Beranda Berita

Danau Biru, Spot Foto Anti Mainstream

Seseorang sedang mengatur kamera untuk mengambil gambar.

Oleh: Tiwi Veronika*

Berawal dari rasa suntuk yang menyelimuti kekosongan hati. Sepi, sendiri, dan orang-orang pada pergi. Tak ada seorang pun yang berada di rumah, kecuali saya dan boneka kelinci dengan wortelnya. Terik matahari begitu tajam hingga menusuk kalbu dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Kicauan burung yang beterbangan mulai terdengar dari arah langit.  Tak ada angin sepoi-sepoi kala itu. Danau Biru sudah menjadi incaran banyak orang termasuk saya sendiri. Saya tak mau sendiri dan mengurung diri di rumah ini, sehingga satu per satu teman yang berlibur kala itu saya hubungi. Alhasil dengan teknik melobi, tiga orang diantaranya mau menemani saya untuk keluar rumah.

Satu jam setelah itu, akhirnya kami pun berangkat. Jarak tempuh tempat wisata dari rumah saya kurang lebih 50 km dengan waktu lebih kurang 1 jam lamanya. Saya dengan  tiga orang teman saya pergi ke sana dengan mengendarai dua unit kendaraan  bermotor. Perjalanan ke sana berlika-liku, melalui Kota Sawahlunto dan pepohonan di pinggir jalannya.

Danau Biru ini adalah salah satu objek wisata yang berada di Kota Sawahlunto, tepatnya di Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi. Dahulu, Sawahlunto terkenal sebagai Kota Tambang. Ada banyak bekas galian tambang batu bara yang dapat dijumpai jika kita berkunjung ke sana.

Danau Biru merupakan danau yang terbentuk oleh aktivitas penambang batu bara yang dibiarkan begitu saja, sehingga bekas galian ini terisi oleh air. Lama-kelamaan berbentuk genangan dan airnya pun berubah menjadi warna biru pekat. Warna air di danau ini berbeda dengan danau pada umumnya dan begitu indah sebagai tempat rekreasi alam. Karena terbentuk oleh bekas lubang tambang, tentu saja jalan untuk ke sana tidaklah bagus.

Sebelum kami memasuki daerah Talawi, terlebih dahulu kami akan melewati jalan buruk. Jarang terlihat mobil bagus yang lewat, yang ada hanyalah truk pengangkut batu bara. Setelah berjalan sekitar 30 menit dari Kota Sawahlunto, kami menemukan simpang menuju ke Danau Biru, dan di sana kita akan membayar sumbangan kepada penjaga.

Perjalanan yang ditempuh dari posko ke Danau Biru memang tidaklah mudah. Perjalanan ke sana memiliki jalan yang terjal dan berbukit, kemudian ada jalan tanah kuning yang berdebu dengan melewati pendakian dan penurunan. Jalan yang dilewati tidaklah bagus dan sulit dilalui dengan sepeda motor biasa, tetapi mudah dilalui dengan  motor trail.

Tangan saya terasa kebas mengendalikan stang motor agar tidak memilih jalan yang salah, karena jalan menuju Danau Biru penuh dengan batuan besar dan runcing yang bisa membuat ban motor bocor, bahkan bisa robek oleh batu runcing. Saya harus jeli dalam mengendalikan motor. Jika tidak, saya bisa terjatuh.

Selang waktu 30 menit lebih, kami pun hampir sampai di lokasi. Karena lelah, kami memutuskan untuk istirahat sejenak di atas bukit bekas tambang yang telah diperbaiki oleh orang-orang setempat, sambil memesan makanan untuk mengisi perut yang kosong. Ditambah lagi tenaga kami sudah terkuras oleh perjalanan menuju ke Danau Biru. Awalnya, kami mengira makanan di sana harganya sama dengan makanan yang dijual di luar. Ternyata tidak, harga di sana jauh lebih mahal. Contohnya, sebotol air mineral Aqua yang biasanya berharga tiga ribuan menjadi enam ribuan. Harga naik menjadi dua kali lipat dari biasanya. Kami hanya berpikiran positif kepada penjual, mungkin karena jarak yang jauh dan penuh rintangan untuk menuju ke sana.

Setelah istirahat dan makan, kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah Danau Biru. Tetapi dengan berjalan kaki, sebab tidak boleh membawa sepeda motor ke danau. Kami hanya boleh memarkirkan sepeda motor sekitar 200 meter dari lokasi. Sang juru parkir langsung menyuguhkan lembaran berwarna biru bertuliskan biaya parkir kendaraan dengan estimasi harga Rp5.000 per satu unit sepeda nmotor. Sepeda motor akan dijaga dengan baik dan helm yang ditinggal dijamin aman.

Berjalan kaki tidaklah mudah menuju lokasi. Setiap langkah kaki harus berhati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh. Di sana, semua tumbuhan dibabat habis dan hanya menyisakan semak belukar dan ranting kayu.

Kami tidak diperbolehkan melihat air danaunya lebih dekat. Kami tidak tahu entah mengapa dilarang ke dekat danau dan hanya dibolehkan melihat keindahannya dari atas batu besar. Setibanya di atas batu besar, akan terlihat hamparan Danau Biru yang dikelilingi pohon pinus dan bebatuan besar. Tidak lupa kami langsung mengabadikan momen di kamera handphone.

Sekitar satu jam lebih, kami hanya menghabiskan waktu dengan berfoto dan selfie layaknya orang kekinian. Pemandangan yang indah membuat hati nyaman dan perasaan menjadi lebih tenang. Di sekitar danau, kami masih melihat orang yang menambang batu bara, tetapi tidak dalam skala besar, hanya menggunakan peralatan manual.

Sesekali kita akan melihat truk besar mengangkut batu bara lewat di tepi danau dan orang-orang yang mengembala kambing, bahkan ada juga yang berburu. Menurut penuturan penjaga di sana, penambangan sekarang tidak seperti dulu lagi. Dulu, banyak pekerja yang bekerja dari pagi sampai larut malam karena batu baranya masih banyak dan melimpah. Pekerjanya kebanyakan dari PT dan sekarang hanya penduduk setempat yang menambang batu bara untuk menyambung hidupnya.

Setelah memori di handphone kami hampir penuh dan kehabisan gaya, kami melangkah kembali menuju parkiran motor. Tetapi, lagi-lagi pemandangannya membuat kami takjub dan kembali mengabadikan momen ini  dari  atas lokasi tempat parkir. Dari atas, keindahannya tampak secara menyeluruh. Begitu besarnya keagungan Tuhan. Ternyata dari atas, sudah dibuatkan oleh pengelola wisata tersebut seperti monumen yang berbentuk love atau hati.

Berfoto  dari atas jauh lebih indah, ditambah dengan background hamparan danau dan perbukitan. Jika anda pergi ke sana, jangan lewatkan kesempatan untuk berfoto di sana dan mengabadikannya di media sosial. Dijamin tidak akan rugi.

Ketika  memasuki jalan menuju ke sana, memang membuat kita jenuh dan ingin rasanya pulang saja. Akan tetapi, apabila sudah sampai di sana semua lelah dan keluh-kesah akan terbayarkan oleh pemandangan yang nyata di depan mata. Kita tidak akan percaya sebelum kita pergi ke sana, apalagi warna air danaunya yang sangat bagus dan unik.

Setelah kami merasa puas, tidak terasa matahari sudah hampir tenggelam ke arah barat. Sudah begitu sore. Waktu telah menunjukkan pukul 17:00 WIB. Karena takut sampai di rumah larut malam, kami langsung bergegas untuk pulang.

Itulah sedikit cerita mengenai objek wisata Danau Biru yang berada di Kota Sawahlunto. Nah, bagi anda yang suka tantangan dan anti mainstream, Danau Biru adalah pilihan yang terbaik untuk anda kunjungi. Jika anda pergi ke sana, begitu banyak momen yang bisa anda abadikan di media sosial, dan dijamin tidak akan rugi. Ayo, tunggu apa lagi.

*Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Peternakan 2017 Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here