Beranda Berita Gambir, Tumpuan Hidup Kami

Gambir, Tumpuan Hidup Kami

12248211_1168132213214394_4941038675552516570_oIni Oktober, masih dengan kabut asap transferan dari Riau yang menyelimuti. Jarak yang tidak terlalu jauh dengan provinsi Riau dibandingkan daerah-daerah lain di Sumatera Barat seperti kota Padang dan kota Pariaman membuat kabut asap di nagari ini sedikit lebih tebal. Keadaan itu tidak membuat semangat masyarakat nagari ini surut untuk melanjutkan rutinitasnya pergi bertani/berladang. Nagari yang bernama Koto Lamo ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kec. Kapur IX-Kab. Lima Puluh Kota. Nagari ini berjarak sekitar 98 km dari kota Payakumbuh atau sekitar 76 km dari pusat pemerintahan Kab. Lima Puluh Kota, Tanjung Pati.

Dikelilingi oleh bukit-bukit, nagari ini seperti sebuah stadion sepakbola. Hamparan hijau terbentang di bukit-bukit tersebut bak permadani. Itu bukan hutan tetapi tanaman gambir. Nagari ini bisa dibilang nagari yang terpelosok, dikarenakan jalan ke nagari ini masih belum beraspal  dan masyarakat yang sebagian besar tingkat pendidikannya rata-rata tamatan SD atau tidak tamat SD dan banyak yang tidak mengenyam bangku sekolah.

Dikarenakan bukit-bukit tersebut ditanami gambir, cuaca di nagari ini terbilang cukup panas di musim kemarau. Karena pohon-pohon di perbukitan sudah banyak ditebangi untuk berladang oleh masyarakatnya. Ya, masyarakat nagari ini menggantungkan hidupnya dengan bertani gambir atau yang biasa disebut dengan mangampo/ngampo oleh masyarakat disini. Aktivitas mangampo adalah mata pencaharian paling utama di nagari ini. “Kalau ndak mangampo, ndak iduik wak do,” ujar Erman warga setempat yang diwawancarai pada 3 Oktober 2015.

Mangampo diperuntukkan bagi kaum Adam karena pekerjaan ini bisa dibilang pekerjaan berat. Kaum perempuan atau ibu-ibu biasanya berprofesi sebagai pembersih dari ladang atau biasa disebut basiang. Banyak anak-anak yang sudah putus sekolah juga ikut pekerjaan berat ini (mangampo). Merupakan pemandangan yang biasa bagi masyarakat setempat jika anak-anak yang berusia 17/18 tahun ke atas yang tidak sekolah pergi mangampo. Tapi, ini merupakan pemandangan yang miris dari aspek kemanusiaan.

Sebelum matahari terbit dari ufuk timur, sebagian besar kaum bapak/ibu sudah berangkat ke ladang. Bukan tidak ada pilihan lain untuk pekerjaan, hanya saja bertani gambir lebih menjamin kehidupan mereka daripada pekerjaan lain seperti berdagang karena penghasilan dari bertani gambir jauh lebih besar daripada pekerjaan lain jika harga jual gambir mahal. Namun, di sisi lain, sebelum mendapatkan hasil yang besar harus ada dulu investasi awal yang besar. Investasi awal di sini yakninya membersihkan ladang dari semak-semak, pembibitan gambir, penanaman gambir, pembuatan rumah tempat mengolah daun gambir menjadi gambir atau biasa disebut rumah kampan dan menunggu waktu panen yang hampir 3/4 bulan lamanya.

Itu investasi awal bagi mereka yang baru ingin memulai berladang, tapi bagi mereka yang sudah memiliki ladang, tidak perlu berinvestasi sebanyak itu. Cukup dengan menyiangi atau membersihkan semak-semak yang mengerumuni tanaman gambir dan menunggu 3/4 bulan sebelum panen.

Untuk sekali panen, jika harga gambir mahal, laba bersih pemilik ladang bisa mencapai Rp5 juta dalam sekali panen. Berbanding terbalik jika harga gambir  murah dan tanaman gambir diserang hama, maka laba yang didapat hanya cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari sebelum panen berikutnya. “Kalau lai maha, tu lai gadang untuangnyo. Kalau murah, tu untuak iduik sahari-hari seh nyo,” papar Erman lagi.

Kab. Lima Puluh Kota khususnya Kec. Kapur IX dan Kec. Pangkalan Koto Baru merupakan penghasil gambir terbesar nasional (seperti dilansir dari http://bertuahpos.com/). Namun, kehidupan masyarakat di nagari ini (Koto Lamo) sangat lah miris. Karena bisa dikatakan sangat jauh dari kata maju. Itu disebabkan oleh permainan harga gambir oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab dan menyiksa petani. Masih banyak masyarakat yang terbelakang karena sulit membiayai sekolah anak mereka bahkan ada yang tak bisa menyekolahkan anak-anaknya karena penghasilan yang tidak menetap. “Yo payah nyakolahan anak kini, untuak makan yo payah,” cerita As seorang ibu rumah tangga dan petani gambir.

Harga gambir yang bisa dikatakan tergantung kepada harga pasar membuat nasib petani gambir luntang lantung. Hanya karena hasil yang besar ketika harga mahal-lah yang bisa membuat masyarakat di nagari ini sedikit bernafas lega. Karena ketergantungan terhadap hasil pertanian yang sangat besar di skala nasional ini, tidak dapat menjamin kehidupan mereka baik-baik saja.  Padahal hasil pertanian ini sejatinya diekspor keluar negeri, tapi harganya sangat murah dibeli dari tangan petani. Uluran tangan pemerintah sebenarnya sangat dibutuhkan agar harga tidak dipermainkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggunjawab tadi.

Berdasarkan hal itu, Erman menyampaikan harapannya terkait adanya berita yang berhembus tentang rencana pembangunan pabrik gambir. “Kaba-kabanyo lai ka dibangun pabrik gambia disiko, semoga seh lah, bia ndak murah gambia ko lai,” harap Erman.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, FISIP Universitas Andalas Angkatan 2012

1 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here