Padang, gentaandalas.com – Seorang mahasiswa Universitas Andalas (UNAND) diduga mencuri sepeda motor milik teman sekamarnya sendiri di asrama kampus pada Kamis (19/2/2026). Aksi tersebut terungkap setelah pihak keamanan kampus memantau rekaman CCTV dan melakukan interogasi bersama kepolisian. Kasus ini sempat ditangani aparat sebelum akhirnya diselesaikan melalui mediasi internal.
Korban, berinisial E, menyadari sepeda motornya hilang usai menyelesaikan perkuliahan sekitar pukul 14.30 WIB. Ia sempat mencari kendaraannya di sekitar area parkir Gedung I namun tidak membuahkan hasil. Setelah itu, ia melaporkan kejadian tersebut kepada pihak keamanan kampus.
“Setelah dicari satpam di sekitar Gedung I tapi tidak ada, kami langsung dibawa ke pos di rektorat untuk melihat CCTV yang ada di dekat parkiran,” ungkap E saat diwawancarai Genta Andalas Sabtu (28/2/2026). Dari rekaman CCTV tersebut, korban mulai mencurigai seseorang yang dikenalnya dari helm yang digunakan pelaku. Kecurigaan itu muncul karena helm yang terlihat di CCTV terasa familiar baginya.
“Sebenarnya setelah lihat CCTV itu, aku langsung kepikiran sama satu orang karena helm yang dia pakai familiar,” tambahnya. Kecurigaan itu semakin kuat ketika pada malam hari terduga pelaku kembali ke kamar dengan membawa helm yang sama seperti yang terekam CCTV. Terduga pelaku diketahui merupakan mahasiswa UNAND sekaligus teman sekamar korban.
“Helmnya langsung aku foto dan kukirim sebagai barang bukti,” ujar E. Foto tersebut kemudian dijadikan dasar laporan lanjutan kepada pihak keamanan kampus. Pihak keamanan pun segera menindaklanjuti laporan tersebut pada malam yang sama.
Kepala Satpam UNAND, Asril, mengatakan pihaknya awalnya mengedepankan pendekatan persuasif agar kasus dapat diselesaikan secara internal. Terduga pelaku dipanggil pada malam (19/2/2026) untuk dimintai keterangan. Namun, pada tahap awal tersebut pelaku belum mengakui perbuatannya.
“Malamnya kita panggil, kita bujuk supaya ngaku biar bisa diselesaikan secara internal secara kekeluargaan saja, tidak perlu diserahkan ke polisi. Tapi malam itu dia belum mau ngaku,” jelas Asril saat diwawancarai pada Rabu (25/2/2026). Karena terduga pelaku mengelak, pihak keamanan kembali memantau rekaman CCTV asrama pada (20/2/2026). Pemantauan ulang dilakukan untuk memastikan keterlibatan pelaku dalam kejadian tersebut.
Dari hasil pemantauan ulang, terlihat terduga pelaku berada di kawasan asrama sebelum dan saat kejadian berlangsung. Asril menjelaskan bahwa pelaku tidak merusak kendaraan karena menggunakan kunci yang telah diduplikat sebelumnya. Tindakan tersebut dinilai sebagai aksi yang telah direncanakan.
“Pelaku menggunakan kunci yang sudah diduplikat. Kunci tersebut diduplikat saat korban ketiduran usai sahur. Jadi dia tinggal membawa kabur motor tersebut tanpa merusak stang. Tindakan ini memang sudah terencana,” tegas Asril.
Berdasarkan bukti tersebut, pihak kepolisian dari Polsek setempat melakukan interogasi lebih lanjut terhadap terduga pelaku. Dalam proses itu, pelaku akhirnya mengakui perbuatannya. Menurut keterangan korban, hasil penjualan motor digunakan untuk kepentingan pribadi pelaku. “Uang dari jual motor itu digunakan sama dia untuk periksa gigi dan DP (Uang Muka) pemasangan behel,” tutur E.
Selain sepeda motor, pelaku juga diketahui mengambil dompet korban yang berisi STNK dan kartu ATM. Sebelumnya, pelaku juga pernah mengambil uang tunai Rp200.000 milik korban. Dompet tersebut akhirnya ditemukan kembali di area parkir, namun kartu ATM korban telah hilang. Kasus ini sempat ditangani oleh kepolisian sebelum akhirnya korban mencabut laporannya. Penyelesaian kemudian dilakukan melalui mediasi secara internal.
Mediasi dilaksanakan pada Senin (23/2/2026) dengan melibatkan keluarga korban, keluarga pelaku, serta pihak fakultas. Dalam kesepakatan tersebut, pelaku diwajibkan bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan. Motor korban dikembalikan sebagai bagian dari tanggung jawab tersebut.
“Hasil akhir diselesaikan dengan cara internal. Pihak pelaku wajib bertanggung jawab atas tindakan dan kerugian yang ditimbulkan (mengembalikan motor),” ujar E. Korban juga menyebut mediasi tersebut turut dihadiri langsung oleh dekan fakultas.
Terkait status pelaku di asrama, pihak asrama UNAND menyatakan kepada korban bahwa pelaku kemungkinan akan dipindahkan dan tidak lagi sekamar dengannya jika kembali berkuliah. Saat ini, pelaku dikabarkan masih berada di kantor polisi dan akan dibawa pulang oleh keluarganya. Informasi tersebut diperoleh korban dari pihak asrama.
Peristiwa ini meninggalkan dampak psikologis bagi korban yang mengaku menjadi lebih waspada setelah kejadian tersebut. Ia menyatakan tidak ingin lagi satu kamar dengan orang lain untuk sementara waktu. Korban juga mengingatkan mahasiswa lain agar lebih berhati-hati menjaga barang pribadi.
“Mungkin karena kejadian ini aku jadi lebih waspada dan tidak mau satu kamar lagi dengan orang lain. Pesan saya untuk mahasiswa lain, barang selalu dijaga dan jangan terlalu percaya sama orang, belum tentu orang itu akan baik juga ke kita,” tutupnya.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak keamanan UNAND mengimbau mahasiswa untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang bulan Ramadan yang dinilai rawan aksi pencurian. Mahasiswa diminta selalu menggunakan kunci ganda pada kendaraannya sebagai langkah pencegahan. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Reporter: Nabila Ramadhani dan Tantri Pramudita
Editor: Auryn Dzakirah







