Beranda Berita

Dikia Rabano, Tradisi Dakwah Islam dan Kebudayaan Minangkabau

 

Diskusi kesenian Dikia Rabano yang diadakan oleh LMJ Sastra Daerah Minangkabau, FIB, Unand, di ruang seminar FIB, Kamis (30/8/2018). (Foto:Nadya Satya Dilova)

gentaandalas.com– Lembaga Mahasiswa Jurusan (LMJ) Sastra Daerah Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas (Unand), mengadakan diskusi dan penampilan kesenian Minangkabau, Dikia Rabano. Diskusi ini menghadirkan pemain kesenian Dikia Rabano yang berasal dari Nagari Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Dikia Rabano berasal dari kata zikir yang diolah oleh Buya Canduang. Inilah sejarah awal dari Dikia Rabano,” ujar Sutan Matahari disela-sela diskusi pada Kamis, (30/8/2018).

Dalam diskusi tersebut Angku Mangguang menjelaskan bahwa buku yang menjadi panduan dalam kesenian Dikia Rabano berasal dari bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Buya Canduang dalam bahasa Minang. Pada buku tersebut terdapat 7 sesi penampilan Dikia Rabano. Pertama, “kato junjuangan” yang berarti sejarah Adam dan Hawa. Kedua, “satu mukaluak” yang menceritakan satu makhluk yaitu manusia. Ketiga, “wahai sudaro dangalah madah” yang menceritakan sejarah cerita bersaudara. Keempat, “pado maso itu” yang maksudnya sejarah berdirinya Islam. Kelima, “wahai sodaro sagalo urang” maksudnya ajakan untuk masuk Islam. Keenam, “wakatu itu” yang menceritakan peperangan Islam. Ketujuh, “cukuplah hamil” yang berarti kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dikia Rabano berdiri sekitar tahun 1940-an dan saat ini lebih kurang telah menghasilkan 10 generasi yang menekuni kesenian Dikia Rabano. Sejarah Dikia Rabano dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW dari perkawinan Aminah dan Abdullah.

“Dikia Rabano bertujuan untuk kelahiran Nabi Muhammad SAW, selain itu juga bisa untuk menaiki rumah, pesta pernikahan, dan acara lainnya di Minangkabau,” ujar Angku Mangguang.

Wakil Dekan III FIB, Imelda Indah Lestari mengatakan Dikia Rabano adalah tradisi dakwah Islam yang merupakan kebudayaan Minangkabau yang memiliki dimensi religi dan dimensi sosial. Imelda mengungkapkan kebanggaannya kepada mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau yang telah mengadakan acara Dikia Rabano. Menurutnya, itu salahsatu tugas mahasiswa  untuk melestarikan kebudayaan sendiri, khususnya kebudayaan Minangkabau. Ia mengharapkan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini, sehingga mahasiswa menjadi bersemangat untuk melestarikannya.

Jaemy Arnold, selaku Ketua LMJ Sastra Daerah Minangkabau mengatakan bahwa akademisi sering melakukan pencarian ilmunya ke kampung atau desa, mengumpulkan data, mengolahnya sehingga menjadi sebuah penelitian. Namun sedikit sekali yang mengembalikan hasil penelitian tersebut ke kampung itu. “ Jurusan Sastra Daerah Minangkabau mencoba untuk mengarahkan mahasiswa membawa kembali kesenian dari wilayah aslinya, seperti contohnya Dikia Rabano ini,” ujarnya.

Reporter : Nadya Satya Dilova dan Nurmaitasari

Editor : Juni Fitra Yenti

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here