Beranda Berita

IMA Sumbar Gelar Seminar Nasional, Bedah Buku, dan Peluncuran Yayasan Chatib Sulaiman

Salah satu presentator sedang menyampaikan materi di DILo Padang, Sabtu (19/1/2018). (Foto: Ramadanil Fajri)

gentaandalas.com- Indonesia Marketing Asociation (IMA) Chapter Padang, Sumatera Barat (Sumbar) menggelar Seminar Nasional, Bedah Buku, dan Peluncuran Yayasan Chatib Sulaiman di Digital Innovation Lounge (DILo) Padang, Gedung Telkom Witel Sumbar Lantai 2, Sabtu (19/1/2019), dalam rangkaian mengenang 70 tahun gugurnya Chatib Sulaiman sekaligus pengusulan Chatib Sulaiman sebagai Pahlawan Nasional.

Seminar ini menghadirkan Kepala Bidang Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, Muji Susilawati, mewakili Gubernur Sumbar sebagai pembuka kegiatan, dan presentator-presentator sejarawan dari Sumatera Barat, Amril Amir, Asvi Warman Adam, dan Wannofri Samry. Untuk peluncuran bedah buku menghadirkan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit.

Salah satu presentator, Asvi Warman Adam, dalam presentasinya menyatakan bahwa Chatib Sulaiman, seseorang yang berjasa dari Sumatera Barat, patut diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Hal ini merujuk pada UU Nomor 20 tahun 2009 tentang syarat seseorang mendapat gelar Pahlawan Nasional.

“Dalam pengusulan Pahlawan Nasional, penting untuk mengajukan alasan-alasan yang kuat, kemudian perlunya tekanan dalam pengusulan tersebut,” katanya.

BACA JUGA:  Seminar Nasional “Psychological First Aid di Negeri 1001 Potensi Bencana”

Kemudian, presentator lainnya, Amril Amir, mengatakan bahwa menguak sejarah pahlawan dari Sumatera Barat identik dengan pembangunan Republik Indonesia. Ia juga menampilkan video yang berisi sejarah untuk memberikan pandangan pada peserta seminar agar sadar bagaimana perjuangan pahlawan untuk membangun bangsa Indonesia ini. Setelah itu, ia menjelaskan bahwa mengingat sejarah harus ingat tonggak sejarah.

“Mengenang sejarah kita harus mengingat kembali terhadap tonggak sejarah seperti halnya Palagan Perjuangan, berdirinya INS Kayu Tanam pada 31 Oktober 1926, Pemerintah Darurat RI, dan tokoh Burhanudin yang memiliki peran tersendiri untuk RI,” jelasnya.

Berbeda dengan Asvi Warman Adam, ia menjelaskan bahwa strategi pengusulan untuk Pahlawan Nasional tidak cukup hanya dengan memberikan persyaratan yang telah diberikan oleh Kementerian Sosial jika melalui seminar.

BACA JUGA:  Seminar Nasional “Psychological First Aid di Negeri 1001 Potensi Bencana”

“Untuk mengajukan strategi sebagai Pahlawan Nasional, kita tidak cukup memanfaatkan persyaratan yang diberikan oleh Kementerian Sosial melalui seminar, akan tetapi juga harus memenuhi persyaratan tertentu seperti adanya tekanan yang kuat dan alasan yang kuat juga,” jelasnya.

Kemudian, muncul pertanyaan dari salah satu peserta yang tertarik dengan pengusulan Chatib Sulaiman sebagai pahlawan nasional, Wira Aksono.

“Apakah ada cara lain untuk memberikan gelar tanda jasa kepada pahlawan? Karena sebaiknya ada cara baru dalam pemberian gelar pahlawan tersebut, agar tidak ada sistem tebang pilih dalam pemberian gelar itu,” tuturnya pada presentator.

Menanggapi pertanyaan yang diajukan Wira Aksono, Wannofri Samry memberikan pernyataan bahwa ada dua hal dalam pemberian gelar tersebut. Pertama, caranya adalah menghargai pahlawan secara substansial. Kedua, mengangkat pahlawan secara formalitas melalui undang-undang.

Reporter : Ramadanil Fajri dan Nadya Satya Dilova

Editor : Nurul Pratiwi

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here