Dua Sisi Media Sosial: Kebahagiaan Dan Kecanduan

Ilustrasi yang menggambarkan adanya kecanduan media sosial yang dialami anak-anak. (Genta Andalas/Nurul Anisa Azwir)
Ilustrasi yang menggambarkan adanya kecanduan media sosial yang dialami anak-anak. (Genta Andalas/Nurul Anisa Azwir)

Telepon pintar atau yang kerap disebut Smartphone  sudah tak asing lagi bagi seluruh kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga usia lanjut sekalipun. Ketika membahas smartphone tidak akan lepas dari penggunaan media sosialnya.Terlepas dari segala kegunaan media sosial, kebanyakan orang setuju bahwa kehadiran media sosial akan membawa kebahagiaan baru bagi penggunanya. Apalagi, jika sudah tenggelam dengan berbagai macam hiburan yang sangat mudah diakses lewat ujung jari saja.

Kebahagiaan instan media sosial bisa membuat para penggunanya terjerumus dalam rasa ketagihan, kecanduan, hinga lupa waktu. Lalu, apa penyebab dan dampak  jika seseorang kecanduan media sosial? Bisakah kita jenuh dengan media sosial? Bagaimana mengelola waktu penggunaan gawai apalagi media sosial di masa pandemi? dan apa solusi supaya tidak kecanduan media sosial?. (Elvi Rahmawani, Mahasiswi Jurusan Sosiologi dan Natasya Salsabilla Festy, Mahasiswi Jurusan Ilmu Politik)

Jawaban:

Penyebab dan dampak kecanduan media sosial

Tidak ada lagi jarak di zaman yang serba canggih seperti saat ini. Semua orang dapat berinteraksi dengan mudah secara virtual, bahkan bebas berekspresi yang didukung dengan adanya live streaming dan hal-hal menarik lainnya. Segala fitur yang ada memunculkan kesan menarik bagi individu untuk menggunakan media sosal seperti facebook, twitter, instagram dan sebagainya untuk berkomunikasi ataupun berinteraksi, sehingga tak jarang berujung pada efek rasa ketagihan hingga lupa waktu.

Akses kemudahan media sosial dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir ini sangat meluas. Dalam kacamata psikologi, kajian mengenai social media addiction ini merupakan bagian dari internet addiction yang masih terus didalami. Para peneliti mengungkapkan  bahwa social media adiction akan memberikan impact atau dampak buruk jika penggunaan media sosial yang berlebihan dengan sistem gangguan mental seperti halnya depresi, kecemasan dan sebagainya. Konsep adiksi media sosial (kecanduan media sosial) tidak mutlak dialami semua orang karena ada faktor-faktor yang mempengaruhi individu hingga kecanduan.

Berdasarkan berbagai penelitian, penggunaan media sosial yang berlebihan sering merujuk pada berbagai gangguan mental seperi depresi dan anxiety (kecemasan). Misalnya saja saat cemas dan tidak tenang jika like di postingan menurun, apalagi sampai membuat susah tidur. Jika sudah mengganggu kegiatan normal sehari-hari seperti contoh tersebut, maka bisa dikatakan telah masuk dalam kategori kecanduan. Kategori ini menandakan terjadinya kerusakan di otak, terutama otak bagian depan yang mengatur permasalahan atensi, regulasi dan pengendalian diri, sehingga menjadikan diri susah fokus, tidak teratur, hingga pola tidur yang tidak jelas.

Intensitas penggunaan media sosial yang terlalu banyak akan mengurangi interaksi pada kehidupan nyata. Berdasarkan penelitian, interaksi tatap muka tidak bisa dikompensasikan dalam hanya sarana virtual saja. Dampaknya lagi-lagi merujuk kepada kondisi emosional ataupun psikologi seseorang. Sungguh disayangkan jika kondisi ini terjadi karena juga akan memberi dampak lain seperti tidak memiliki banyak teman, sehingga menimbulkan rasa kesepian.

Kejenuhan ketika menggunakan media sosial

Kejenuhan pada konteks ini diakibatkan karena individu merasa dirinya telah terisolasi dengan kegiatannya yang terus menerus menggunakan media sosial. Sehingga ia merasa bosan dan ingin keluar dari adiksi media sosial, bahkan ingin  memiliki banyak interaksi dengan orang lain dalam kehidupan nyata (real life). Hal ini berdampak kepada kondisi emosional dan psikologis seseorang, sehingga menimbulkan kejenuhan.

Penggunaan media sosial selama pandemi

Individu yang memiliki self esteem yang baik tidak akan terjerumus kepada adiksi medsos, misalnya individu yang dapat mengelola waktu dalam bermain medsos yang diimbangi dengan  rutinitasnya yang lain, serta tidak menjadikan media sosial sebagai sesuatu yang diprioritaskan.  Berbeda dengan individu yang miliki self esteem yang rendah, maka akan cenderung  mudah terjerumus kepada adiksi media sosial karena tidak ada kontrol diri dalam setiap kegiatan, sehingga bermain sosmed dapat  menjadi kebiasaan rutinnya. Rasa kecanduan dalam media sosial dapat diatasi lewat mencari aktivitas lain yang bermanfaat sesuai dengan minat. Solusi ini harus dibarengi dengan komitmen agar lebih memfokuskan diri kepada aktivitas lain yang bermanfaat agar individu tersebut dapat lebih produktif.

Cara mengatasi kecanduan media sosial

Seperti kecanduan lainnya, kecanduan media sosial juga memiliki langkah utama, yakni menjauhkan individu dari sumbernya. Jika belum memasuki tingkatan parah, maka kecanduan ini dapat diatasi melalui kontrol diri. Ini bisa dimulai dari menghapus media sosial yang membuat kecanduan (baik untuk jangka panjang ataupun sementara waktu) ataupun mengatur jadwal penggunaan media sosial. Kontrol diri juga bisa didapat dari lingkungan sekitar ataupun teman-teman yang mendukung. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

Pertama, milikilah goals (tujuan-tujuan) yang hendak dicapai. Karakteristik sebagian orang yang miliki adiksi media sosial dapat berupa tidak adanya goals untuk dicapai. Apalagi jika memiliki banyak kegiatan yang tak terjadwal.

Kedua, mengatur waktu untuk melakukan kegiatan. Hal ini akan melindungi diri kita agar terhindar dari hal buruk dan  mencapai tujuan kita. Hal kreatif untuk kontrol diri pun dapat dilakukan, seperti membuat tantangan “30 hari tanpa media sosial” bersama teman- teman. Jika ini dilanggar, maka berikan sanksi kepada diri kita agar kesalahan berupa pelanggaran tersebut tidak terulang lagi kedepannya.

Ketiga, jauhkan diri dari sumber(handphone), bisa juga dengan mematikan notifikasinya. Terakhir, yaitu dengan menciptakan lingkungan yang baik dan mempengaruhi kita untuk selalu melakukan kegiatan yang produktif. Misalnya dengan mencari beberapa teman untuk berdiskusi dan bercerita. Namun, jika dirasa tak sanggup dihadapi dengan pertolongan diri sendiri, ada baiknya ditangani oleh ahli dengan penanganan khusus seperti psikoterapi. Tahap ini memang lebih sulit untuk ditangani sehingga memerlukan bantuan para profesional.

Pada akhirnya, kecanduan media sosial dapat diatasi lewat komitmen dan usaha diri sendiri ataupun bersama lingkungan sekitar. Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial cukup mengkhawatirkan, maka mari kita mulai memperhatikan penggunaan media sosial sehingga tidak terjerumus ke tahap kecanduan. Kenali diri sendiri, dan cari tahu apa yang harus dilakukan.

*Diolah berdasarkan wawancara dengan Dosen Psikologi Universitas Andalas, Diny Amenike, M. Psi

By Genta Andalas

Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas Universitas Andalas.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *