Beranda Berita

Jimly Asshidiqi : Percuma Berkacamata Tebal tapi tidak bisa Membaca Kehidupan

Jimly Asshidiqi, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia saat berorasi ilmiah dalam Peluncuran Buku dalam Rangka 50 Tahun Saldi Isra di Convention Hall Universitas Andalas (Unand), Kamis (8/11/2018).

gentaandalas.com- “Percuma berkacamata tebal karena sering membaca, tapi tidak bisa membaca kehidupan,” kata Jimly Asshidiqi, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia saat berorasi ilmiah dalam Peluncuran Buku dalam Rangka 50 Tahun Saldi Isra di Convention Hall Universitas Andalas (Unand), Kamis (8/11/2018).

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia, Indonesia seharusnya memiliki sumber daya manusia yang juga terbesar ke empat di dunia, atau dengan kata lain, Indonesia memanfaatkan bonus demografinya.

Jimly mengatakan bahwa tingkat produksi serta konsumsi buku di Indonesia masih sangat rendah, bahkan dibandingkan dengan Malaysia yang merupakan tetangga yang paling dekat. Tingkat konsumsi buku yang rendah tersebut dikarenakan masih rendahnya minat baca pada masyarakat Indonesia sendiri. Dia mengatakan Indonesia hanya menerbitkan 30 ribu judul buku setiap tahun.

Menurut Jimly, sangat disayangkan jumlah penduduk Indonesia yang banyak tetapi tidak ada bobotnya. Selain itu, untuk menjadi negara yang besar, masyarakat tidak hanya harus memiliki minat baca dalam artian harfiah saja, tetapi memiliki makna yang sangat luas.

Seperti dalam ajaran Islam dalam surah Al-alaq yang mengajarkan manusia untuk membaca pada ayat pertamanya. Di sini bukan berarti hanya membaca buku atau kitab, tetapi juga membaca kehidupan. Banyak orang yang suka membaca, tetapi masih tidak mengerti dengan kehidupan ini. Itu dikarenakan mereka hanya membaca apa yang tertulis saja, bukan membaca apa yang tidak tampak, seperti kehidupan.

Khairunnisa, mahasiswa Hukum 2017, salah satu peserta dalam acara tersebut merasa sangat beruntung bisa bertemu dan melihat langsung orang-orang hebat yang biasanya hanya dilihat di televisi. Segala hal yang dikatakan oleh orang-orang tersebut, terutama Jimly Asshidiqi adalah hal yang sangat bermanfaat sekali menurutnya.

“Saya adalah orang yang tidak begitu suka dengan kegiatan membaca dan menulis selama ini, namun setelah saya mendengar penuturan tadi, saya merasa harus segera menata kembali hidup saya dan akan menaruh perhatian yang lebih terhadap membaca dan menulis,” katanya.

Dalam memeperingati ulang tahun Saldi Isra yang ke-50 serta peluncuran beberapa buku Guru besar Fakultas Hukum Unand tersebut, Jimly berharap agar semua insan intelektual bisa mengikuti jejaknya yang sangat produktif dalam menulis buku serta jurnal dalam media lokal dan nasional.

“Kegiatan menulis juga merupakan tradisi intelektual bagi semua orang, karena dengan membiasakan diri untuk menulis akan sangat baik untuk melatih daya ingat. Menulis berfungsi untuk mengikat wawasan dan ilmu yang didapatkan agar tidak lepas begitu saja,” ujarnya

Reporter : Mita Mailini

Editor: Pitnia Ayu Saputri

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here