Beranda Aspirasi

Hati-hati! Sampah Makanan!

Dok. Pribadi

Oleh: Mulia Sinta Dewi*

Di era milenial ini adalah suatu hobi atau kebiasaan bagi para penikmat sosial media untuk mengabadikan makanan yang dibeli. Bahkan, banyak akun-akun media sosial yang bermunculan khusus untuk berbagi foto atau video makanan. Masyarakat juga dimudahkan dalam berbelanja makanan dengan hadirnya ojek online yang melayani jasa pembelian makanan.

Namun sayangnya, budaya konsumtif ini tidak dibarengi dengan kesadaran akan sampah yang dihasilkan akibat menyisakan makanan yang dikonsumsi. Menurut Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia adalah pembuang makanan terbesar kedua di dunia, menyia-nyiakan hampir 300 kilogram makanan per orang setiap tahun. Indonesia berhasil mengungguli negara maju, seperti Amerika Serikat, yang menghasilkan sampah makanan sebesar 277 kilogram per orang setiap tahunnya dan kalah dari negara minyak, Arab Saudi, dengan produksi sampah makanan mencapai 427 kilogram per tahunnya.

Hal ini menandakan rendahnya kesadaran untuk bijak dalam memperlakukan makanan. Kita begitu bersemangat memesan tanpa tahu nasib akhir makanan yang kita pesan masih banyak yang bersisa dan tidak sanggup untuk dihabiskan. Fakta masyarakat Indonesia membuang begitu banyak makanan merupakan ironi, karena 19,7 juta orang di negara ini masih menderita kekurangan gizi, menurut laporan EIU.

BACA JUGA:  Rangkaian Pekan Seni Bermatematika Himatika Unand

Penyebabnya tidak lain adalah faktor ekonomi. Dilansir juga bahwa lebih dari 36 persen anak-anak Indonesia menderita penurunan pertumbuhan, karena kekurangan gizi yang berkepanjangan. Di sisi lain kita justru membuang makanan dengan berbagai alasan. Entah karena rasanya yang tidak pas di lidah, terlalu banyak mengambil makanan, mual, atau makanan yang tidak habis pada acara pesta yang sangat sering terjadi, dan lain sebagainya.

Sampah makanan sendiri merupakan salah satu penyumbang gas methan terbesar. Gas ini 21 kali lebih berbahaya dibandingkan gas karbondioksida yang merupakan gas efek rumah kaca dan menyebabkan pemanasan global. Bila Indonesia dapat mengurangi 20% sampah makanan dalam kurun waktu 12 tahun, maka 18 juta ton gas efek rumah kaca dapat dikurangi.

Sebenarnya, bukan hanya makanan yang telah jadi, bahan mentah juga sering terbuang percuma. Hal ini dikarenakan distribusi bahan yang lamban dan infrastruktur yang kurang memadai. Seringkali sayur dan ikan segar telah membusuk selama perjalanan. Akhirnya, bahan menjadi tidak layak jual, apalagi untuk dikonsumsi.

Solusi

Di Indonesia, kini mulai bermunculan gerakan sosial seperti  A Blessing to Share dan Garda Pangan untuk menyelamatkan makanan yang tersisa, sehingga dapat mengurangi sampah makanan sekaligus mengentaskan masalah kelaparan dengan membagikan makanan berlebih kepada masyarakat yang kurang mampu.

BACA JUGA:  Sukri Umar: Jurnalis Profesional dimulai dari Proses Profesional

Masalah ini tentunya bisa kita selesaikan bila kita mau bijak dalam memperlakukan makanan. Sewaktu kecil kita pasti sering diingatkan oleh ibu untuk tidak menyisakan makanan.

“Ancak kurang, bisa tambah, pado nasi tabuang”

Namun nampaknya, nasihat itu kian tergerus seiring berjalannya waktu. Kita tak bersyukur, diberi kesempatan untuk menikmati makanan tiga kali sehari. Kita lupa dengan saudara kita, rakyat Gaza yang sengaja berpuasa karena sulit menahan rasa lapar, atau negara Somalia yang telah berlangganan dengan masalah kelaparan akut.

Sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran pada Surah Al Isra ayat 27, bahwa sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. Bijaklah terhadap makanan, sehingga kita tidak digolongkan ke dalam orang yang pemboros. Kita tahu bahwa di setiap  makanan ada berkah, namun kita tidak tahu di butiran nasi yang mana keberkahan itu diberikan. Ayo, mulai saat ini kita habiskan makanan hingga butir terakhir.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Teknik Lingkungan 2015 Fakultas Teknik Universitas Andalas

 

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here