Beranda Aneka Ragam

Bocornya Dokumen Rahasia Pentagon Papers

Identitas Film

Judul: The Post

Rilis: 25 Januari 2018 (Indonesia)

Produksi:

DreamWorks Pictures, 20th Century Fox Amblin Partners, Amblin Entertainment, , Participant Media, Pascal Pictures, Star Thrower Entertainment

Genre: Drama, Sejarah, Biografi, Thriller Politik

Durasi: 1 jam 57 menit

Resensiator: Qudwatun Nisaa

Baru-baru ini sebuah film bergenre drama, sejarah dan thriller politik pada Januari 2018 lalu rilis di bioskop Indonesia. The Post merupakan film yang diangkat dari kisah nyata di Amerika yang cukup kontroversial. Film yang digarap oleh sutradara ternama Steven Spielberg ini menceritakan bagaimana keberhasilan para jurnalis menerbitkan dokumen rahasia Pentagon Papers yang menjadi bukti kebohongan pemerintah Amerika Serikat kepada rakyat mengenai perang Vietnam.

Film ini dimulai ketika Dan Ellsberg yang diperankan oleh Matthew Rhys diutus untuk menganalisa perkembangan angkatan militer Amerika dalam perang di Vietnam pada tahun 1966. Sekembalinya Ellsberg bersama Robert McNamara yang diperankan Bruce Greenwood, Sekretaris pertahanan Negara pada saat itu, McNamara berbohong  pada media bahwa aktivitas militer Amerika mengalami kemajuan yang bagus. Padahal, perkembangan aktivitas militer Amerika mengalami kemerosotan.  Oleh sebab itu, Dan Ellsberg mencuri dokumen-dokumen rahasia negara dari RAND Corporation yang kelak disebut Pentagon Papers dan meyalinnya bersama dua rekannya.

Kisah berlanjut pada tahun 1971, menampilkan sosok ‘lady’ sang pemilik perusahaan surat kabar The Washington Post, Katherine Graham yang diperankan oleh Meryl Streep dan Editor Eksekutif Ben Bradlee yang dimainkan oleh Tom Hanks. Kay, sapaan akrab Mrs. Graham terlihat bimbang dan peragu dalam menjalankan perusahaannya, karena sebelumnya perusahaan surat kabar itu dijalankan oleh suaminya yang telah wafat.

Saat berbincang dengan Kay, Bradlee menyinggung tentang  salah satu jurnalis terbaik The New York Times, Neil Sheehan, yang belum menerbitkan berita selama tiga bulan terakhir. Ia curiga bahwa Sheehan memiliki suatu berita besar yang sedang ia kerjakan. Kemudian Bradlee menyuruh salah satu pegawainya pergi ke New York untuk mencari tahu tentang apa yang sedang dilakukan Neil Sheehan di The Times.

Ketegangan mulai terasa ketika Kay menghadiri perjamuan makan malam bersama para politisi, McNamara mengatakan pada Kay bahwa besok akan ada berita besar mengenai dirinya yang dapat menjatuhkannya. Benar saja, keesokan harinya tulisan Neil Sheehan kembali mewarnai  The Times dengan menerbitkan berita mengenai riset McNamara yang menyimpulkan Perang Amerika dengan Vietnam mengalami kemunduran bukan kemajuan seperti yang selama ini disampaikan pemerintah Amerika. Gejolak pun terjadi saat adanya tuntutan yang dilayangkan oleh pemerintah terhadap The Times untuk tidak menerbitkan lagi berita mengenai dokumen rahasia hingga The Times terancam akan gulung tikar.

Tom Hanks memainkan peran Bradlee yang tegas, idealis dan ambisius dengan sangat baik. Setelah mendapat kabar bahwa The Times terancam tertutup karena bocornya dokumen Negara tersebut, Bradlee semakin semangat untuk mencari tahu lebih dalam mengenai Pentagon Papers. Salah satu asistennya, Ben Bagdikian mencari tahu keberadaan rekan lamanya, Dan Ellsberg, karena ia merasa Ellsberg mengetahui tentang ini semua. Benar saja Ellsberglah yang membocorkan dokumen rahasia Pentagon Papers kepada The Times.

Dalam dokumen itupun disebutkan bahwa pengiriman tentara Amerika ke Vietnam sebanyak 70% adalah hanya untuk menjaga gengsi kekuasaan pemerintah, padahal mereka tahu itu hanyalah sia-sia.

Setelah Ben mendapatkan salinan dokumen rahasia Pentagon Papers dari Ellsberg. Lalu, Bradlee, Ben dan beberapa rekan jurnalis lainnya mulai memilah dokumen tersebut untuk diterbitkan pada The Washinton Post.

Apa yang terjadi pada The Washington Post akan membuat penonton merasakan konflik batin yang dirasakan oleh Kay. Bukan pilihan yang mudah memang, untuk memutuskan apakah akan terus melanjutkan publikasi berita mengenai Pentagon Papers di tengah-tengah kekhawatiran soal hukum dan ancaman dari investor yang akan melepas saham atau tidak menerbitkannya. Keberanian Kay dalam mengambil keputusan untuk tetap menerbitkannya membuat cerita ini menjadi lebih menarik, sebab ditengah-tengah keraguannya, Key mengambil langkah berani yang membuat penonton takjub.

Dalam film ini Spielberg berhasil menggambarkan bagaimana seharusnya pers memiliki kebebasan untuk mencari, memperoleh dan menyebarluaskan fakta kepada masyarakat, walaupun fakta tersebut bertentangan dengan pemerintah.

Digarap oleh tangan-tangan hebat seperti Spielberg yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menciptakan film yang spektakuler, Liz Hannah yang mendapat nominasi penghargaan Golden Globe kategori Best Screenplay dan Josh Singer yang pernah memenangkan penghargaan Oscar kategori Best Writing, Original Screenplay, juga Meryl Streep dan Tom Hanks yang sudah berpengalaman dan bayak mendapat penghargaan. Tak heran jika film yang diproduksi DreamWorks Pictures dan 20thCentury Fox ini langsung masuk dua nominasi Oscar sekaligus dalam kategori Best Motion Picture of The Year dan Best performance by an Actress in a Leading Role.

Cerita di awal film agak membosankan, karena konflik yang terjadi belum tergambarkan dengan jelas, tetap saja film ini membuat penonton penasaran mengenai akhir cerita. Penonton akan dibuat kebingungan jika tidak mengetahui bagaimana sejarah mengenai Pentagon Papers, dan juga terlalu banyak tokoh yang ditampilkan di awal film. Sangat disarankan bagi penonton yang ingin menonton film ini agar terlebih dahulu membaca sejarah mengenai Pentagon Papers.

Meskipun begitu, alur yang disuguhkan dalam film ini membuat penonton penasaran untuk terus mengikuti jalan ceritanya. Film yang sarat akan sejarah dan pesan moral ini wajib untuk ditonton bagi kamu yang tertarik dengan sejarah dan jurnalistik. Selamat menonton!

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here