Selasa, 19 September 2017

Home » Sastra dan Budaya » Kabar Kepulangan Dari Belanda

Kabar Kepulangan Dari Belanda

Oleh: Lastry Monika*

12 September 2017 - 9:19 WIB Kategori: Sastra dan Budaya, Sastra dan Seni 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 18 Kali

Ilustrator: Ade Rahmat Syarif

Musik berputar, entah kali keberapa. Hanya bunyi petikan gitar yang dimainkan pelan, merdu dan sendu. Seperti mengisahkan kehilangan, duka, dan rindu. Di luar gerimis berguguran, menjatuhkan satu persatu dedaunan yang telah layu. Kepasrahan membiarkan mereka bertaburan di tanah becek dan gelap kala itu.

Til gorden tipis di jendela yang setengah terbuka melambai-lambai ditiup angin. Berirama rindu yang ditepis tipis gerimis. Sesekali kilat menyambar dan seketika terang di malam gulita yang hampir larut. Jam dinding terus berdetak, tanpa ada henti apalagi mengundurkan waktu barang sedetikpun. Ia seakan tak pernah kenal bahwa orang-orang di sekitarnya tengah menunggu. Membikin resah yang bersemayam sejak lama menjadi gelisah berguguran. Seperti gerimis di malam larut di balik til gorden.

Kabar kedatangannya telah dari dua minggu yang lalu. Ketika itu di pagi biru, bahkan sebelum waktunya Ibu untuk bangun. Ibu bicara dengannya lewat telepon.

“Benar kau akan pulang?” tanya Ibu ketika itu. Paras yang menyisakan keelokan rupa masa lalu itu meronakan semurat kerinduan yang membayang tanya. Aku yang tidur malas-malasan di sofa menyimpulkan kabar kepulangan itu dari pembicaraan mereka. Aku bangun dan ingin kepastian. Ibu melihatku berbinar. Binar yang bertolakbelakang dengan wajah ibu saat melepas kepergiannya dua tahun lalu. Ibu terlihat bahagia sekali. Tetapi bayangan tanya itupun menggantung di wajahnya.

“Tapi studimu kan belum selesai!” lanjut ibu.

Aku tak mendengar jawaban dari seberang yang jauh di sana.

“Apa kau sakit?” Bayangan tanya di wajah ibu menjadi kerut khawatir. Masih tak kutahu jawaban dari seberang sana dan apa yang mereka bicarakan.

“Baiklah, akupun sudah sangat merindukanmu!” Tutup Ibu.

Seminggu sebelum kedatangannya, kudapati Ibu pulang dari mengajar agak cepat. Ia membereskan kamar depan, beranda, dapur, bahkan seisi rumah. Aku mengikuti Ibu ke kamar ketika pintunya dibuka, kucium bau sedikit aneh. Mungkin karena ruangan ini jarang mendapat udara segar. Pintu kamar ini nyaris tak pernah dibuka setelah kepergiannya dari dua tahun yang lalu. Hanya sesekali ketika Ibu melampiaskan hasrat rindu, membolak-balik album lama, kumpulan fotonya dari bayi hingga diwisuda strata satu, hingga membaca diary waktu kecilnya yang entah telah berapa kali dibaca Ibu.

Aku duduk di atas tempat tidur. Masih kukenali bau parfum ini. Ia pernah menyemprotkannya ke tubuhku. Saat itu setelah aku selesai dimandikannya. Saat di rumah, aku juga akan menemaninya tidur di atas tempat tidur ini. Ia suka ditemani, aku pun suka menemani.

Di meja riasnya kulihat foto dirinya memakai toga. Parasnya cantik serupa Ibu. Barangkali ialah jelmaan Ibu berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tangannya menggandeng tangan seorang lelaki berambut gondrong, tinggi, dan berkumis tipis. Dan tangannya yang lain memangku seikat bunga mekar. Mereka sama-sama tersenyum. Senyum bahagia tentunya. Di sebelah foto itu ada figura kecil mengapit foto hitam putih. Seorang perempuan dengan rambut sebahu diikat pita, berpangku tangan dengan seorang lelaki berambut belah tengah. Dua kancing kemejanya dibiarkan terbuka memperlihatkan jakunnya yang menonjol jelas. Perempuan itu mirip sekali dengannya. Dan mata lelaki itu, adalah matanya. Itulah ayahnya yang kata ibu kanker paru-paru telah merenggut nyawa ayah saat putri kecil mereka masih berusia dua tahun.

Saat itu ia pernah pulang sangat mengejutkan. Menjerit-jerit namun kegirangan. Dengan gusar ia masuk menerobos pintu dan langsung masuk begitu saja.

“Ada apa denganmu?” ujarku kaget.

Ia mengabaikan dan malah menemui Ibu di dapur. Samar-samar kudengar ia berteriak kegirangan pada Ibu.

“Ibu aku cum laude dan lanjut studi ke Belanda!” teriaknya.

Seketika dapur heboh oleh kegirangan mereka berdua. Aku ikut senang tentunya. Tapi itu berarti, ia akan pergi, jauh dan lama.

***

Aku kembali dibangunkan sambaran kilat di tengah kantukku yang sedang menuju tidur. Kulihat Ibu gelisah, jari tangannya saling menggenggam.

Masih tercium aroma muffin cokelat kesukaannya dari dapur. Ibu sengaja membikinkan sore tadi.

“Lama sekali dia, seharusnya dari tadi sore sudah sampai. Semoga saja tidak terjadi apa-apa”, begitulah kiranya jabaran air muka Ibu.

“Kau jangan terlalu khawatir” ujarku. Ibu menatapku, menyiratkan kerut kekhawatiran seorang Ibu.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…” kudengar suara operator dari telepon genggam Ibu. Sudah berpuluh kali Ibu mencoba meneleponnya. Teleponnya juga tidak aktif. Kemana anak itu?

***

“Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa!” ujarnya mengusap-usap kepalaku. Itu kali tarakhir aku bertemu dengannya. Sebelum ia oleh Ibu dan Kakak serta Lelaki berambut gondrong diantar ke bandara. Aku menunggui rumah.

“Kau yang harus menjaga dirimu!” ujarku pelan saja, nyaris tak terdengar.

Aku selonjoran di kursi sepeninggal mereka. Sampai Ibu dan Kakak pulang mungkin aku akan tertidur. Tidak banyak yang bisa aku kerjakan di rumah ini. Lebih tepatnya tidak ada. Tetapi mereka menyayangiku dan aku menyayangi mereka. Walau sesekali Ibu mengumpat karena aku juga sering mencuri makanan. Dan hanya anak sialan itu, membela sekaligus menertawaiku.

“Dasar bodoh, kenapa tak kau minta saja padaku!” ujarnya bermuka marah, namun gemas, dan berakhir dengan usapan lembut di kepalaku.

Dia gadis pintar dan menawan. Jika kalian tahu, dia juga seorang penulis fiksi. Beberapa kali tulisannya dimuat di koran. Sejak tulisan pertamanya muncul di koran, Ibu jadi sering membeli koran dan dengan bangga sekali membacanya di ruang tamu. Aku juga akan setia menemani Ibu kala itu.

Suatu kali cerpennya tentangku. Entahlah, ia sendiri yang mengatakan.

“Kau tahu? Ini tentang dirimu!” katanya.

***

Malam telah terlalu larut. Kulihat Ibu telah tertidur di sofa. Aku sama sekali tidak mengantuk. Di luar gerimis telah berbuah hujan. Kilat telah disertai gemuruh, sesekali petir, manakutkan sekali. Kemana kau? Ke rumah lelaki berambut gondrong itukah? Sialan!

Ku tatap jam dinding. Jantungnya tak berhenti berdetak. Jarum jam pendek itu hampir lurus pada angka 11, ketika itulah bel berbunyi. Mungkin itu Swara, batinku. Aku segera bangkit dari sofa begitu juga Ibu yang baru saja terjaga. Ia membukakan pintu dengan persiapan hangat pelukan yang akan segera ia ungkapkan. Bahkan, hampir saja berujar, “Swara, kenapa kau lama sekali? Ibu sangat merindukanmu!”. Tetapi seketika berhenti saat yang berdiri di depan pintu adalah seorang lelaki berbaju serba putih. Ia mengendarai mobil, juga putih. Di depan mobil bertuliskan tulisan terbalik. Am-bu-lan-ce. Itukah yang disebut ambulance? Petugas rumah sakit? Swara, kenapa kau?

“Betulkah ini rumah Swara Sandova?” ujar lelaki berbaju serba putih itu.

“Ada apa dengan anakku?” tanya Ibu panik.

“Saya petugas Rumah Sakit Untuk Senang, keadaan anak Ibu sudah membaik. Ia mengalamai pendarahan yang tidak begitu serius.”

“Pendarahan?”

“Ya, tetapi syukurlah bayi dalam kandungannya baik-baik saja.”

Mata Ibu melotot dengan mulut setengah ternganga. Astaga, anak itu, gadis pintar dan menawan yang menyayangiku, dia seorang penulis, lulus cum laude dan dua tahun yang lalu melanjutkan studi ke Belanda. Apa yang kau perbuat di sana?

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Kabar Kepulangan Dari Belanda Reviewed by on . [caption id="attachment_15624" align="aligncenter" width="420"] Ilustrator: Ade Rahmat Syarif[/caption] Musik berputar, entah kali keberapa. Hanya bunyi petikan [caption id="attachment_15624" align="aligncenter" width="420"] Ilustrator: Ade Rahmat Syarif[/caption] Musik berputar, entah kali keberapa. Hanya bunyi petikan Rating: 0

Permalink : https://wp.me/p52sAd-43Z

Tinggalkan Komentar

scroll to top