Beranda Berita

Indonesia Aman dari Virus Corona?

gentaandalas.com- Sebanyak 427 jiwa telah menjadi korban dari virus novel corona per 4 Februari 2020, berdasarkan data dari 2019-nCoV Global Cases. Kebanyakan korban jiwa tersebut berasal dari Cina, selebihnya satu dari Philipina dan satu dari Hong Kong. Di hari yang sama pula sebanyak 20.626 kasus telah dikonfirmasi dari 27 negara di berbagai belahan dunia.

Australia dan beberapa negara di Asia Tenggara sudah ada yang melaporkan penyebaran virus corona ini, seperti Singapura, Philipina, dan Thailand. Meski demikian, sampai saat ini Indonesia belum melaporkan adanya infeksi akibat virus tersebut. Dosen epidemiologi Universitas Andalas Yudi Pradipta mengatakan bahwa kondisi geografis Indonesia memungkinan menjadi penyebab mengapa 2019-nCoV ini tidak menginfeksi masyarakat Indonesia.

“Di Indonesia memang belum ada kasus yang dilaporkan, hanya ada suspect (dugaan). Kita juga tidak bisa memastikan benar-benar tidak ada atau belum terlacak saja, karena kondisi geografis kita yang luas, sehingga akan mempengaruhi pelacakan kasus. Tingkat kewaspadaan negara di pelabuhan dan bandara dengan melakukan scanning pada orang yang datang dari luar negeri juga dapat berpengaruh terhadap penularan virus ini di Indonesia,” ujarnya saat ditemui di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand pada Minggu, (02/02/2020).

Selaras dengan Yudi, Dokter spesialis paru dari RS M. Jamil Padang, Irvan Medison berpendapat bahwa proteksi dari pemerintah Cina dan Indonesia bisa menyebabkan Indonesia masih terlindungi.

BACA JUGA:  Izin Kegiatan Malam Masih dalam Fase Perhatian

“Bisa saja karena adanya pelarangan bepergian dari pemerintah Cina bagi rakyatnya untuk keluar negeri, begitu juga pemerintah Indonesia dari awal sudah ada proteksinya seperti scanning di pintu masuk negara dan pelarangan bepergian ke wilayah yang terjangkit virus, serta intensitas bepergian negara Indonesia ke Cina tidak setinggi negara Thailand dan Singapura,” ujarnya saat diwawancarai di Rumah Sakit Yos Sudarso pada Minggu, (02/02/2020).

Kemudian untuk kemungkinan lolos dari thermal scanner yang ada di pintu masuk negara, baik Yudi maupun Irvan sama-sama berpendapat bahwa hal itu tidak bisa dipastikan, mengingat masa inkubasi dari virus tersebut cukup lama, yakni satu hingga dua minggu.

“Kita tidak bisa pastikan karena masa inkubasi virus ini. Masa inkubasinya berkisar dua sampai 14 hari. Jika ada orang yang berasal dari wilayah yang terkena kasus itu, patut dicurigai. Namun kita juga tidak bisa langsung men-judges orang tersebut jika tanpa gejala,” kata Irvan.

Gejala serangan virus 2019-nCoV, hampir sama dengan gejala SARS dan MERS yakni batuk, demam, pilek, dan sesak nafas serta gejala lain yang mengikuti seperti infeksi. Sedangkan cara penularannya dapat terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Untuk kecepatan penyebarannya, lebih cepat ditularkan dari manusia ke manusia.

“Kecepatan penyebarannya berbeda dibandingkan dengan virus flu burung. Jika flu burung hanya berpindah dari hewan ke manusia, maka virus 2019-nCoV dapat menular dari manusia ke manusia. Itulah yang menyebabkan penyebaran corona cepat,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Pembangunan Lahan Parkir Baru, Segera Dirampungkan

Meski hingga kini Indonesia belum ada konfirmasi terjangkit virus 2019-nCoV, namun masyarakat tetap ada yang merasa was-was atau merasa terinfeksi. Sebagai dokter spesialis paru, Irvan mengungkapkan bahwa ia pernah menerima keluhan dari pasien yang mengkhawatirkan dirinya terjangkit virus tersebut karena sempat berkontak dengan wisatawan  dari Cina.

“Ada pasien yang mengeluhkan demam setelah kontak dengan wisatawan Cina. Jika dilihat dari ciri suspect corona yaitu adanya demam lebih dari 38 derjat celcius, batuk, dan pilek serta sesak nafas, maka ia tidak memenuhi satupun dari ciri tersebut.” ujarnya.

Yudi mengatakan bahwasannya Kementerian Kesehatan sudah mulai melakukan koordinasi dari pusat ke Puskesmas tentang mengatasi virus ini seandainya ada yang teridentifikasi. Bagaimana sistem pelaporan dan penanganan kasusnya.

Ditengah isu virus corona yang menggemparkan, hoaks seputar corona tersebut juga banyak beredar, Yudi berharap masyarakat lebih teliti dalam membaca berita dan tidak mudah percaya dengan informasi yang belum tentu kebenarannya.

“Jangan percaya terhadap berita hoaks yang meresahkan, apalagi infomasi yang belum ada penelitiannya. Pastikan isu itu valid, terkait virus corona bisa mengacu pada informasi dari WHO, ” katanya.

 

 

Reporter: Icha Putri dan Geliz Luh Titisari

Editor: Rahmadina Firdaus

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here