Home Aspirasi

Dipercundanginya Kampus

Ilustrasi : Fildzatil Arifa

Oleh: Abdis Sallam Fajri*

Dilansir dari harian Padang Ekspres tentang aksi begal yang menimpa mahasiswi Biologi FMIPA Unand saat melakukan aktivitas pengamatan pada 18 Juli lalu pukul 07.15 WIB di kebun bagian belakang milik Unand, menjadi catatan merah terhadap kampus yang dirasa gagal melindungi keamanan warganya.

Mahasiswa sebagai korban utama, lengahnya pengawasan dan rentannya lokasi tempat parkir menjadikan aksi curanmor dan begal merajalela. Pelaku seakan tidak takut dengan patroli yang ada di kampus ini. Tidak hanya kerugian materi, namun juga rasa trauma yang didapat oleh korban. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab? Keamanan kampus memang tanggung jawab bersama, namun tentu tidak terlepas dari peran pimpinan kampus itu sendiri dalam menyikapi kejahatan yang terjadi. Saat ini kampus seakan dipercundangi oleh aksi begal dan curanmor, karena kehilangan motor di dalam kampus tidak hanya terjadi sekali dua kali, namun beberapa kali dalam waktu yang berdekatan.

Walaupun saat ini belum memasuki proses perkuliahan, namun sekarang banyak mahasiswa yang berada di kampus karena adanya semester pendek (SP) dan juga kegiatan lainnya. Fokus belajar mahasiswa juga menjadi terpecah akibat memikirkan apakah helm atau motornya aman dari aksi curanmor.
Dalam dua bulan terakhir ini saja sudah terdapat lima aksi curanmor dan satu aksi begal dan semuanya terjadi di dalam kampus. Apakah kampus baik-baik saja? Tentu tidak, pihak kampus perlu secepatnya untuk berbenah diri dengan kejadian yang sudah terjadi. Berbanding terbalik dengan UKT dan Dana PI yang harus dibayarkan mahasiswa, yang mana dari tahun ke tahun semakin naik, sedangkan pembangunan yang ada belum terlihat dan keamanan mahasiswanya masih di ujung tanduk .

Lemahnya keamanan kampus saat musim liburan tidak dapat dijadikan alasan bagi pihak kampus untuk tidak memberikan keamanan yang semestinya, saat ini kartu parkir yang biasa diberikan saat setiap masuk gedung kampus tidak dijalankan, karena masih musim libur, akibatnya berdampak negatif terhadap keamanan, sehingga terjadilah kehilangan motor.

Saat kuliah pun kartu parkir banyak yang hilang, karena banyak terdapat di dalam dompet mahasiswa lebih dari satu kartu parkir, bahkan ada yang lebih dari tiga. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kawan-kawan mahasiswa agar mengembalikan kartu parkir. Jangan sampai kawan-kawan yang lain menjadi korban karena tidak kebagian kartu. Kejadian ini pernah terjadi menjelang libur semester. Kartu sudah mulai banyak yang hilang dan saat itu jumlah warga Unand yang masuk banyak, sehingga ada yang tidak mendapatkan kartu parkir.

Solusi untuk Keamanan Kampus

Kehilangan yang terjadi di dalam kampus berawal dari hal kecil, seperti pencurian helm, pencurian sepeda motor sampai aksi begal. Helm sering hilang disebabkan pelaku tidak dapat diidentifikasi karena berpakaian seperti mahasiswa. Oleh karena itu, helm haruslah disimpan di dalam jok motor atau dibawa ke dalam kelas.

Kampus dituntut secepatnya berbenah diri dalam mengatur kembali tata kelola parkir dengan cara pemasangan tali pada sekeliling parkiran motor di setiap fakultas, sehingga mempermudah dan memperlambat laju kendaraan, sehingga mempermudah satpam untuk melakukan pengawasan.

Saat ini kampus dengan mudahnya dimasuki oleh masyarakat umum, maka buku tamu adalah jawabannya. Memakai buku tamu untuk mengontrol keluar masuknya masyarakat dari luar kampus dan pemasangan stiker dengan logo Unand pada setiap motor mahasiswa juga dapat membedakan warga Unand dengan masyarakat umum.

Koordinasi yang baik harus terjalin antara satpam fakultas dengan satpam pusat, karena kebanyakan kehilangan yang terjadi berada di sekitar fakultas. Penambahan personil satpam dirasa perlu untuk ditempatkan di PKM agar adanya pergantian shift karena saat ini satpam yang berjaga di PKM hanya sampai jam empat sore, sedangkan setelah itu tidak ada pengawasan yang lebih ketat. Hal itu sudah terbukti dengan kehilangan sepeda motor saat malam hari di PKM. Kehilangan yang terjadi juga karena kurangnya penerangan yang ada di setiap tempat rawan pencurian, seperti di Gedung PKM , saat ini lampu parkiran PKM mati dan belum adanya perbaikan.

Untuk mempermudah dalam memantau situasi arus masuk kendaraan, maka CCTV dirasa sangat perlu diterapkan pada setiap gerbang masuk kampus. Pemasangan plang “KAMPUS DIAWASI CCTV 24 JAM” itu dapat memperlemah optimisme maling dalam melancarkan aksinya. Tidak hanya itu, kesadaran pribadi untuk kunci ganda perlu diterapkan dan mengunci stang kanan bagi motor matic.

Sebelum solusi di atas dilaksanakan, terlebih dahulu dibentuk sistem keamanan yang terintegrasi. Maksudnya, jika saat ini terdapat lima gerbang untuk akses keluar masuk, maka dibuat satu gerbang saja untuk keluar masuk kendaraan. Bisa dengan menutup gerbang lain dengan portal saat malam hari.

Walaupun beberapa solusi tadi berdampak pada pengeluaran keuangan bagi rektorat, namun pengeluaran tersebut tidak sebanding dengan angka kehilangan dan trauma yang mendalam bagi korban curanmor dan begal tersebut. Diharapkan solusi yang ada bisa menjadi pertimbangan bagi pihak kampus agar tidak lagi ada korban, sehingga nama baik kampus tidak tercoreng.

Seperti  pernyataan Abraham Maslow yang menyatakan bahwa keamanan merupakan kebutuhan dasar manusia, maka sudah sepantasnya hal-hal yang menyangkut keamanan ini menjadi tanggung jawab bersama, agar terciptanya lingkungan kampus yang aman. Jangan sampai kampus yang terakreditasi A tercoreng akibat keamanan yang tidak sesuai dengan semestinya.

*Penulis merupakan Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas

1 COMMENT

  1. Hal seperti ini sudah sering terjadi, mulai sejak saya menjadi mahasiswa tahun 2012 hingga saat ini belum teratasi cara ampuh untuk sistem keamanan bagi kendaraan mahasiswa.
    Hanya sedikit masukkan dari saya,

    Opsi 1 : Lebih baik tata kelola keamanan kendaraan di kampus ini dipercanggih dengan adanya sistem teknologi e-parking seperti hotel2 atau tempat umum lainnya.

    Secara mendasar sistem ini akan memakan anggaran yang besar untuk pengadaannya dan tata kelola serta maintenance alat, namun dengan sistem ini kita akan lebih aman.

    Caranya, ada 1 orang petugas disetiap tempat parkir sebagai kontrol manual dari sistem, dan kendaraan keluar masuk akan di scan agar terkontrol dan dilengkapi cctv.
    Sehingga orang yg tidak menggunakan kartu tidak bisa keluar dan sanksi tegas harus diberikan agar tidak terjadi pembiaran.
    Anggaran untuk pengadaan dan perawatan diambil dari semua elemen yang berkepentingan di kampus hingga posisi rektor kalau bisa.
    30 ribu mahasiswa dikali 50 ribu aja sudah ada 1.5 M.

    Opsi 2 : Karena telah adanya petugas penjaga parkir saat ini setahu saya, maka akan lebih baik sistem dirubah. Caranya adalah dengan melakukan sistem manajerial kepemilikan kendaraan dikampus.
    Setiap orang yang memiliki kendaraan wajib memilki 1 kartu dimana pada kartu tsb dimuat identitas sipemilik motor serta nomor plat kendaraan.
    Dan tidak diperbolehkan membawa kendaraan selain kendaraan yang dimiliki kecuali ada bukti pinjam atau id card si pemilik motor yang dipinjam.
    Jadi, jika ada motor yg keluar parkir dengan tanpa adanya id card dengan alasan apapun akan diberi sanksi tegas.
    Kita tegas untuk kebaikan bersama, jika ada yang protes minta solusi dari dia.

    Aturan ini dibuat semakin ketat karena kita belum sadar, maka mari kita berbenah.

    Salam dari alumni, maaf jika ada kata2 saya yg slah, itu semua berasal dari pemikiran saya dan jika tidak didengar juga gak apa2.

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here