Beranda Berita Feature

Bakaua Adat Bukan Hanya Sekedar Membayar Nazar

Rombongan melakukan arak-arakan di sepanjang jalan dalam melakukan tradisi batombe.

*Oleh Yosi Saputri

Rombongan ibu-ibu berbaju hitam memimpin arak-arakan sepanjang jalan dari balai adat di simpang jembatan Padang Ranah hingga Tabek Godang di Pudak. Di atas kepala mereka ada dulang yang ditutup dengan kain kebesaran adat khas Minangkabau, berwarna merah. Sepanjang hampir sepuluh meter rombongan itu berjalan dan terbagi ke dalam dua barisan. Di belakangnya, terlihat bapak-bapak yang juga berbaju hitam bersenjata keris dan memakai tongkat menemani perjalanan arak-arakan ibu-ibu. Pemandangan itu akan setiap tahun ditemukan, jika mengunjungi Sijunjung setelah panen berakhir. Itulah bakaua adat atau masyarakat menyebutnya acara Ka Tobek. Memang, acara puncak berlokasi di Tobek Godang yang terletak di jorong Pudak.

Ibu-ibu berbaju hitam itu adalah rombongan bundo kanduang yang berasal dari seluruh nagari Sijunjung. Mereka memakai baju kuruang basibah berwarna hitam, lengkap dengan selendang tanah liat dan sampiang yang digunakan sebagai bawahan. Dulang yang mereka bawa berisi makanan yang akan disantap di Tobek Gadang. Seperti rendang, lemang, amping, gulai cubadak dan makanan lain seperti kue khas masakan Minangkabau. Beberapa makanan itu akan disantap bersama, yang didahului oleh rombongan bapak-bapak. Seperti halnya makan bajamba pada setiap kegiatan adat di Minangkabau.

Sementara, rombongan bapak-bapak yang juga mengenakan baju hitam lengkap dengan keris dan tongkat adalah ninik mamak serta pangulu. Mereka merupakan pemimpin dari seluruh suku yang ada di rumah gadang perkampungan adat Sijunjung. Di atas kepala ada juga ikat kepala yang menutupi rambut yang sudah beruban. Sebagian besar orang-orang dalam rombongan arak-arakan ini sudah berusia lanjut, baik itu bundo kanduang maupun ninik mamak. Memang begitulah tradisi, orang-orang tua akan tetap melanjutkannya dengan mempertontonkan kepada generasi muda secara langsung agar dapat dilestarikan.

Sepanjang arak-arakan, lantunan musik dari talempong, gandang, bansi, tambur dan pupuik menemani setiap langkah bundo kanduang dan ninik mamak. Bebagai macam nyanyian Minangkabau pun diperdengarkan dengan alunan melodi yang indah. Pemain musik barulah berasal dari pemuda-pemuda yang bernaung di bawah sanggar bernama Puti Junjung. Semuanya adalah laki-laki. Mereka juga menggunakan baju hitam, mirip dengan yang dipakai ninik mamak dan pangulu.

Rombongan tidak hanya ditutup oleh permainan musik saja, tetapi ada pemain-pemain silek yang menunjukkan atraksinya tepat di belakang rombongan pejabat Kabupaten Sijunjung. Pemain-pemain silek mengeluarkan jurus-jurus yang dikenal dengan silek Harimau. Langkah kaki dan gerakan tangan berayun indah seperti melakukan perlawan juga jurus bertahan. Sementara itu, pejabat yang hadir adalah rombongan camat, bupati, kepala SKPD dan Muspida. Di belakang rombongan pejabat itu, juga ada anak-anak gadis berpakaian seperti anak daro yang membawa sirih untuk dimakan sebagai simbol pembukaan perhelatan bakaua adat.

Setiap tahun, acara bakaua adat diadakan setelah panen padi, tepatnya pada hari senin. Acara ini bertujuan membayar kaul/nazar yang selalu diikrarkan di lokasi Tobek Gadang di sekitar tempat musyawarah pendirian Nagari Sijunjung yaitu di tempat orang-orang tua “Mamancang Malatiah” Nagari Sijunjung. Dalam persiapan acara ka Tobek, didahului oleh rapat Ninik Mamak bersama Wali Nagari di balai adat, yaitu menentukan hari ka tobek dan membentuk panitia pembantaian kerbau, termasuk mencari dana untuk membeli kerbau. Maka, diadakanlah rapat gabungan ninik mamak dengan wali nagari beserta seluruh unsur dalam nagari, termasuk pemuda, pengurus tobo konsi, pkk dan bundo kanduang serta dibentuklah panitia pelaksanaan acara ka Tobek. Sebelum mempersiapkan acara ka Tobek, terlebih dahulu diadakan gotong royong nagari, membersihkan nagari dan pekarangan Tobek Gadang. Acara bersih-bersih ini diiringi oleh ninik mamak yang berpakaian adat di bawah payung kebesaran dan anak muda berpakaian silat/randai dengan memukul talempong serta tambur.

Persiapan acara bakaua adat dimulai dengan memotong seekor kerbau yang dagingnya dibagi secara merata untuk setiap suku. Pada siang hari dilaksanakan perlombaan malomang atau lomba membuat lemang yang diikuti oleh masyarakat usia 17 sampai dengan 27 tahun. Lomba lain yang diadakan yaitu lomba membuat nasi kuning. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat bagaimana perbedaan membuat nasi kuning dalam berbagai macam kegiatan. Seperti membuat nasi kuning untuk naik rumah, batagak kudo-kudo, dan nasi kuning yang dibawakan ke rumah induk bako. Acara perlombaan mengundang seluruh pelajar di nagari Sijunjung sebagai bentuk praktek pembelajaran PKWU yaitu kewirausahaan. Walaupun pelajar hanya menonton perlombaan tetapi mereka diharapkan dapat menikmati acara yang ditampilkan dalam kegiatan ka Tobek. Pada hari minggu malamnya dilaksanakan kesenian yaitu randai dan salawek. Hal ini diistilah dengan sebutan bajago-jago maunian kabau atau melakukan penjagaan terhadap kerbau. Barulah pada senin paginya dilakukan pembagian daging kerbau yang telah dibagi dua, sebagian dibagikan untuk masing-masing nagari dan sebagian lagi dibagikan untuk suku. Daging yang dibagikan untuk suku diserahkan kepada ninik mamak lalu diberikan kepada cucu kemenakan setiap janjang/ rumah keluarga terutama untuk masing-masing rumah gadang. Daging inilah yang dimasak untuk mengisi dulang yang akan dijunjung oleh bundo kandung menujuTobek.

Rombongan arak-arakan memasuki areal Tobek Gadang yang bangunannya sudah diperindah. Terlihat dengan penambahan beberapa bangunaan permanen tetapi tidak berdinding yang sudah diberi atap. Bangunan itu berjumlah tiga dengan bangunan utama yang lebih besar. Tujuan tidak diberi dinding agar masyarakat dapat mengikuti dan menonton musyawarah serta kegiatan kesenian dalam acara Bakaua Adat. Dahulu bangunan tersebut belum dibangun, Upacara bakaua adat pun dilaksanakan di bawah terik matahari. Pemerintah pun sadar kegiatan ini patut dilestarikan sehingga dibangunlah bangunan tersebut. Namun, Tobek semacam kolam besar tidak diperbarui pembangunannya. Ia dibiarkan tetap terjaga keasriannya sehingga tidak diberi semen. Areal Tobek Gadang ini pun diberi pagar besi sehingga hewan ternak milik warga tidak dapat masuk.

Setelah berarak-arakan sepanjang jalan menuju Tobek Gadang, rombongan pun sampai di lokasi. Bundo kandung menurunkan dulang yang mereka junjung dari atas kepala dan menyusunnya dengan rapi. Ninik mamak, pangulu dan rombongan camat, bupati, kepala SKPD dan muspida yang telah diundang berdiri dan berbaris sebelum duduk di pelataran Tobek. Mereka disambut dengan tari gelombang yaitu sejenis tarian penyambutan tamu bagi masyarakat Minangkabau dengan diiringi alat musik talempong dan gandang. Setelah rombongan dipersilakan memakan sirih yang dibawa oleh anak daro, rombongan pun duduk di pelataran Tobek Gadang. Upacara dimulai dengan mangaji atau membaca al-quran dan tahlil. Selanjutnya penyampaian petatah-petitih oleh ninik mamak dan pangulu.

Acara selanjutnya dilanjutkan oleh kamanakan yang telah menyampaikan niat untuk berzakat pada tahun lalu untuk menyerahkan zakatnya kepada Palito masing-masing. Setelah itu baru diadakan sambutan dan pengarahan oleh bupati serta dilanjutkan dengan makan bajamba dan ditutup dengan doa selamat. Pada waktu itu, ketua KAN akan mengumumkan plakat sawah selanjutnya, yaitu waktu dimulainya turun ke sawah pada tahun itu. Masyarakat pun meyakini bahwa jika waktu panen dilakukan bersama dan serempak maka akan terhindar dari hama dan penyakit yang menyerang padi.

Sebelum ninik mamak beserta urang siak makan bersama, bundo kanduang akan menghidangkan makanan yang telah dibawa di dalam dulang dan menghidangkannya. Nasi satampang baniah dan gulai diambilkan pertama kali setelah kerbau di masak di rumah gadang siak kayo/Malin Sutan. Setelah hidangan telah siap, barulah semua undangan dipersilakan makan, tetapi bundo kanduang belum dipersilakan karena begitulah adat Minangkabau. Kaum padusi atau perempuan akan makan jika kaum laki-laki telah selesai makan. Selanjutnya, setelah acara makan-makan, alim ulama pun menutup acara dengan pembacaan doa. Ninik mamak menyampaikan kaul untuk tahun depan: jikok salamaik pataunan, kito bantai saikua kabau. Artinya, upacara bakaua adat akan dilaksanakan kembali apabila padi sudah dipanen dan masyarakat bernazar untuk dilakukan pembataian kerbaujika panen berhasil. Penutupan acara adalah tukang kaba akan bercerita tentang sejarah berdirinya nagari Sijunjung dengan iring-iringan alat musik dan penampilan beberapa tarian juga silat.

Seperti halnya masyarakat Sijunjung yang bermata pencaharian sebagai petani. Hal tersebut melatarbelakangi bentuk kesenian yang ditampilkan dalam upacara bakaua adat. Upacara bakaua adat tentunya dilaksanakan setelah panen padi. Asal usul upacara Bakaua Adat juga dilatarbelakangi oleh mata pencaharian masyarakat sebagai petani sehingga tarian yang ditampilkan bernapaskan kehidupan petani. Asal usul upacara bakaua adat ini, yaitu setelah Syekh Abdul Muchsin (pendiri nagari Sijunjung) meninggal dunia dan dikuburkan di Supayang, terjadi musibah besar yaitu Cholera/muntaber. Pada saat itu banyak orang meninggal, hasil pertanian seperti padi mengalami gagal panen, ternak mati bergelimpangan karena terserang wabah “Ibagh” sejenis sakit kuku yang sangat menular. Kemudian Syekh Amiluddin Pudak sebagai pengganti Syekh Abdul Muchsin bermimpi bertemu dengan almarhum Syekh Abdul Muchsin dan menasehatkan supaya anak nagari bertobat dan bernazar kalau keadaan sudah membaik dan panen berhasil, maka masyarakat harus membantai seekor kerbau serta membuat lemang dan amping.

Setelah musibah tersebut tidak terjadi lagi dan keadaan sudah membaik, masyarakat Sijunjung pun melaksanakan nazar yang sudah diniatkan. Sehingga tujuan dari pelaksanaan acara katobek adalah sebagai ungkapan puji syukur masyarakat kepada Tuhan karena keadaan sudah baik seperti semula, yaitu panen padi kembali melimpah dan ternak dapat hidup sehat. Tujuan lainnya yaitu untuk membayar nazar tahun lalu sehingga masyarakat harus membantai kerbau dan membuat lemang juga amping. Cerita itulah yang diceritakan tukang kaba dalam acara bakaua adat. Di mana kita diharapkan masih mengenang dan melestarikan bentuk kesenian dan kegiatan bernapaskan adat di daerah. Hal itu juga bertujuan memperkenalkan kepada generasi muda seperti apa kesenian dan upacara adat daerah sendiri agar nantinya tetap dilestarikan dan tidak punah terbawa arus zaman. Rombongan arak-arakan yang sudah berkumpul pun bubar, acara telah selesai dilaksanakan, masyarakat nampak senang menyaksikan hiburan yang telah disuguhkan dan berakhirlah upacara bakaua adat pada tahun ini.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia 17

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here