* Oleh : Oktavia Ramadhani
Di tengah kehidupan Kota Padang, ada satu tradisi yang tetap hidup meskipun sering luput dari perhatian, yaitu silek. Ia tidak sekadar hadir sebagai warisan bela diri Minangkabau saja, melainkan juga sebagai ruang pembentukan karakter, tempat sopan santun dipelajari, dan nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meski kerap dianggap sebagai tradisi lama, silek justru menyimpan filosofi yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Silek tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri atau penguasaan teknik gerak semata. Lebih dari itu, silek menjadi sarana orang Minangkabau menanamkan sikap, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral sejak dini. Kekuatan fisik dalam silek selalu diiringi dengan kesabaran dan kesadaran untuk tidak menyalahgunakan kemampuan yang dimiliki.
Dalam konteks inilah Perguruan Satria Muda Indonesia (SMI) hadir sebagai salah satu ruang penting dalam menjaga keberlanjutan silek. Melalui wawancara dengan Anwar Ramadhan, pelatih utama SMI Unit Padang, tampak jelas bahwa silek kini tidak lagi dipahami semata sebagai tradisi lama, tetapi telah berkembang menjadi ruang pembinaan modern tanpa kehilangan nilai adat yang melandasinya.
Perguruan Satria Muda Indonesia didirikan pada 19 Juli 1987 oleh tiga pemuda Minangkabau. Meskipun kini dikenal secara nasional, perguruan ini tetap berakar kuat pada tradisi Minangkabau. SMI lahir dari pengembangan Perguruan Silat Baringan Sakti dan kemudian berkembang dengan menggabungkan berbagai aliran silat Minangkabau dan Jawa, seperti Silek Tuwo, Kumango, Taralak, Sunua, Cimande, hingga Cikalong. Keberagaman aliran tersebut menjadikan SMI sebagai perguruan yang terbuka dan inklusif, sekaligus memperkaya khazanah persilatan yang diajarkan kepada para muridnya.
Dalam proses latihan, silek dipahami sebagai pendidikan jasmani sekaligus pendidikan batin. Setiap gerakan dan latihan mengajarkan disiplin, kerendahan hati, serta sikap saling menghormati. Filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk menjadi pengingat agar pesilat tidak terjebak pada kesombongan.
“Pesilat sejati bukan yang pandai memukul, tetapi yang mampu menahan diri dan bermanfaat bagi orang lain.” jelas Anwar saat diwawancara pada Minggu (5/10/2025).
Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam simbol dan atribut perguruan. Logo Satria Muda Indonesia memuat delapan mata angin yang melambangkan penyebaran silek ke berbagai penjuru, keris sebagai simbol warisan budaya, padi sebagai lambang kerendahan hati, serta lima ikatan bohol yang menyimbolkan persaudaraan dan kesatuan antarpesilat. Sistem tingkatan sabuk putih, merah, dan hitam tidak hanya menandai kemampuan teknis, tetapi juga menggambarkan perjalanan mental dan kedewasaan seorang pesilat dalam memahami dirinya sendiri.
Seiring perkembangan zaman, tradisi dalam dunia persilatan pun mengalami penyesuaian. Jika pada masa lalu calon murid harus melalui upacara manat atau mandi minyak sebagai bentuk penyucian diri, kini pendekatan latihan dibuat lebih modern dan terbuka. Meski demikian, nilai-nilai utama seperti komitmen, kedisiplinan, dan kesiapan mental tetap dijaga. Penyesuaian ini membuat silek tetap dapat diterima oleh generasi muda tanpa kehilangan jati dirinya.
Selain menjaga tradisi, Satria Muda Indonesia juga aktif dalam dunia prestasi. Di bawah bimbingan Bang Anwar sejak tahun 2011, banyak murid yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai ajang, seperti O2SN, POPDA, POPNAS, hingga PON. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa silek mampu menjadi ruang positif bagi generasi muda, baik sebagai olahraga prestasi maupun sebagai sarana pembentukan karakter.
Namun demikian, silek masih menghadapi tantangan, terutama terkait cara pandang masyarakat. Di wilayah perkotaan, silat mulai diterima sebagai olahraga prestasi yang bergengsi, sementara di sebagian daerah masih dianggap sebagai tradisi lama yang kurang relevan. Padahal, silek justru menawarkan pendidikan karakter yang jarang ditemukan dalam olahraga modern lainnya.
Silek bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan tradisi hidup yang terus menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Satria Muda Indonesia menjadi contoh bagaimana silek dapat dirawat, dijalani, dan diwariskan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Selama masih ada pelatih yang setia mengajarkan nilai-nilai silek dan generasi muda yang bersedia memulai langkah pertama dalam kuda-kuda, silek akan tetap bertahan, dan tidak hanya sebagai rangkaian gerakan, tetapi juga sebagai pedoman hidup.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas







