Beranda Aneka Ragam Resensi

Dari Rasa Ingin Tahu Berubah Jadi Symbiote

 

Ist

Identitas Film
Judul : Venom
Tanggal Rilis : 1 Oktober 2018 (tayang di Indonesia 5 Oktober 2018)
Sutradara : Ruben Fleischer
Produser : Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal
Perusahaan Produksi : Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Tencent Pictures,
Arad Productions, Matt Tolmach Productions, Pascal Pictures
Distributor : Sony Pictures (Releasing)
Genre : Action, Science Fiction
Bahasa : Inggris
Durasi : 112 menit
Resensiator : Nurul Pratiwi

gentaandalas.com-Venom, film bergenre action dan science fiction (fiksi ilmiah) ini adalah salah satu karakter yang sangat ditunggu-tunggu oleh pecinta film yang memiliki karakter superhero yang dibintangi oleh Tom Hardy, Riz Ahmed, Jenny Slate, dan beberapa bintang lainnya. Venom merupakan film yang diadaptasi dari karakter Marvel Comics yang dijuluki Venom atau Venom Symbiote karya David Michelinie dan Todd McFarlane.

Venom bercerita tentang seorang reporter benama Eddie Brock (Tom Hardy) yang tengah melakukan penyelidikan terhadap Life Foundation yang dipimpin oleh Carlton Drake (Riz Ahmed). Eddie menduga Life Foundation telah melakukan praktek terlarang, yang telah menewaskan banyak orang. Tindakannya menyelidiki Life Foundation ternyata mendapat tentangan dari media tempat dia bekerja, yang lantas membuat Eddie akhirnya dipecat. Hal ini sempat membuat Eddie putus asa dan tidak ingin lagi menyentuh sesuatu hal yang berhubungan dengan Life Foundation.

Namun, situasi berubah ketika ia bertemu dengan Dora Skirth (Jenny Slate), salah seorang ilmuwan yang bekerja di Life Foundation. Dora menggelitik sisi jurnalis Eddie dengan menawarkan akses langsung ke Life Foundation, beserta bukti pelanggaran yang dilakukan perusahaan itu.

Saat menerobos ke dalam Life Foundation inilah Eddie akhirnya ditempeli symbiote Venom. Eddie sempat menolak kehadiran sosok Venom di dalam dirinya. Perbedaan sifat adalah penyebab utama seorang Eddie menolak sosok Venom.

BACA JUGA:  Mahasiswa FISIP UPN Veteran Yogyakarta Ikuti Program PERMATA di FISIP Unand

Film ini memiliki warna berbeda dengan kebanyakan film superhero. Dalam banyak aspek, Venom terlihat messy, jauh dari kesan fancy. Dari awal film, perpindahan dari satu adegan ke adegan lain terjadi begitu cepat. Ritme ini seolah mengajak penonton untuk langsung merasakan ketegangan. Alih-alih tegang, malah terkesan buru-buru karena penonton bahkan belum diajak mendalami watak karakter-karakter inti.

Sebagai Eddie Brock, Tom Hardy tampil menggemaskan dengan gaya “selengeannya”. Tokoh utama superhero yang pecundang, dari keluarga sederhana bahkan miskin, atau sedang dalam tekanan, sebenarnya sudah banyak. Namun, Eddie Brock benar-benar digambarkan berantakan. Kekacauan pada diri Eddie setelah dirasuki symbiote dari laboratorium Life Foundation, dibuat sangat meyakinkan, dan mungkin bagi sebagian orang bagaimana cara dia makan, minum, sampai muntah tidak nyaman dilihat.

Tidak mudah memang menampilkan karakter-karakter superhero Marvel ke dalam sebuah film. Apalagi, sosok anti-hero yang selama ini tidak sepopuler superhero. Namun, khusus untuk karakter Venom, semuanya dimulai dengan cukup baik.

Akan tetapi, ketika pengenalan Eddie dengan sosok  symbiote, jalan cerita film ini mulai menjadi terasa sangat cepat. Selain itu, perpindahan adegan yang begitu cepat menjadikan cerita selanjutnya tentang Eddie dan “teman barunya” seperti mudah untuk ditebak. Namun, karena kehadiran Tom Hardy, film ini setidaknya mampu memberikan greget-nya sendiri. Lihat saja, perannya sebagai sosok yang slengean dan terkesan sembrono.

Ketika ia begitu panik mengetahui sosok symbiote di dalam tubuhnya. Masih ada lagi, yaitu ketika Tom Hardy sangat terkejut saat mengetahui kekuatan besar yang tersimpan di dalam tubuhnya. Jika kamu ingin melihat Tom Hardy memerankan karakter yang  penuh dengan canda, maka film Venom layak untuk ditonton.

BACA JUGA:  Unand Laksanakan Pemira Tahap Satu, PPU Fakultas Sebar TPS di Berbagai Titik

Ditambah dengan dialog-dialog jenaka antara Tom Hardy dengan sosok symbiote di dalam pikirannya. Secara keseluruhan, Tom Hardy memainkan perannya dengan cukup baik sebagai Eddie Brock Venom.

Sayangnya penampilan Tom Hardy belum mampu diimbangi oleh pemeran lainnya. Sebut saja Carlton Drake yang diperankan oleh Riz Ahmed atau Michelle Williams yang berperan sebagai Anne.

Terlepas dari semua itu, kamu masih bisa menemukan banyak hal yang menarik di film Venom. Misalnya, kepindahan Eddie Brock dari New York ke San Francisco yang bisa memicu imajinasi dan fans theory tentang asal-usul Eddie. Masih ada lagi, di dalam film ini, akan ada sosok symbiote lain yang tampil, dan menjadi lawan tangguh dari Venom yang hidup di dalam tubuh Eddie.

Secara keseluruhan, cerita dari Venom merupakan sebuah film yang menyenangkan. Dipenuhi dengan adegan-adegan aksi plus komedi yang menggelitik lewat dialog-dialog konyol Eddie dengan sang symbiote.
Namun, dibalik itu memang ada beberapa kekurangan yang setidaknya masih bisa diperbaiki jika kisah makhluk berlidah besar ini dilanjutkan.

Satu lagi, jangan langsung beranjak dari kursi Anda ketika filmnya sudah habis. Akan ada kejutan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kamu di sini akan melihat sosok lain dari daftar symbiote yang muncul di komik-komik Marvel.
Satu hal yang berani mengingat selama ini karakter-karakter Marvel selalu ditampilkan “mewah”.

Namun, setidaknya ini yang membuat Venom menjadi unik. Anti-hero ini mampu menawarkan warna yang berbeda dengan kebanyakan film superhero atau kemunculan karakter Marvel lainnya.

Film ini sangat menarik dan cukup menantang adrenalin. Film ini cocok ditonton oleh orang-orang yang menyukai genre action dan fiksi ilmiah serta jurnalis yang ingin belajar menginvestigasi suatu isu. Selamat menonton!

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here