Beranda Berita Liputan

Cara Membangun SDM Indonesia Yang Unggul dan Punya Daya Saing di Era Industri 4.0

Ismunandar, saat menyampaikan kuliah umum di Convention Hall Unand, Jumat, (15/2/2019) (Foto: Nurul Pratiwi)

gentaandalas.com- “Penduduk besar sekarang merupakan potensi besar. Otak orangnya lah yang mampu membuat sebuah negara menjadi maju.” Kalimat tersebut merupakan kalimat pembuka  Kuliah Umum yang disampaikan langsung oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Kemenristekdikti RI, Ismunandar,  di Convention Hall  Unand, Jum’at (15/2/2019).

Ismunandar menjelaskan, untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul dan memiliki daya saing, tentunya dimulai dari institusi perguruan tinggi, dengan menciptakan mahasiswa lulusan terbaik, kompetitif, dan mampu berwirausaha.

“Untuk membangun SDM negeri yang unggul dan memiliki daya saing tentunya dimulai dari institusi perguruan tinggi itu sendiri, dengan menciptakan mahasiswa lulusan terbaik, kompetitif, dan mampu berwirausaha. Jika sudah punya tiga hal tersebut, jangan ragu lagi untuk melamar beasiswa Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan pendidikan,” jelasnya.

Kemudian, ia menuturkan, di era Industri 4.0 dan masyarakat (society) 5.0 sekarang, mahasiswa harus menguasai future skills seperti keterampilan sosial dan 21st Century Teacher, kompetensi berinteraksi dengan berbagai budaya, dan literasi baru (literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia).

“Literasi data meminta  individu harus menyaring volume data yang sangat besar untuk menentukan informasi yang paling relevan sebagai dasar membuat keputusan yang cepat dan kemampuan untuk membaca data,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa literasi teknologi meminta individu untuk memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi itu sendiri, dan sumber belajar literasi teknologi. Sedangkan, literasi manusia meminta pada saat kita bertemu, bercakap-cakap, kita melatih rasa simpati kita pada teman-teman, interaksi, dan kelincahan dan kematangan kebudayaan.

Selanjutnya, ia meminta mahasiswa untuk melatih diri  berpikir kritis dan analitis.

“Yakinkan kita mendisiplinkan diri dengan otak kita. Adik-adik harus melatih diri untuk kritis dan analitis, sebab yang mengubah kita menjadi pintar adalah kita sendiri. Teruslah belajar, karena belajar itu sepanjang hayat,” pintanya.

Reporter : Nurul Pratiwi

Editor : Ramadanil Fajri

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here