Beranda Berita

Kapalo Banda, Wisata Air Instagramable di Lima Puluh Kota

 Beberapa pengunjung yang menaiki rakit bambu di Kapalo Banda, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Foto: Fildzatil Arifa)

Oleh : Fildzatil Arifa*

Lima Puluh Kota adalah salah satu kabupaten di Sumatera Barat yang dikenal dengan nama Luhak Limo Puluah. Berbagai peninggalan sejarah ada di kabupaten ini, seperti kumpulan batu menhir di daerah Mahat dan rumah dan makam Tan Malaka. Kabupaten ini dahulunya juga  merupakan salah satu lokasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang bertempat di Kecamatan Situjuah. Tidak hanya itu, Lima Puluh Kota juga memiliki objek wisata alam yang sudah terkenal sampai ke mancanegara seperti Lembah Harau, Kelok Sembilan, dan satu tempat tersembunyi di Kecamatan Harau, Kapalo Banda Taram.

Kapalo Banda merupakan danau saluran irigasi yang berfungsi mengairi kebun dan sawah penduduk di kawasan tersebut. Dahulunya, tempat ini bisa dikatakan jarang bahkan tidak pernah dilirik oleh wisatawan. Hanya ada beberapa penduduk lokal yang sering mengunjungi lokasi tersebut. Namun seiring eksisnya Kapalo Banda di media sosial, tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata yang paling dicari pengunjung Kabupaten Lima Puluh Kota dan Payakumbuh saat ini.

Berada di ujung desa Taram dan jauh dari hiruk pikuk kota membuat Kapalo Banda terkesan memiliki kedamaian tersendiri. Tidak hanya itu, adanya bukit-bukit kecil yang mengelilingi kawasan tersebut membuat tempat ini seperti wisata alam tersembunyi dan menyejukkan. Sore itu, saya dan teman-teman beranjak dari Kota Payakumbuh ke Kapalo Banda untuk menikmati sisi dingin dan sejuk dari Kapalo Banda.

Berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Payakumbuh, kita akan menempuh perjalanan kurang lebih selama 25 menit untuk sampai di Kapalo Banda. Akses jalan menuju lokasi ini tidak perlu diragukan lagi. Jalan menuju Kapalo Banda sudah beraspal, walaupun jalan akan semakin kecil dua kilometer sebelum lokasi tersebut. Dengan merogoh kocek lima sampai sepuluh ribu rupiah, kita diberikan tiket masuk oleh pemuda sekitar menuju Kapalo Banda. Sesampainya di sana, kita akan disambut oleh panorama indah dengan danau irigasi dan bukit hijau nan elok. Suara gemericik air yang terus mengalir di danau irigasi dan suara khas alam membuat kita takkan beranjak dari tempat ini.

Duduk di pinggiran danau irigasi sambil menikmati keindahan alam tersembunyi di Lima Puluh Kota ini akan menimbulkan rasa nyaman pada pengunjung hingga pengunjung tidak ingin beranjak dari tempat ini, terlebih bagi orang yang berkegiatan di kota yang penuh hiruk pikuk,  mereka akan menemukan ketenangan saat berada di Kapalo Banda ini. Duduk sambil menikmati mie rebus atau kerupuk kuah yang menjadi ciri khas makanan di tempat wisata ini menambah kenikmatan berwisata di Kapalo Banda.

Tidak lengkap rasanya jika di Kapalo Banda hanya duduk dan menikmati kuliner tanpa mencoba mengarungi danau irigasi ini dengan rakit bambu yang menjadi salah satu ciri khasnya. Hanya dengan tarif Rp10.000 per jam, kita akan diberikan satu rakit dan pengayuh bambu untuk menikmati sensasi naik rakit. Dengan rakit itu, kita bisa menikmati semilir angin sambil berdiri mengayuh dayung bambu. Biasanya, pada sore hari jika beruntung kita juga bisa melihat aktivitas buru babi warga sekitar di kawasan perbukitan tersebut.

Tidak hanya itu, di sisi lain Kapalo Banda kini terdapat spot foto baru yang membuat daya tarik wisatawan meningkat untuk beramai-ramai datang ke tempat ini, yaitu adanya beberapa ayunan yang digantung di bawah pohon kayu besar di sungai yang mengalir di Kapalo Banda. Kita harus berjalan lebih kurang 100 meter untuk sampai di sungai kecil tersebut. Di sana juga terdapat beberapa ayunan sederhana di atas air yang membuat tempat ini menjadi spot foto menarik bagi pendatang yang datang ke Kapalo Banda. Kami juga tidak lupa untuk berswafoto bersama dan menikmati  sensasi menaiki ayunan kayu tersebut.

Di samping sungai kecil itu terdapat hutan pinus yang juga  menjadi spot foto di Kapalo Banda ini. Layaknya seperti hutan pinus Mangunan, tidak perlu jauh-jauh untuk sekedar menikmati suasana hutan dan berfoto ke Jogja, di Kapalo Banda pun kita juga dapat menikmati sensasi berfoto di hutan pinus. Tidak heran, beberapa tahun terakhir Kapalo Banda sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Setelah puas menikmati berbagai suguhan wisata yang ada di Kapalo Banda, kami memutuskan untuk segera menambah energi sambil menikmati eloknya pesona dan dinginnya Kapalo Banda sore itu. Kami menikmati mie rebus dan kerupuk kuah serta bakso bakar yang membuat hati senang dan perut yang meronta minta diisi jadi kenyang. Embun yang bertengger di pepohonan bukit di sekitar Kapalo Banda menambah keasrian tempat yang sejuk ini.

Setelah menikmati kuliner sederhana di sudut kota ini, kami pun tidak lupa berswafoto sembari menyeberangi danau irigasi tersebut. Berlatar belakang danau irigasi, hutan dan perbukitan berembun membuat saya merasa betah berlama-lama di tempat ini. Kapalo Banda memang patut dijadikan salah satu objek wisata yang harus dikunjungi di Kabupaten Lima Puluh Kota selain Lembah Harau. Di sini kita akan menikmati pemandangan dan sensasi yang berbeda dari objek wisata lainnya di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, kita juga bisa mengunjungi salah satu objek wisata religi yang letaknya tidak jauh dari Kapalo Banda, yaitu Surau Tuo yang juga salah satu tempat yang bagus dengan berlatar belakang bukik bulek yang terkenal di daerah Taram ini.

Kapalo Banda beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.30. Jika berkunjung ke Kapalo Banda, jangan lupa untuk selalu memperhatikan kebersihan agar keasriannya tetap terjaga dengan membuang sampah pada tempatnya. Ayo, berkunjung ke Kapalo Banda.

*Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Keperawatan 2017 Universitas Andalas

 

Baca Juga yang Menarik Lainnya!

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here