Beranda Aneka Ragam

Hakikat Tertinggi dari Mencintai adalah Untuk Melepaskan

Identitas Buku                      

Judul              : Arkais (Nona Teh dan Tuan Kopi)

Pengarang      : Crowdstroia

Penerbit          : KataDepan

Tahun Terbit : September 2018

Tebal              : 374 Halaman

ISBN               : 978-602-5713-68-2

Resensiator    : Qudwatun Nisaa

Editor             : Nurul Pratiwi

 

“Hakikat tertinggi dari mencintai adalah untuk melepaskan”. Kalimat sederhana namun sarat makna yang ditulis Crowdstroia ini  selalu menghiasi novel pertamanya, Parak,  maupun sekuelnya,  Arkais. Penulis  yang akrab disapa Troia ini seakan ingin membuat pembacanya benar-benar memaknai kalimat tersebut.

Setelah sukses dengan novel Parak, kini Arkais hadir sebagai sekuelnya untuk menjawab rasa penasaran pembaca bagaimana kelanjutan kisah Nona Teh dan Tuan Kopi. Dalam novel pertamanya, Troia mengisahkan Si Nona Teh, Varsha, gadis berusia 30 tahun,  dengan latar belakang keluarga  yang mempunyai “penyakit” perselingkuhan dan itu dilakukan oleh sang ayah dan kedua kakak laki-lakinya yang sudah berkeluarga. Sikap dingin dan keras sang ayah menjadikan Varsha tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan tangguh, tidak bergantung pada siapapun. Dalam bagian akhir novel  pertamanya, Troia membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan kisah Varsha dan Si Tuan Kopi Regen yang dipertemukan dengan berbagai macam momen yang tak terduga. Kemudian, dikisahkan juga bahwa Regen pergi tanpa memberi tahu keberadaannya pada siapapun, kecuali pada Varsha.

Dalam Arkais, Troia memulai cerita dengan mengisahkan masa lalu Regen yang waktu kecil berperilaku tidak wajar untuk anak seusianya yang kemudian hari perilaku tersebut diketahui bernama conduct  disorder, sebuah gangguan mental yang menjadi riwayat awal diagnosis untuk psikopat. Sedari kecil, Regen memang tak pernah diurus oleh kedua orang tua kandungnya. Ia hidup bersama nenek dan Griselda, tantenya, yang terlihat kurang peduli dengan Regen. Hal itu membuat suami Griselda, Awan, memutuskan untuk merawat dan mengasuh Regen seperti anak sendiri.

Awan membawa Regen kepada seorang psikiater bernama dr. Krüger. Di sana, mereka bertemu dengan Hartanti, seorang psikolog yang merupakan sahabat dr. Krüger. Regen kecil dirawat Hartanti selama masa terapinya, sehingga Regen menemukan sosok ibu yang ia butuhkan pada diri Hartanti. Intensitas pertemuan Awan dan Hartanti selama masa terapi Regen menimbulkan perasaan cinta yang dirasakan Awan pada Hartanti, yang seharusnya tidak boleh terjadi. Dalam bagian ini, pembaca dibawa ikut merasakan chemistry antara Awan dan Hartanti. Cara Troia menuliskan kisah Awan dan Hartanti dapat menciptakan kondisi yang dramatis, namun tidak berlebihan dan membuat pembaca merasa terkesan.

Dalam novel ini, pembaca juga dibuat fokus pada mana yang salah dan mana yang benar dan itu  membuat pembaca tersadar, jika kita berada di posisi itu, akan bagaimanakah kita? Troia benar-benar membuat kondisi dalam cerita ini seperti kondisi sebenarnya yang sering kita temui di dunia nyata.

Suatu hari, Awan memutuskan untuk pindah ke Indonesia bersama Regen, untuk tinggal bersama keluarganya di Indonesia. Beberapa lama kemudian, Awan kembali ke Jerman untuk menghadiri pernikahan dr. Krüger . Tanpa disangka Awan mengalami suatu tragedi, hingga Regen sangat terpukul  mendengar kabar tersebut.

Gaya penulis dalam menceritakan kesedihan Regen  membuat  pembaca merasa sedih, bahkan meneteskan air mata. Pembaca terbawa emosi yang semakin lama semakin naik, hingga mencapai klimaks. Dalam novel ini, pembaca dapat merasakan bahwa hubungan keluarga tidaklah harus sedarah dengan kita.

Kisah Regen tak berhenti sampai di sana. Sejak kembalinya Regen dari Jerman saat ia pergi tanpa kabar, hubungan Varsha dan Regen semakin dekat. Penulis mulai membawa pembaca menikmati setiap adegan antara Varsha dan Regen dengan menciptakan momen tak terduga yang berkaitan antara Varsha dan Regen, sehingga chemistry keduanya sangat dirasakan oleh pembaca. Celetukan celetukan kecil ataupun pikiran yang terbersit dalam  hati Regen mengenai pesona Varsha membuat pembaca gemas. Penulis yang pernah memenangkan The Wattys 2016 ini sangat lihai  mengaduk-aduk emosi pembaca.

Troia berhasil menciptakan keadaan sesuai dengan realitas yang tanpa sadar pernah kita jumpai  dalam kehidupan. Kesungguhannya dalam membuat cerita ini pun patut untuk diapresiasi. Penulis sangat memperhatikan hal-hal kecil, seperti arti nama setiap tokohnya yang berhubungan dengan isi cerita.

Langkah penulis dalam membuat kisah Regen yang sangat menyayangi Hartanti, walaupun bukan ibu kandungnya dan juga saat bagaimana rasa empati Regen hilang saat mengetahui ibu kandungnya dihukum mati karena tindakan kriminal adalah hal yang menarik. Penulis mengambil jalan cerita yang sangat jarang terpikirkan oleh orang lain.

Di balik apiknya kisah novel ini, juga terdapat kekurangan, seperti ada beberapa kata  bahasa Jerman dalam dialog yang artinya tidak ditulis pada catatan kaki. Pembaca dibuat sedikit kebingungan mengenai maksud kata tersebut. Selain itu, juga ada beberapa kata yang  typo dan penggunaan tanda baca yang tidak tepat. Pada salah satu bab, ada bagian yang kurang sesuai,  seperti “mobil yang melaju saat lampu merah sudah menyala.”

Walaupun demikian, novel yang memiliki alur campuran  ini sangat bagus untuk dibaca bagi anda yang suka dengan alur cerita yang jauh dari kata sederhana dan cerita roman picisan. Selamat Membaca!

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here