• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, 31 Desember 2025
gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
gentaandalas.com
Home Wawasan

Fenomena Echo Chamber di Era Masyarakat Digital

oleh Redaksi
4 November 2025 | 10:40 WIB
ShareShareShareShare

Oleh: Nasywa Luthfiyyah Edfa*

Di zaman sekarang batas antara kehidupan nyata dan dunia digital semakin tidak terlihat. Kegiatan seperti belajar, bekerja sampai interaksi sosial kini sering berlangsung di ruang digital. Sosiolog Deborah Lupton menyebut situasi ini sebagai ciri dari masyarakat digital, dimana masyarakat tidak bisa memisahkan kehidupan nyata dengan kehidupan maya.

Dosen Sosiologi, Zeni Eka Putri mengungkapkan bahwa masyarakat digital telah mengalami proses terdigitalisasi, maksudnya kehidupan sehari hari kita saat ini banyak bergantung pada teknologi, terutama media sosial. “Ketika seseorang berinteraksi di dunia nyata, ia secara tidak langsung juga terhubung ke dunia maya, membentuk identitas ganda antara diri fisik dan digital.” Ungkap Zeni saat diwawancarai Genta Andalas pada Rabu (29/10/2025).

Dari sini, muncullah fenomena sosial baru, yaitu echo chamber. Sebelum membahas apa itu echo chamber, kita perlu memahami bahwa ada dua konsep penting yang menjadi akar kemunculan echo chamber ini, yaitu algoritma dan filter bubble. Pertama, algoritma adalah sistem yang mengatur aliran informasi di dunia digital. Algoritma bekerja dengan menyesuaikan apa yang pengguna lihat berdasarkan kebiasaan, minat dan aktivitas pencarian. Misalnya, ketika seseorang mencari sepatu di internet, maka iklan dan konten tentang sepatu akan bermunculan di seluruh media sosialnya, sehingga algoritma ini menciptakan ruang informasi yang disesuaikan dengan preferensi individu.

Dari bagaimana algoritma ini bekerja maka terbentuklah filter bubble, yaitu sebuah “gelembung penyaring” yang hanya menyajikan informasi berdasarkan dengan pandangan dan minat pengguna. Dalam gelembung ini, masyarakat cenderung terpapar pada hal-hal yang diyakini dan disukai, sedangkan pandangan yang berbeda tidak muncul lagi dihadapannya, sehingga mengakibatkan ruang digital masyarakat menjadi homogen dan sempit. Kondisi seperti inilah yang disebut dengan fenomena echo chamber.

BACA JUGA  Negara Lalai, Rakyat Resah: Cermin Buram Perlindungan Data di Indonesia

“Echo chamber muncul ketika orang-orang yang mempunyai pandangan yang sama bersatu dalam satu komunitas digital lalu saling memperkuat opini yang sama. Akibatnya, informasi yang diterima oleh kelompok tersebut hanya berputar di lingkaran yang sama, seperti gema dalam ruangan tertutup,” ujar Zeni menerangkan.

Kondisi ini membuat seseorang sulit menerima dan menilai pandangan yang berbeda serta lebih mudah meyakini informasi yang sebenarnya belum tentu benar. Fenomena echo chamber kini sudah masuk ke berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Dalam bidang politik, masyarakat sudah mulai terpolarisasi, akibat dari algoritma media sosial yang hanya memunculkan informasi atau konten dari kubu yang didukung. Istilah seperti anak abah versus gemoy atau cebong versus kampret menunjukkan perselisihan itu, sehingga ruang digital diisi dengan perdebatan serta hujatan antar kelompok. Tanpa literasi digital yang baik, seseorang akan sangat rentan terjebak hoax akibat dari menerima narasi yang sama terus menerus.

Di bidang ekonomi, echo chamber mendorong perilaku konsumtif. Algoritma yang memperlihatkan produk sesuai keinginan dan minat membuat masyarakat ingin membeli barang yang tidak mereka butuhkan, sehingga menciptakan gaya hidup hedonistik dan rasa takut ketinggalan (FOMO).

BACA JUGA  Scroll, Skip, Lelah: Tantangan Mental Generasi Digital

Di bidang sosial, pola hubungan dan interaksi masyarakat ikut bergeser. Zeni memaparkan bahwa echo chamber ini “mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat.” Di zaman sekarang, ketika berinteraksi dengan teman atau orang lain, individu cenderung lebih fokus dengan interaksi digitalnya hingga muncul satu fenomena yaitu phubbing, mengabaikan orang di sekitar karena sibuk dengan ponsel.

Namun, echo chamber tidak hanya mempunyai dampak negatif tapi juga memiliki dampak positif karena algoritma media sosial bisa mempertemukan kita dengan ruang diskusi, komunitas sosial atau kegiatan donasi. Tapi dampak negatifnya tetap perlu kita waspadai agar kita tidak terjebak cara berpikir yang sempit dan homogen.

Ada 3 saran atau cara yang dijelaskan oleh Zeni agar masyarakat khususnya generasi muda tidak terjebak dampak negatif echo chamber ini. Pertama, memperkuat literasi digital, hal ini bertujuan agar kita bisa memilah mana informasi yang benar dan mana yang hoax. Kedua, bergaul atau berinteraksi dengan orang yang berbeda pandangan dengan kita agar memperluas wawasan.

Ketiga, batasi intensitas penggunaan media sosial dengan melakukan sosial media detox, yaitu beristirahat sejenak dari media sosial untuk meredakan pikiran dan mencegah paparan informasi yang berlebihan. Fenomena echo chamber ini mencerminkan bagaimana masyarakat digital membentuk cara berperilaku dan berpikir. Maka, berpikir kritis dan terbuka merupakan hal yang penting agar kita tidak hidup dalam gema pandangan sendiri.

*Penuulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

Tag: digitalecho chamberfenomena sosial
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Tim peneliti arkeologi melakukan pengukuran makam Raden Hamzah bin Pangeran Ojoet/Raden Abdullah Kartawijaya pada Selasa (12/11/2025) (Tim Peneliti)

Raden Hamzah Sang Panglima Perang Kesultanan Jambi

4 Desember 2025 | 20:21 WIB

Kompleks Makam Kuno Malalo: Bukti Tradisi Berkelanjutan dari Megalitik hingga Islam

5 September 2025 | 22:33 WIB
(Ilustrasi/ Sabilla Hayatul Dhi’fa)

Persepsi Gunung Padang: Bagaimana Pseudoarkeologi Mempengaruhi Imajinasi Publik

16 Juli 2025 | 12:06 WIB
Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira

Menyingkap Flora Langka Nusantara, Dua Begonia Baru Ditemukan

25 Juni 2025 | 20:52 WIB
Dok. Pribadi

Terravor, Inovasi Unik Tumbuhan Karnivora sebagai Penghias Ruangan

24 Oktober 2023 | 20:59 WIB

Sariang, Teknologi Pintar Filtrasi Minyak Jelantah Berstandar SNI

15 Oktober 2023 | 13:56 WIB

TERPOPULER

  • Warga membersihkan sisa material banjir di sekitar rumah mereka di kawasan Batu Busuk, Sabtu (28/12/2025). (Sabila Hayatul Dhi’fa/Genta Andalas)

    Sebulan Pascabanjir Bandang, Warga Batu Busuk Masih Berjuang Pulih

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kolaborasi UNAND dan UNIB dalam KKN Kebencanaan di Sumatra Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kronologi Korupsi Alat Laboratorium yang Jerat Petinggi UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
gentaandalas.com

Genta Andalas © 2025

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak