Selasa, 19 September 2017

Home » Aspirasi » Bahasa dan Sikap Berbahasa

Bahasa dan Sikap Berbahasa

Oleh: Gusdi Sastra, M.Hum., Ph.D.*

15 Juni 2017 - 5:44 WIB Kategori: Aspirasi 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 264 Kali

Bahasa Indonesia ditinjau dari fungsi dan kedudukanya sudah tidak diragukan lagi, sehingga kesadaran ini sesuatu yang sudah seharusnya hafal di luar kepala. Di antara fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, salah duanya adalah sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dan sebagai alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan iptek (Arifin, 2008). Di dunia pendidikan, sejak dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran untuk pengembangan ilmu. Walaupun beberapa tahun terakhir muncul istilah “Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional” (RSBI) dan “Kelas Bilingual” di tingkat sekolah menengah, serta “Kelas Internasional”di perguruan tinggi, namun secara penguasaan materi pelajaran masih belum efektif baik oleh pengajar maupun oleh pembelajar. Tetapi dilihat dari sisi kemahiran berbahasa Inggris pembelajar tentu saja terdapat peningkatan. Oleh sebab itu, untuk melihat dampak keberadaan sekolah dan kelas seperti ini, yang tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pengembangan ilmu, diperlukan penelitian khusus tentang ini.

Penggunaan bahasa asing (dalam konteks ini bahasa Inggris karena bahasa Internasional) sebagai bahasa pengantar dalam mengembangkan kebudayaan dan pemanfaatan iptek, sebagai perbandingan kita dapat bercermin dari sikap nasionalisme yang dimiliki oleh beberapa negara maju seperti Jerman, Jepang, dan Perancis. Di ketiga negara tersebut, bahasa Inggris posisinya sama dengan bahasa asing lainnya dari negara manapun, sehingga bahasa nasionalnya bahasa Jerman, bahasa Jepang, dan bahasa Perancis, dipergunakan secara baik oleh seluruh penduduknya dengan standar yang sama dan dengan kecintaan yang sama. Pemakai bahasa Inggris sebagai bahasa asing, apakah sebagai bahasa kedua, ketiga, dan seterusnya, di negara tersebut tidaklah memiliki prestise yang lebih tinggi dibandingkan apabila penggunanya memakai bahasa negara tersebut. Seorang orang asing yang mampu menggunakan bahasa nasional mereka, sangat dihargai dan memiliki prestise yang lebih baik daripada menggunakan bahasa Inggris meskipun bahasa Inggris adalah bahasa internasional.

Sikap terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan sistem pendidikan yang berlaku, merupakan faktor penentu dalam keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa merupakan cerminan dari cara berfikir yang terbentuk melalui proses yang cukup panjang dalam kehidupan seseorang.  Ditinjau dari aspek psiko-neurolinguistik, perkembangan bahasa sudah terjadi sejak anak dalam kandungan, yaitu sejak terbentuknya lapisan tunggal sel neural plate di bagian tengah belakang embrio otak (Geschwind dalam Sastra, 2011) pada bulan ke-4 perkembangan fetal. Hal itu berkembang terus secara pesat masa golden age (0 – 5 tahun) sampai usia pubertas pada area hemisfer otak kanan. Sensor input yang diproses di area motorik kortikal belahan kanan otak akan mengantarkan pesan somatosensorik ke daerah wernicke dan daerah broca di area hemisfer otak kiri menjadi sistem bahasa. Apabila perkembangan terjadi secara positif pada masa ini, yakni reaksi sensorik dan motorik mengalir dari otak belahan kanan dan menyimpannya di otak belahan kiri secara bertahap, maka diperoleh perkembangan otak secara positif dengan kreativitas kecerdasan otak kanan. Oleh sebab itu, usia 0 tahun sampai lebih kurang 12 tahun masa pubertas anak, adalah masa penentuan kreativitas kecerdasan fikiran dan keterampilan berbahasa. Kemudian proses lateralisasi otak berlangsung terus sampai usia dewasa (sekitar umur 25 tahun). Proses lateralisasi adalah aktifnya sel-sel asimetris di kedua hemisfer secara bertingkat atau hirarki kortikal kanan dan kiri dalam jumlah yang tidak terbatas. Pergerakan sel-sel akan dapat berkoordinasi secara keseluruhan tergantung dari perintah yang dimiliki oleh kecerdasan hemisfer sebelum masa pubertas. Oleh sebab itu, terampil berbahasa sangat berkaitan dengan perlakuan terhadap daerah otak sebelum masa pubertas, karena persoalan berbahasa bukan tugas hemisfer kiri yang mengatur tata bahasa saja, melainkan juga tugas hemisfer kanan bagaimana bahasa itu dipakai melalui keterampilan (kecerdasan).

Perlakuan terhadap fungsi kerja otak belahan kanan, mungkin sebagai perbandingan tidak salah apabila melihat bagaimana negara maju dalam mendidik bangsanya dengan mengasah keterampilan berbahasa melalui membaca dan menulis. Jepang misalnya, pada tingkat sekolah dasar (shogaku) sampai sekolah menengah atas (kogaku) tidak ada mata pelajaran bahasa Jepang, tetapi yang ada adalah mata pelajaran bahasa negara (kokugo) dan mata pelajaran menulis (sakubun). Pelajaran kokugo diberikan sekitar 6 jam dalam seminggu dengan materi pengenalan huruf kanji, hiragana, dan katakana lalu menuliskannya, kemudian diiringi dengan membaca novel ringan anak-anak (syuuzi) dan cerita-cerita rakyat. Di sekolah menengah pertama dan di sekolah menengah atas pelajaran kokugo materinya membaca novel-novel lama dan karya-karya sastra Jepang dan Cina. Mata pelajaran sakubung (menulis) diberikan mulai kelas satu sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dengan persentase jam terendah sampai tinggi setiap hari. Siswa diwajibkan menulis tentang 4 hal, yaitu mirukoto (apa yang dilihat), kikukoto (apa yang didengar), kanggaekoto (apa yang difikirkan), dan kokorokoto.(apa yang dirasakan) setiap aktivitas keseharian yang dialami oleh siswa. Sejalan dengan itu, siswa sekaligus dilatih untuk menyampaikan tugas sakubunnya di depan guru dan di depan teman-temannya. Begitu juga halnya di negara Jerman, pada tingkat sekolah menengah atas, siswa sudah harus menamatkan karya-karya sastra besar sekaliber Shakespiere melalui beberapa jumlah novel yang telah ditetapkan. Kebiasaan ini sudah dilakukan dari sekolah dasar melalui cerita-cerita ringan sampai karya-karya sastra terkenal dan itu menjadi kurikulum yang berlaku pada setiap sekolah. Di Malaysia juga demikian, yang mewajibkan membaca beberapa novel-novel sastrawan besar Melayu, termasuk juga karya-karya Hamka.

Kegiatan membaca ditinjau dari pembagian fungsi kerja otak kanan, maka kebiasaan menuliskan aspek visual, auditori, fikiran, dan emosi, dapat meningkatkan kecerdasan otak dan akan didorong oleh keingintahuan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Oleh sebab itu, kebiasaan membaca di negara Jepang (juga di beberapa negara maju lainnya) telah dimulai sejak kecil, karena dengan membacalah sel-sel saraf motorik bekerja secara maksimal jika dibandingkan dengan kebiasaan menonton yang membuat fungsi kerja sel-sel saraf menjadi pasif. Keempat keterampilan berbahasa; menulis, membaca, berbicara, dan menyimak telah dimulai sejak masa prapubertas, sehingga perkembangan otak pada masa golden age sangat diperhatikan melalui sistem yang sama berlaku bagi setiap siswa, yang diiringi oleh fasilitas yang memadai untuk perkembangan otak anak melalui sistem pendidikan yang tepat dan merata.

Pada usia prasekolah di Jepang, di hoikuen (penitipan anak  mulai usia 6 bulan – 4 tahun) atau play group dan yochien (taman kanak-kanak 5 – 6 tahun), anak sudah terlatih melalui keterampilan menyimak dan berbicara, yaitu melalui cerita-cerita yang dibacakan dan gambar-gambar yang membangun kreativitas melalui fungsi kerja hemisfer otak kanan secara maksimal. Anak belum dibebani oleh fungsi tugas hemisfer otak kiri melalui kemampuan berhitung dan kemampuan membaca, serta kemampuan berbahasa dengan tatabahasa yang benar. Anak dibebaskan berbahasa tanpa harus memperhatikan kaidah tata bahasa, karena proses pembenaran dan pembetulan akan terjadi secara tidak sadar dengan sendirinya sampai usia sekolah menengah melalui mata pelajaran kokugo (bahasa negara) dan mata pelajaran sain lainnya, karena semua buku-buku sain sudah ditulis dalam bahasa Jepang yang benar karena telah dibaca dan diedit oleh linguis bahasa Jepang atau pakar bahasa Jepang lebih dahulu.

Hampir semua buku-buku sain teknologi, sosial, dan seni serta buku ilmu pengetahuan umum lainnya, sudah ditulis dalam bahasa Jepang yang benar setelah melalui tahap review dan proses edit bahasa oleh dinas terkait penerbitan, termasuk juga buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa Jepang. Proses penerjemahan masih tetap digalakkan dari berbagai bidang ilmu dan pengetahuan umum yang sudah dimulai sejak zaman restorasi Meiji, yaitu penerjemahan besar-besaran ke dalam bahasa Jepang, sehingga bangsa Jepang dapat menyaingi bangsa lain bahkan melejit pesat dalam deretan negara maju. Hal ini juga yang dipraktekkan oleh negara Malaysia dalam menyikapi bahasa Melayu, karena konsep negara Malaysia ketika pemerintahan Mahathir, “berkiblat ke timur” merupakan suatu cara memajukan bangsanya mengikuti pola yang berlaku di Jepang. Buktinya dalam penggunaan bahasa Melayu ragam tulis, sangat konsisten digunakan kosa kata yang sudah ada padanannya dalam Kamus Dewan bahasa Melayu. Ketika sebuah buku akan diterbitkan dan sebuah istilah digunakan, terlebih dahulu dilakukan proses review dan edit bahasa oleh pihak Dewan Bahasa, yakni suatu badan resmi pemerintah yang mengatur masalah kebahasaan bahasa Melayu atau bahasa Melayu Malaysia sebagai bahasa negaranya. Hal ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap bahasa yang sudah diakui sebagai bahasa nasional suatu negara khusus  untuk ragam tulis.

Kepedulian dalam hal terampil menggunakan bahasa nasional, sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah dalam menyikapi dan mengeluarkan aturan-aturan berkenaan dengan bahasa. Tetapi kalau dilihat aturan kebahasaan dalam bahasa Indonesia, juga sudah dilakukan antara lain dengan adanya Badan Bahasa di pusat dan Balai Bahasa hampir di setiap provinsi, adanya pedoman EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), diterbitkannya kamu bahasa Indonesia, adanya istilah-istilah berbagai bidang ilmu dalam bahasa Indonesia, terbitnya berbagai jumlah buku  yang kuantitasnya cukup tinggi — walaupun tanpa harus melalui penilaian layak terbit oleh Badan Bahasa, dan dilaksanakannya pengajaran bahasa Indonesia mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi, menandakan perhatian pemerintah terhadap bahasa Indonesia sudah dilakukan. Tetapi berbagai upaya tersebut belum memberikan dampak positif terhadap kemampuan dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan siswa, mahasiswa, pendidik, dan masyarakat pada umumnya, baik dilihat dari keterampilan membaca, menyimak, berbicara, maupun dari keterampilan menulis. Apalagi peran bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah, sebagai bahasa resmi, dan sebagai bahasa nasional, masih memerlukan perhatian dalam segala aspek kehidupan bangsa Indonesia.

*Penulis merupakan Dosen Linguistik

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Bahasa dan Sikap Berbahasa Reviewed by on . Bahasa Indonesia ditinjau dari fungsi dan kedudukanya sudah tidak diragukan lagi, sehingga kesadaran ini sesuatu yang sudah seharusnya hafal di luar kepala. Di Bahasa Indonesia ditinjau dari fungsi dan kedudukanya sudah tidak diragukan lagi, sehingga kesadaran ini sesuatu yang sudah seharusnya hafal di luar kepala. Di Rating: 0

Permalink : https://wp.me/p52sAd-3Tn

Tinggalkan Komentar

scroll to top