• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 19 Februari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Sastra dan Budaya Khasanah Budaya

Menjaga Silek di Zaman Modern

oleh Redaksi
4 Januari 2026 | 21:15 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

ShareShareShareShare

* Oleh : Oktavia Ramadhani

Di tengah kehidupan Kota Padang, ada satu tradisi yang tetap hidup meskipun sering luput dari perhatian, yaitu silek. Ia tidak sekadar hadir sebagai warisan bela diri Minangkabau saja, melainkan juga sebagai ruang pembentukan karakter, tempat sopan santun dipelajari, dan nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meski kerap dianggap sebagai tradisi lama, silek justru menyimpan filosofi yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Silek tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri atau penguasaan teknik gerak semata. Lebih dari itu, silek menjadi sarana orang Minangkabau menanamkan sikap, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral sejak dini. Kekuatan fisik dalam silek selalu diiringi dengan kesabaran dan kesadaran untuk tidak menyalahgunakan kemampuan yang dimiliki.
Dalam konteks inilah Perguruan Satria Muda Indonesia (SMI) hadir sebagai salah satu ruang penting dalam menjaga keberlanjutan silek. Melalui wawancara dengan Anwar Ramadhan, pelatih utama SMI Unit Padang, tampak jelas bahwa silek kini tidak lagi dipahami semata sebagai tradisi lama, tetapi telah berkembang menjadi ruang pembinaan modern tanpa kehilangan nilai adat yang melandasinya.

Perguruan Satria Muda Indonesia didirikan pada 19 Juli 1987 oleh tiga pemuda Minangkabau. Meskipun kini dikenal secara nasional, perguruan ini tetap berakar kuat pada tradisi Minangkabau. SMI lahir dari pengembangan Perguruan Silat Baringan Sakti dan kemudian berkembang dengan menggabungkan berbagai aliran silat Minangkabau dan Jawa, seperti Silek Tuwo, Kumango, Taralak, Sunua, Cimande, hingga Cikalong. Keberagaman aliran tersebut menjadikan SMI sebagai perguruan yang terbuka dan inklusif, sekaligus memperkaya khazanah persilatan yang diajarkan kepada para muridnya.

Baca Juga  Pesona Hoyak Tabuik Pariaman, Ribuan Warga Saksikan Tabuik Dilarungkan ke Laut

Dalam proses latihan, silek dipahami sebagai pendidikan jasmani sekaligus pendidikan batin. Setiap gerakan dan latihan mengajarkan disiplin, kerendahan hati, serta sikap saling menghormati. Filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk menjadi pengingat agar pesilat tidak terjebak pada kesombongan.

“Pesilat sejati bukan yang pandai memukul, tetapi yang mampu menahan diri dan bermanfaat bagi orang lain.” jelas Anwar saat diwawancara pada Minggu (5/10/2025).

Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam simbol dan atribut perguruan. Logo Satria Muda Indonesia memuat delapan mata angin yang melambangkan penyebaran silek ke berbagai penjuru, keris sebagai simbol warisan budaya, padi sebagai lambang kerendahan hati, serta lima ikatan bohol yang menyimbolkan persaudaraan dan kesatuan antarpesilat. Sistem tingkatan sabuk putih, merah, dan hitam tidak hanya menandai kemampuan teknis, tetapi juga menggambarkan perjalanan mental dan kedewasaan seorang pesilat dalam memahami dirinya sendiri.

Seiring perkembangan zaman, tradisi dalam dunia persilatan pun mengalami penyesuaian. Jika pada masa lalu calon murid harus melalui upacara manat atau mandi minyak sebagai bentuk penyucian diri, kini pendekatan latihan dibuat lebih modern dan terbuka. Meski demikian, nilai-nilai utama seperti komitmen, kedisiplinan, dan kesiapan mental tetap dijaga. Penyesuaian ini membuat silek tetap dapat diterima oleh generasi muda tanpa kehilangan jati dirinya.

Baca Juga  Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

Selain menjaga tradisi, Satria Muda Indonesia juga aktif dalam dunia prestasi. Di bawah bimbingan Bang Anwar sejak tahun 2011, banyak murid yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai ajang, seperti O2SN, POPDA, POPNAS, hingga PON. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa silek mampu menjadi ruang positif bagi generasi muda, baik sebagai olahraga prestasi maupun sebagai sarana pembentukan karakter.

Namun demikian, silek masih menghadapi tantangan, terutama terkait cara pandang masyarakat. Di wilayah perkotaan, silat mulai diterima sebagai olahraga prestasi yang bergengsi, sementara di sebagian daerah masih dianggap sebagai tradisi lama yang kurang relevan. Padahal, silek justru menawarkan pendidikan karakter yang jarang ditemukan dalam olahraga modern lainnya.

Silek bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan tradisi hidup yang terus menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Satria Muda Indonesia menjadi contoh bagaimana silek dapat dirawat, dijalani, dan diwariskan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Selama masih ada pelatih yang setia mengajarkan nilai-nilai silek dan generasi muda yang bersedia memulai langkah pertama dalam kuda-kuda, silek akan tetap bertahan, dan tidak hanya sebagai rangkaian gerakan, tetapi juga sebagai pedoman hidup.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: #unand #genta Andalasbudayaminangkabausilek
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

25 Agustus 2025 | 14:22 WIB

Tradisi Tolak Bala Masyarakat Nagari Parambahan Membina Kerukunan Antar Warga

20 Juli 2024 | 22:35 WIB
Dangke Naniura/ Indonesia .go.id

Dengke Naniura Cita Rasa Sashimi Khas Indonesia dari Suku Batak

6 Mei 2024 | 18:20 WIB
Dok. Taman Budaya Sumatra Utara/ Jefri Tarigan

Tradisi Pemindahan Tulang Jenazah, Bentuk Penghormatan Kepada Leluhur Khas Suku Batak

6 Mei 2024 | 00:37 WIB
Juadah, makanan pernikahan khas Padang Pariaman

Juadah, Hantaran Pernikahan Khas Padang Pariaman

3 Juli 2023 | 18:08 WIB
(Ilustrator/Raudhatul Tassya Kahirunnisa)

Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

3 Juli 2023 | 13:00 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustratsi/Fadhilah Lisma Sari)

    Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Audiensi UKM PHP Bersama Pimpinan Unand Bahas Dana dan Sistem Wisuda Terpusat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Fakultas Teknik Unand Rampungkan Prodi Baru Teknik Arsitektur Tahun ini

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Maraknya Westernisasi, Apakah Budaya Tradisional Sudah Dianggap Kuno Oleh Generasi Muda?

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak