atau diserahkan kepada majikan baru.

Sebagai perempuan, Kartini merasa kasihan kepada para perempuan termasuk dirinya yang dibatasi dalam ruang gerak seperti dalam hal pendidikan, pergaulan dan interaksi sosial lainnya, sehingga mendorong dirinya untuk menuliskan keluh kesahnya dalam guratan tulisan dalam buku yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang. Dalam tulisan itu tertuang pemikiran, cita-cita, dan impian Kartini yang teramat besar untuk para perempuan, dan perempuan jawa pada khususnya, karena Kartini hidup dalam situasi feodalisme yang sangat kuat di Pulau Jawa.

Pada zaman now, keinginan Kartini telah menemui titik terang. Para perempuan-perempuan tangguh sudah berpemikiran maju melalui pendidikan yang diperolehnya, sehingga mampu mendobrak tradisi, presepsi dan negasi yang hidup dalam masyarakat selama ini. Perempuan tampil sebagai agen perubahan dan mampu memimpin kaumnya untuk keluar dari kekangan kuno yang membuat mereka terpinggirkan.

Pada era zaman now perempuan semakin melebarkan sayapnya. Perempuan yang dipandang lambat dalam mengambil keputusan mampu menjadi pemimpin atau direktur. Semisal, Sri Mulyani, adalah perempuan yang mampu menjadi direktur bank dunia dan sebagai menteri keungan, ia juga dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaik Asia pada tahun 2006.

Selain itu perempuan juga mampu menjadi seorang pemimpin yang berhasil seperti Tri Rismaharini. Perempuan tangguh ini dalam kepemimpinannya membawa kota Surabaya menjadi kota yang terbaik, dan selama kepemimpinannya berbagai penghargaan diperoleh oleh Kota Surabaya seperti penghargaan tingkat Asia-Pasifik, yaitu Future Government Award, The Townscape Award dari PBB. Keberhasilan Risma dalam kepemimpinannya menuai banyak pujian. Pada tahun 2015, Risma dinobatkan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia versi World City Mayors Foundation. Pada tahun yang sama, Risma masuk dalam jajaran lima puluh tokoh berpengaruh di dunia versi majalah Fortune. Kepemimpinan Risma bersih dari korupsi sehingga dia dianugerahi penghargaan dari Bung Hatta Anti Coruption Award.

Kualitas kepemimpinan perempuan berasal dari potensi dirinya sendiri seperti yang dilakukan oleh Susi Pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan Indonesia pada saat ini, dengan bermodalkan ijazah SMP ia mampu mengelola bisnisnya sebagai direktur PT. ASI Pudjiastuti dan mampu mengelola tugas yang diberikan pada dirinya sebagai seorang menteri. Banyak yang meragukan kualitasnya mulai dari pendidikannya, perilaku sosialnya, tapi jiwa kepemimpinan yang dimilikinya membuat banyak orang terkagum akan apa yang telah dilakukannya saat ini, laut Indonesia dikelola dengan baik dan atas keberaniannya menenggelamkan kapal asing yang berusaha mengambil hasil laut Indonesia. Mereka adalah sebagian dari Kartini muda zaman now yang berpemikiran maju dan mampu mengembangkan potensi dirinya.

Kartini dan para pejuang perempuan sezaman sudah berhasil membawa perubahan untuk masa depan perempuan Indonesia, tidak mudah bagi mereka untuk dapat mendorong para perempuan supaya keluar dari tradisi, presepsi dan negasi yang sudah lama dianut oleh masyarakat Indonesia. Perempuan tidak hanya untuk di kasur, sumur dan dapur tetapi perempuan mempunyai potensi sangat besar dalam dirinya. Perempuan yang berpemikiran maju adalah perempuan yang tidak memandang secara sempit segala sesuatu yang ada pada tradisi, presepsi yang ditujukan pada dirinya, melainkan mereka yang mampu mencerna dan mengembangkan potensi dirinya.

Sebagai seorang perempuan, janganlah menjadi luka bagi bangsa dan negara, tapi jadilah perempuan yang dapat memajukan bangsa dan negara, karena sepanjang sejarah yang sudah berelalu, perempuan berada di bawah kukungan patriarki dengan berbagai kewajiban tanpa ada hak sedikitpun. Sebagai perempuan, kenali sejarahmu, ingat perjuangan Kartini dan para perempuan tangguh lainnya untuk memperjuangkan para perempuan. Kartini memang sudah tiada, tapi jasanya sebagai tokoh emansipasi wanita dikenang sepanjang masa. Mari kita sebagai Kartini-Kartini muda terus melanjutkan apa yang dicita-citakannya sehingga mampu membawa bangsa ini lebih baik untuk kedepannya.

 

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sejarah Angkatan 2015

Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here