Beranda Aspirasi

Harapan Dibalik Manfaat Sebuah Buku

Foto: Endrik Ahmad Iqbal

*Endrik Ahmad Iqbal

Dunia sudah banyak berubah dari tahun ke tahun, perubahan demi perubahan terjadi karena adanya sumber yang menjadi acuan bagi peradaban dunia ini untuk dapat tumbuh, berkembang, memperbaiki dan  menjauhkan diri dari rasa gagal, serta diperkuat dengan percobaan demi percobaan menuju jalan keberhasilan. Semua itu sudah termaktub dalam setiap buku yang menyajikan sumber ilmu pengetahuan dan  bahan acuan untuk dapat terus berkembang.

Setiap tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku se-dunia, momen ketika semua orang mengenang kembali betapa berharga dan berjasanya buku bagi peradapan dunia ini. Mengutip dari laman perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya bahwa awal mula hari buku berawal dari peringatan kematian Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal 23 April dan diperingati pertama kali oleh para pedagang buku di Spanyol. Miguel sendiri merupakan seorang penulis di Spanyol. Kemudian oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menjadikan tanggal 23 April sebagai peringatan hari buku sedunia.

Bukan tanpa alasan kematian Miguel diperingati oleh pedagang Spanyol dan pengukuhan yang dilakukan UNESCO, tapi  mengingat betapa besarnya peran buku hingga saat ini, meski hampir bisa dikatakan disaingi oleh media baca elektronik. Namun tetap saja, fungsi dan keberadaan buku belum dapat digantikan oleh apapun.

Dikutip dari laman yang sama, Indonesia mulai memperingati hari buku sejak tahun 2006. Forum Indonesia Mengajar (FIM) yang mula-mula berinisiatif untuk memperingati hari buku di Indonesia. Dari sinilah mulai menyebar pengaruh positif tentang pentingnya sebuah buku dan Indonesia mulai mengenal peringatan hari buku hingga kini.

Sebagai generasi muda dan melihat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di dunia saat ini terlebih di Indonesia, banyak yang terlena dengan kekuatan sebuah buku. Banyak perpustakaan yang berdiri di Indonesia, namun fungsinya beralih dari fungsi utamanya. Beberapa orang memanfaatkannya sebagai tempat tongkrongan atau sekedar untuk mencari wifi dan berselancar di media sosial. Padahal membaca buku meski barang sedetik dapat menambah setidaknya sedikit ilmu. Prinsipnya ilmu itu tidak bisa masuk sekaligus ke dalam otak seseorang, anak-anak hingga remaja harus sekolah dulu atau belajar cukup lama agar menjadi tau, meski demikian tak sepenuhnya ilmu itu dapat dicerna, sebab itulah kenapa pentingnya membaca buku.

Para ilmuan banyak yang memanfaatkan ilmu dari sumber tertulis. Berbeda dengan ilmu yang berasal dari internet seperti saat ini, terkadang informasi yang disajikan belum tentu sepenuhnya benar, apalagi mengingat semua pengguna internet dapat membuat tulisan dan mempublishnya di Internet tanpa tahu kebenaranya. Ibaratnya setiap tulisan yang telah diposting nantinya akan menjadi tulisan yang yatim dan piatu dan tidak ada pertanggung jawabannya dari penulis yang berasal dari internet, karena banyak informasi yang disampaikan tidak menuliskan sumbernya. Sementara buku tidak semudah itu dapat diperbanyak, karena dilindungi oleh undang-undang dan terjamin kemurniaan yang disajikan dalam buku.

Tidak sepenuhnya semua buku itu aman dari tangan-tangan jahil ataupun murni seluruh isinya. Terkadang banyak yang memanfaatkan buku untuk keuntungannya sendiri. Seperti kasus plagiarisme yang dipublish oleh Tribunnews, tercatat sekitar 808 kasus palgiarisme tahun 2013 pada sertifikasi dosen menurut Kemendikbud. Dari sana saja bisa dilihat bahwa buku, karya ilmiah, maupun informasi di internet dapat terancam plagiarisme. Namun, buku dirasa lebih aman, karena tidak mudah dicopy dalam waktu singkat, tidak seperti di internet yang langsung klik semuanya bisa dicopy.

Banyak manfaat yang dapat dirasakan dari buku. Sejak kecil anak-anak di Indonesia belajar dengan buku, bahkan dibangku kuliah pun masih menggunakan buku. Ini bermakna buku memberikan ilmu sejak manusia mulai belajar membaca, hingga menjadi kakek nenek nanti. Buku mengandung banyak ilmu dan nilai-nilai yang beragam,  banyak penulis yang tidak hanya menerbitkan buku untuk pelajaran saja. Ada yang menerbitkan buku untuk menyampaikan seni, pengalaman, kisah, bahkan karya tulis. Buku juga dijadikan sebagai referensi untuk penulisan buku baru, penulisan karya ilmiah dan hal lainnya.

Melalui buku banyak kesuksesan yang diraih, namun Indonesia masih kurang dalam menghargai kehadiran sebuah buku. Hal ini dibuktikan dari studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 yang menyatakan Indonesia peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat dalam membaca. Miris, selama ini mungkin banyak yang beranggapan budaya membaca dan keseharian yang dilakukan saat di sekolah sudah dapat menyumbang betapa besarnya minat membaca masyarakat Indonesia. Sayangnya kenyataan itu bertolak belakang, Indonesia masih kurang dalam minat membaca dan memanfaatkan buku sebagai sumber referensi, padahal Indonesia sering melahirkan orang-orang hebat dan buku adalah alasan sebuah harapan  untuk kesuksesan itu ada.

Beberapa hal yang cukup urgent dan perlu untuk diperbaiki agar meningkatkan budaya baca dan mulai memanfaatkan buku agar hari buku terasa semakin bermakna adalah sering membaca, karena membaca adalah jendela dunia. Jangan berpatokan buku adalah kertas tebal berhalaman ratusan lembar, tapi buku memiliki beragam gaya bahasa, tulisan, ilmu dan sajian pada pembaca yang dapat dinikmati sesuai selera.

Saat ini media elektronik sudah menyediakan sumber ilmu yang tepercaya, tapi  membaca buku tentu lebih terpecaya, karena dampak dan manfaat membaca buku itu lebih terasa bagi pembaca. Sempatkanlah membaca buku, jika jenuh membaca buku dalam waktu yang lama ganti topik bacaan atau buat jadwal kapan harus membaca buku. Jadikan buku benar-benar sebagai sumber ilmu, dengan kata lain apabila terdapat keraguan maka cobalah untuk sabar membaca, sehingga informasi yang diterima akan lebih falid ketika membaca dari buku.

Intinya perlu kesabaran dan menumbuhkan rasa cinta terhadap buku, sehingga saat membaca bukan rasa jenuh yang muncul, melainkan keinginan diri yang haus akan informasi dan haus membaca, semoga semakin banyak membaca akan membuat Indonesia menjadi negara yang cerdas  dapat mejalankan visi dan misinya serta dapat menjadikan buku sebagai andalan dalam sumber bacaan. Layaknya pemimpin Indonesia seperti Moh Hatta dan Ir Soekarno yang rajin mengoleksi dan membaca buku sehingga wawasan mereka beragam dan membuat mereka layak menjadi orang yang dipercaya dan memimpin Indonesia.

Selamat hari buku se-dunia!

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Agroteknologi 15

Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here