Beranda Berita

DPRD Sumbar Terima Tuntutan Aliansi Sumbar Melawan

Tuntutan peserta aksi diterima oleh DPRD Sumbar, Rabu (25/9/2019).

gentaandalas.com- Tuntutan Aliansi Sumbar Melawan diterima oleh pimpinan sementara DPRD Sumbar, Irsyad Syafar serta beberapa anggota DPRD lainnya, dan ditandatangani langsung di depan peserta aksi dan tuntutan tersebut diteruskan ke presiden dan DPR RI melalui jasa pengiriman Pos Indonesia, Rabu (29/9/2019).

Aksi damai dalam rangka menuntut DPRD terkait isu yang menjadi polemik bangsa Indonesia tersebut, dimulai pada pukul 10.00 WIB dan diikuti oleh berbagai organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Aliansi Sumbar Melawan, diantaranya UKM PHP Unand, Bem NM FHUA, WKsoskem, UPI, NM FISIP Unand, Gema Tani, HMJ IP Unand, AN UNP, NM FIB Unand, LAM PK, GMNI Unand, UBH, ITP, WALHI, PUSAKO Unand, Luhak UMSB, SAKO, Bem FT UMSB, MAPALA FH UMSB, UNES, ISI Padang Panjang.

Abdis Fajri, selaku ketua umum UKM PHP Unand yang turut andil dalam aksi mengatakan tuntutan tersebut diantaranya; meminta presiden RI untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) terhadap UU KPK; pembatalan pembahasan RKUHP, RUU Pertanahan dan RUU lainnya yang tidak pro-rakyat; mengadili pelaku pembakaran hutan termasuk korporasi yang mendalanginya; mendesak DPRD SUMBAR setuju dengan tuntutan peserta aksi dan segera menyampaikan tuntutan ke pusat.

Pada pukul 14.00 WIB, atas permintaan peserta aksi, pihak DPRD Sumbar membuka ruang diskusi bagi mahasiswa dengan DPRD. Namun sayang, bersamaan dengan diskusi yang dilaksanakan di ruang khusus II gedung DPRD Sumbar, sejumlah mahasiswa aksi yang masih berada di luar mencoba untuk masuk ke dalam gedung. Aksi dorong mendorong pun terjadi antara mahasiswa dan pihak kepolisian.

Beberapa oknum mahasiswa yang berhasil masuk bahkan sempat melakukan tindak perusakan terhadap fasilitas yang ada di dalam ruang Rapat Paripurna dan juga ruangan-ruangan lainnya, seperti pemecahan kaca, perusakan meja dan kursi, dan pencoretan dinding. Namun aksi ini juga segera dihentikan oleh aparat kepolisian karena dinilai sebagai tindakan anarkis.

Seorang peserta aksi, Sherly Dwi Putri mengatakan pada awalnya ia terharu dan bangga mengikuti aksi ini. “Saat konvoy dari kampus, hampir semua warga sekitar pada ngasih dukungan atau sekedar menunjukkan jempol ke kami. Seakan-akan cuma mahasiswa yang menjadi harapan mereka untuk menyampaikan aspirasi. Tapi ya sayang, ada tindakan anarkis yang membuat suasana jadi chaos,” ujarnya.

Reporter: Nisa Ulfikriah, Sukma Hayati
Editor: Juni Fitra Yenti

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here