“Cara Menjadi Penulis” Trending Google Year In Search 2020

(Genta Andalas/Geliz Luh Titisari)
(Genta Andalas/Geliz Luh Titisari)

Perusahaan mesin pencarian terkenal, Google merilis kata kunci yang paling banyak dicari tahun ini. Terdapat sembilan pembagian kata kunci, yakni Apa itu, Bagaimana cara, Berita, Film/tv, Kepergian tokoh, Lirik lagu, Penelusuran populer, Resep dan Siapa.

Beberapa kata kunci yang banyak dicari ialah seputar Corona Virus dan semua yang berkaitan dengan kesehatan beserta cara menghasilkan uang, kemudian muncul istilah baru Ghosting. Menariknya, di kategori “Bagaimana cara”, ada salah satu pencarian yakni “Bagaimana Cara Menjadi Penulis”.

Dilansir dari situs trends.google.com, analisis grafik pencarian kata kunci tersebut sejak bulan Agustus mengalami pergerakan naik turun yang tidak terlalu besar dan puncak tertingginya berada pada akhir bulan November lalu. Diduga maraknya lomba menulis yang diselenggarakan secara daring menjadi pemicu banyaknya pencarian kata kunci tersebut.

Menurut dosen jurusan Sastra Universitas Andalas, Sonezza Ladyana, hal yang mendasari banyaknya kata kunci tersebut dicari dikarenakan suasana pandemi yang menyebabkan banyak orang bekerja dan belajar di rumah serta berhubungan dengan psikologi manusia yang merasa suntuk dan perlu kegiatan lain untuk menghilangkan kejenuhannya tersebut.

Ia juga berpendapat, jika lomba menulis yang banyak diadakan secara daring merupakan kegiatan yang paling mudah dilakukan, “Tidak seperti lomba baca puisi, tentu ribetkan, buat video dulu. Kalau menulis ya tinggal tulis dan nanti dikirim.” Ujarnya saat di wawancarai via telepon, Jumat (18/12/2020).

Menurutnya, penyebab lain yang mendasari banyaknya orang yang ingin belajar menjadi penulis ialah sebagai wujud aktualisasi diri atau pencitraan, menjelaskan gagasan pemikiran dan tentunya sebagai tambahan uang.

Lebih lanjut Sonezza mengatakan untuk menjadi penulis yang baik, harus konsisten dalam menghasilkan karya, baik itu karya kreatif ataupun ilmiah. Ia memberi saran untuk menulis, hal yang pertama diperlukan ialah menentukan arah tulisan, kemudian membuat kerangkanya dilanjutkan dengan mencari sumber-sumber pendukung untuk menghidupkan tulisan atau memperkuat gagasan.

Ia selaku pengajar yang kini telah berkeluarga mengaku sedikit kesusahan untuk menulis karya kreatif karena kesibukannya yang padat. Meskipun begitu sebagai pengajar yang baik, ia selalu melakukan riset untuk membuat tulisan bahan ajar. “Sebagai seorang dosen, sudah jadi kewajiban untuk selalu memperbarui bahan ajar agar tetap relevan bagi mahasiswa saya, karena semua hal berjalan dinamis,” lanjut Sonezza.

Sonezza Ladyana, juga mengajak para mahasiswa Universitas Andalas untuk rajin dalam menulis, baik itu karya kreatif maupun ilmiah. Apalagi Rektor Unand telah mengeluarkan SK penetapan pemberian reward kepada mahasiswa yang berprestasi dalam hal menulis.

“Menurut saya itu bagus, bisa memacu semangat mahasiswa dalam berkarya. Tapi tentu saja, niatnya bukan cuma untuk uangnya. Anggap saja sebagai apresiasi dari kampus,” tutur Sonezza.

Terakhir,  selaras dengan Sonezza Ladyana, Mahasiswa Sosiologi Unand 2017, Abdis Sallam Fajri berpendapat jikalau menulis tak harus selalu mengharapkan hasil (uang), baginya hal itu hanya bonus dari apa yang ia lakukan, sebab menulis opini baginya menyalurkan perasaan supaya pikirannya lapang. “Rasanya bangga sekali jika tulisan dimuat di media. Hal itu nantinya dapat memotivasi untuk terus menghasilkan tulisan ke depannya lebih baik,” jelas Abdi.

Menurutnya dalam hal kepenulisan juga tidak dapat dilakkukan dengan sembarangan, perlu data dan dorongan diri yang kuat. “Jika menjadi penulis opini, maka tulisan harus didukung teori dan fakta yang ada. Jika penulis cerpen harus banyak membaca, agar suasananya tergambarkan dengan baik,” kata Abdi.

Sebagai mahasiswa, Abdi menyadari bahwasanya ia memiliki kesibukan untuk belajar materi kuliah, akan tetapi kesibukan belajar menurutnya tidak patut dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam menulis.

“Terlalu berlebihan jika alasannya sibuk kuliah. Jika keinginan kuat maka sesibuk apapun waktu tentu dapat diluangkan, kalau saya biasanya menulis malam hari, di tempat yang tenang,” papar Abdi.

Kini, Abdis Sallam Fajri telah banyak menelurkan opini-opini di media massa seperti Padang Ekspres maupun media elektronik salah satunya garak.id. Lebih lanjut ia memaparkan, untuk menulis perlu diperhatikan siapa pembacanya dan bagaimana jenis karyanya.

Ia juga menceritakan kiat-kiatnya agar selalu semangat menulis, “Dulu awal-awal menulis saya mencari teman seide sepemikiran, lalu kami bertanding. Siapa yang menang nanti dapat hadiah, ya, tergantung kesepakatannya. Untuk menemukan ide, biasanya banyak melihat, mendengar, membaca dan berdiskusi sehingga menemukan hal-hal baru yang nantinya dapat dikembangkan sesuai imajinasi,” jelas Abdi.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Kimia angkatan 2018 dan mahasiswa jurusan Sosiologi 2019 Universitas Andalas.

By Genta Andalas

Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas Universitas Andalas.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *