Padang, gentaandalas.com – Kondisi Medan Nan Balindung (MNB) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB UNAND) kembali menuai sorotan. Hal ini dikarenakan kondisi fasilitas tersebut dinilai sudah tidak layak digunakan sebagai ruang untuk pertunjukan seni bagi mahasiswa, terutama saat hujan deras. Sejumlah mahasiswa dan dosen menyebut kerusakan pada bangunan tersebut kerap mengganggu kegiatan latihan maupun pertunjukan seni mahasiswa.
Sejumlah mahasiswa dan dosen sudah sering mengeluhkan kondisi MNB yang sering mengalami kerusakan, seperti kebocoran dan banjir sehingga mengganggu kegiatan latihan ataupun pertunjukan seni mahasiswa. Kondisi tersebut membuat kegiatan seni yang seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran di FIB tidak dapat berjalan optimal. Beberapa kegiatan bahkan harus disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Salah seorang dosen Jurusan Sastra Indonesia, Syafril, menyebutkan bahwa MNB pada awalnya memang disediakan sebagai fasilitas pertunjukan bagi mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya. Menurutnya, hampir seluruh jurusan yang ada di FIB membutuhkan ruang pertunjukan untuk menunjang kegiatan perkuliahan yang berkaitan dengan seni dan performa. “MNB itu diperuntukkan sebagai fasilitas pertunjukan terutama teater. Hampir setiap mata kuliah di jurusan FIB memerlukan pertunjukan,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada (23/2/2026).
Namun, kondisi bangunan yang tidak terjaga membuat kegiatan yang ada sering terhambat. Syafril mengatakan bahwa atap bangunan kerap bocor ketika hujan, sementara saat cuaca panas mahasiswa harus berlatih dalam kondisi yang sangat terik. Situasi tersebut dinilai tidak mendukung kegiatan seni yang membutuhkan kenyamanan ruang. “Kalau hujan, mahasiswa akan kehujanan saat akan pentas. Kalau panas, mahasiswa juga kepanasan saat latihan,” katanya.
Syafril juga menyebutkan bahwa sebelumnya sudah ada rencana renovasi MNB dengan anggaran Rp125 juta. Ia mengaku sempat diminta menyampaikan masukan mengenai bagian-bagian bangunan yang perlu diperbaiki. Namun hingga kini, rencana tersebut belum juga terealisasikan. “Sejak dana itu habis, saya tidak tahu lagi kelanjutannya. Kita tetap menggunakan MNB karena memang hanya itu yang ada,” ujarnya.
Imbas dari kondisi tersebut, beberapa jurusan terpaksa harus memindahkan kegiatan pertunjukan ke tempat lain dengan menyewa lokasi di luar kampus. Hal ini tentu menambah beban biaya bagi mahasiswa maupun pihak jurusan. Selain itu, pemindahan lokasi juga membuat kegiatan tidak lagi berlangsung di ruang yang dirancang khusus untuk pertunjukan seni.
Salah seorang mahasiswa FIB berinisial PE turut menyampaikan pengalamannya selama mengikuti latihan maupun tampil di MNB. Ia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya merasa arsitektur MNB cukup baik dan mampu menampung banyak penonton. Namun ketika digunakan secara langsung, kondisi bangunan justru menimbulkan kekhawatiran, terutama saat hujan.
“Pada mulanya, saya senang karena melihat tempat yang diperuntukkan benar-benar untuk penampilan dan arsitektur yang bagus untuk menampung banyak pihak. Tetapi ketika sudah menjalankan aktivitas, saya merasa sangat hati-hati, terlebih ketika hujan. Atap dari kejauhan tampak gagah, tapi saat didekati rapuh sekali. Lubang di mana-mana, menyebabkan kebocoran di tempat duduk MNB,” ujar PE saat diwawancarai Genta Andalas (24/2/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi lantai yang retak dan licin sering kali membahayakan para penampil. Menurutnya, salah satu rekannya bahkan sempat tergelincir saat pertunjukan berlangsung di tengah hujan deras dan genangan air di area depan panggung. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi bangunan tidak hanya mengganggu kegiatan seni, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan mahasiswa.
“Lantainya penuh retakan semen dan menjadi sangat licin ketika hujan karena lumut di atasnya. Rekan saya waktu itu tergelincir saat penampilan sedang berlangsung di hadapan penonton yang banyak. Apalagi kondisi saat itu hujan deras dan bagian depan MNB banjir semata kaki. Sangat membahayakan,” lanjutnya.
Menanggapi keluhan dosen dan mahasiswa tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Ike Revita menyampaikan bahwa pihak fakultas saat ini tengah berupaya mencari sponsor atau donatur untuk memperbaiki fasilitas MNB. Menurutnya, fakultas telah menyiapkan konsep bangunan MNB yang lebih representatif sebagai bagian dari upaya menarik dukungan pendanaan dari pihak luar. “Saat ini kita sedang mencoba mencari sponsor atau donatur karena kalau kita harapkan dari kita maka tidak cukup. Kita sudah melakukan secara bertahap apa hal-hal yang perlu disiapkan untuk menggait dana dari donatur, bahkan sudah ada gambar MNB yang lebih representatif,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada (27/2/2026).
Ia menambahkan bahwa penggunaan dana negara untuk renovasi bangunan memerlukan proses administrasi yang cukup panjang. Meski demikian, pihak fakultas tetap berupaya agar fasilitas tersebut dapat diperbaiki sehingga mahasiswa memiliki ruang yang layak untuk berkegiatan. “Kalau memakai uang negara ada proses dan aturan panjang. Tetapi bagaimanapun juga FIB ini bagian dari UNAND. Ketika FIB tidak bagus maka UNAND juga tidak bagus. Karena itu kita tetap berikhtiar supaya MNB bisa lebih representatif sehingga mahasiswa nyaman beraktivitas di situ,” tutupnya.
Reporter: Nasywa Luthfiyyah Edfa dan Pitri Yani
Editor: Auryn Dzakirah







