• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, 21 Januari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Wawasan

Raden Hamzah Sang Panglima Perang Kesultanan Jambi

oleh Redaksi
4 Desember 2025 | 20:21 WIB
Tim peneliti arkeologi melakukan pengukuran makam Raden Hamzah bin Pangeran Ojoet/Raden Abdullah Kartawijaya pada Selasa (12/11/2025) (Tim Peneliti)

Tim peneliti arkeologi melakukan pengukuran makam Raden Hamzah bin Pangeran Ojoet/Raden Abdullah Kartawijaya pada Selasa (12/11/2025) (Tim Peneliti)

ShareShareShareShare

Nama Raden Hamzah bin Pangeran Ojoet mungkin belum banyak dikenal di daerah luar Jambi. Namun, jejak perjuangannya menyimpan kisah penting tentang perlawanan rakyat Jambi terhadap kolonialisme Belanda pada awal abad ke-20. Melalui penelitian arkeologi yang dilakukan di daerah Bungo, terungkap lanskap perjuangan seorang panglima perang Sultan Taha. Penelitian yang dilakukan oleh tim arkeologi tidak hanya sekedar menelusuri kuburan dan tempat eksekusi Raden Hamzah, tetapi juga turut menghidupkan memori kolektif pada salah satu tokoh bangsawan Jambi yang memiliki peran yang besar.

Raden Hamzah merupakan anak dari Pangeran Ojoet, serta cucu dari Pangeran Kartawijaya yang bersaudara dengan Sultan Taha. Maka secara garis keturunan, Raden Hamzah ialah cucu dari Sultan Taha. Ia lahir dari lingkungan keluarga bangsawan Kesultanan Jambi pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20, yang mempunyai garis hubungan dengan Putri Pinang Masak, putri dari kerajaan Pagaruyuang yang menikah dengan penguasa Jambi.

Jambi dahulunya merupakan sebuah Kesultanan. Menurut kronik sejarah tradisional yang tertulis dalam Tijdscrift (Tijdscrift Batavia Genootschaap van Kunsten Wetenschappen) 1856, disebutkan bahwa ketika Rangkayo Hitam menjadi pangeran di Jambi, ia berhasil mengalahkan Sultan Agung. Karena kekalahan itulah Sultan Agung menikahkan putrinya dengan Rangkayo Hitam dan memberikan mas kawin berupa sebuah keris yang disebut dengan Keris Siginjai. Dari sinilah awal mula berdirinya Kesultanan Jambi.

Kolonialisme Belanda juga terjadi di daerah Jambi. Intervensi Belanda semakin kuat setelah munculnya perundang-undangan tahun 1866 yang mengatur tata pemerintahan Hindia Belanda. Sejak saat itu, Belanda mulai ikut campur dalam tatanan sosial di daerah Jambi. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi para bangsawan Jambi yang sejak lama telah memimpin masyarakatnya.

Baca Juga  Sariang, Teknologi Pintar Filtrasi Minyak Jelantah Berstandar SNI

Pada masa Sultan Taha, mulai muncul perlawanan intens terhadap Belanda. Berdasarkan sumber Belanda serta catatan mengenai Sultan Taha sebagai pahlawan nasional, perlawanan gerilya dimulai tahun 1905. Di mana ia membangun benteng-benteng pertahanan di Muara Kubu dan Muaro Bungo. Perlawanan ini melibatkan banyak bangsawan lain seperti Raden Umar, Raden Pamoek, Putri Rafi’ah, serta Raden Hamzah yang dipercaya sebagai panglima perang Sultan Taha di daerah Muaro Bungo. Titik-titik perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Taha meliputi daerah Limbur, Merangin, Tembesi hingga sampai perbatasan Indragiri.

Namun, ketika Sultan Taha dianggap terbunuh, yang mana dalam beberapa catatan sejarah menyebut ia terbunuh pada saat Perang Rantau Kikil, ada pula yang menyebut di Betung Bedarah, dan ada juga yang menyebut beliau tidak meninggal, tetapi mengungsi ke Pesisir Barat Sumatera di Tarusan. Pada sepeninggal Sultan Taha itulah, muncul Raden Hamzah yang memegang kendali sebagai pimpinan perang Kesultanan Jambi.

Semasa menjadi pimpinan perang, Raden Hamzah tetap mengikuti pola peperangan yang sudah dibangun oleh Sultan Taha. Di mana dengan membangun 12 benteng yang semuanya adalah gaya gerilya Sultan Taha. Titik-titik persebaran benteng tersebut menyebar dari Muaro Bungo, Tembesi, Padang Lawas, hingga Sarolangun.

Baca Juga  Persepsi Gunung Padang: Bagaimana Pseudoarkeologi Mempengaruhi Imajinasi Publik

Gerakan gerilya nya mirip dengan pola gerilya di banyak wilayah Indonesia, yaitu bergerak mengikuti patroli Belanda. Ketika Belanda memeriksa suatu wilayah, pasukan Raden Hamzah mencegat, bertempur, lalu berpindah. Selama ia menjadi pimpinan perang, Raden Hamzah sangat dicari oleh Belanda. Pos-pos yang dianggap potensial selalu diperiksa Belanda, bahkan mereka dibantu oleh keluarga bangsawan Jambi yang memihak Belanda.

Salah satu dosen Arkeologi UNAND, Alfa Noranda, yang ikut dalam penelitian ini memaparkan bahwa Raden Hamzah sebagai panglima dan pimpinan perang pada masa itu memiliki peran besar dalam melawan kolonialisme Belanda. Atas peran besar tersebutlah yang menjadi dasar pengusulannya menjadi pahlawan nasional dari Jambi.

Pada saat wafat, beliau dicegat dan ditangkap di salah satu bukit di daerah perbatasan antara Taman Nasional Seblat (TNS) dan Taman Nasional Kerinci, kawasan terlindung Kerinci yang berbatasan langsung dengan Lubuk Mengkuang, Limbur. Berdasarkan catatan dan cerita masyarakat setempat, ia dibawa ke Limbur dan dieksukusi di sana.

Walaupun rentang perjuangan Raden Hamzah singkat, yaitu dari tahun 1905-1906, pemberitaan mengenai wafatnya oleh Belanda berlangsung lama hingga tahun 1919. Hal ini  menunjukkan seberapa besar pengaruh Raden Hamzah dalam melawan kolonialisme Belanda di daerah Bungo, Jambi.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: Arkeologisejarah
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Fenomena Echo Chamber di Era Masyarakat Digital

4 November 2025 | 10:40 WIB

Kompleks Makam Kuno Malalo: Bukti Tradisi Berkelanjutan dari Megalitik hingga Islam

5 September 2025 | 22:33 WIB
(Ilustrasi/ Sabilla Hayatul Dhi’fa)

Persepsi Gunung Padang: Bagaimana Pseudoarkeologi Mempengaruhi Imajinasi Publik

16 Juli 2025 | 12:06 WIB
Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira

Menyingkap Flora Langka Nusantara, Dua Begonia Baru Ditemukan

25 Juni 2025 | 20:52 WIB
Dok. Pribadi

Terravor, Inovasi Unik Tumbuhan Karnivora sebagai Penghias Ruangan

24 Oktober 2023 | 20:59 WIB

Sariang, Teknologi Pintar Filtrasi Minyak Jelantah Berstandar SNI

15 Oktober 2023 | 13:56 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • KKN Kebencanaan Kapalo Koto dan UNIB Salurkan Bantuan Gizi Pasca Banjir

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Peminjaman Gedung UNAND Masih Hadapi Kendala Teknis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2026

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak