Beranda Aspirasi

Cegah Hoaks Covid-19 Melalui Sosial Media

Dok. Pribadi

Oleh : Nurul ‘Ain*

Wabah Covid-19 yang menyerang dunia saat ini berkembang dan menular sangat cepat. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah negara-negara di dunia untuk menangani virus ini, termasuk negara Indonesia. Salah satu cara yang digunakan adalah social distancing, yaitu pembatasan sosial atau menjaga jarak antara satu orang ke orang lainnya. Ini bertujuan untuk membatasi atau menghentikan penyebaran virus atau penyakit menular.

Penyajian berita mengenai pandemi ini pun sangat beragam dan sulit untuk menemukan kebenarannya, kecuali jika kita benar-benar menelaahnya satu demi satu informasi yang kita terima. Informasi yang membahas Covid-19 sangat pesat dan perputarannya melesat tajam. Beragam jenis informasi yang beredar terutama pada sosial media. Zaman yang sudah serba digital dan tidak terlepas dengan internet, boleh dikatakan sangat jarang orang yang tidak memiliki akun-akun media sosial. Setiap harinya mereka aktif di media sosial dan berbagai kegiatan media sosial dapat mereka lakukan.

Dikarenakan informasi mengenai Covid-19 menjadi salah satu asupan yang sangat penting dan dibutuhkan oleh semua orang, terutama informasi mengenai persebaran Covid-19 di berbagai daerah Indonesia. Sehingga tidak sedikit informasi-informasi palsu atau berita hoaks tersebar di media sosial yang dibuat oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Salah satu contohnya yaitu informasi yang disebar melalui broadcast Whatsapp, tanpa membaca lebih dalam dan tidak melihat dari mana sumbernya berasal. Tidak hanya melalui Whatsapp namun juga bisa melaui Instagram, Twitter, Facebook dan berbagai akun media sosial lainnya yang bisa digunakan untuk menyebarkan hoaks Covid-19. Kebenaran berita seakan tidak penting lagi, masyarakat cenderung mementingkan bagaimana dalam waktu cepat dan singkat mereka bisa menyebar sebuah informasi, dan merasa bangga dengan apa yang disebar.

Sebagai mahasiswa hendaklah kita paham mana informasi yang hoaks dan mana informasi yang benar dan memilih informasi-informasi yang patut untuk disebarkan ataupun yang tidak patut disebarkan. Kita harus menyadari bahwa keberadaan informasi hoaks membuat masyarakat panik dan jadi tidak terkendali.

Berdasarkan informasi yang diberitakan di Metro TV ada informasi hoaks yang beredar di masyarakat, bahwa ada seseorang yang memborong makanan di supermarket karena takut akan kehabisan bahan makanan dikarenakan wabah Covid-19. Ternyata setelah dikonfirmasi kebenarannya seseorang yang diduga memborong makanan itu adalah seorang pedagang grosiran. Berita hoaks sangat cepat dalam menggiring opini publik terutama dalam isu Covid-19 seperti saat sekarang ini.

Keberadaaan informasi hoaks ini sebenarnya dapat dihentikan tergantung pada pembaca informasi tersebut. Jika kita sebagai penerima informasi, dapat memperhatikan dan menentukan mana informasi yang hoaks dan mana informasi yang benar maka secara sadar kita tidak menyebarkan dan meneruskan berita ini kepada orang banyak melalui sosial media yang kita miliki. Dengan demikian informasi palsu itu hanya akan berhenti cukup sampai kita saja.

Informasi hoaks akan terus berkembang jika kita terus-terusan mengonsumsinya dan menyebarluaskan kepada orang banyak melalui sosial media dan di media sosial yang kita miliki. Sehingga orang-orang yang memproduksi informasi hoaks ini lama-kelamaan akan merasa tidak dipedulikan lagi karena tidak ada yang mengonsumsi dan menerima pesan-pesan hoaks terkait Covid-19.

Menurut Alan Rubin dalam bukunya tahun 1998, mengatakan bahwa literasi media merupakan sumber dan teknologi dari komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang diproduksi dan pemilihan, penafsiran, serta dampak dari pesan tersebut. Sebagai konsumen dari semua informasi kita wajib menggunakan yang namanya literasi media supaya ada evaluasi terhadap informasi yang kita dapatkan dan tidak terpapar dengan informasi-informasi palsu tersebut.

Sudah menjadi keharusan bagi kita mahasiswa untuk menjadikan literasi media sebagai pegangan dan menyampaikan kepada masyarakat atau mulailah dari ruang lingkup yang kecil terlebih dahulu yaitu keluaga kita sendiri supaya tidak menerima apalagi menyebarluaskan dan menyukseskan informasi-informasi hoaks di media sosial.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2018
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here