• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 1 Januari 2026
gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
gentaandalas.com
Home Aspirasi

Solidaritas Perempuan, Jangan Hanya di Media Sosial

oleh Redaksi
5 September 2025 | 22:58 WIB
(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

ShareShareShareShare

Oleh: Alizah Fitri Sudira*

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah woman support woman kian sering muncul di media sosial. Frasa ini dimaknai sebagai dukungan perempuan terhadap sesamanya, khususnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender maupun saat menjadi korban kekerasan. Konsep tersebut terdengar ideal: perempuan saling menguatkan agar merasa aman dan nyaman di lingkungannya. Namun, pertanyaannya, apakah nilai woman support woman benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya berhenti sebagai jargon?

Faktanya, dalam banyak kasus, perempuan justru lebih sering menghakimi dari pada mendukung sesamanya. Solidaritas biasanya muncul hanya dalam lingkaran pertemanan, sementara dalam kasus pelecehan seksual, justru kerap terdengar komentar seksis dari sesama perempuan. Ucapan bernada menyalahkan korban seperti “kenapa kamu mau?”, “makanya perempuan harus jaga diri,” atau pernyataan merendahkan lainnya, hanya memperkuat stigma negatif yang sudah lama menjerat perempuan.

Tidak hanya dalam kasus kekerasan seksual, fenomena serupa juga terlihat ketika pasangan suami istri belum dikaruniai anak. Tekanan sosial hampir selalu diarahkan kepada istri, seakan-akan masalah kesuburan adalah tanggung jawab sepenuhnya. Padahal, secara medis, penyebabnya bisa berasal dari pihak laki-laki maupun keduanya. Sayangnya, perempuan sering ikut menyalahkan perempuan lain, alih-alih memberikan dukungan.

BACA JUGA  Resmikan Mushola Tertinggi di Sumatra Barat: Material Diangkut Dengan Berjalan Kaki

Fenomena ini menunjukkan adanya internalized misogyny. Dilansir dari kumparan.com, internalized misogyny adalah ketika perempuan mengadopsi pandangan seksis dan mereproduksinya terhadap diri sendiri maupun perempuan lain. Dengan kata lain, perempuan bukan hanya korban patriarki, tetapi juga tanpa sadar ikut menjadi pelaku yang melanggengkannya. Akibatnya, lingkungan sosial menjadi tidak sehat, bahkan beracun bagi perempuan yang berusaha melawan diskriminasi.

Agar woman support woman tidak berhenti menjadi jargon, diperlukan upaya nyata untuk membangun solidaritas antar perempuan. Pertama, menghentikan praktik saling merendahkan dan menggantinya dengan sikap saling menguatkan. Kedua, pendidikan gender sejak dini agar perempuan mampu mengenali dan melawan nilai-nilai patriarki yang telah terinternalisasi. Ketiga, memperluas ruang aman di lingkungan sosial, komunitas, maupun dunia kerja, sehingga perempuan merasa didukung ketika menghadapi diskriminasi atau kekerasan.

BACA JUGA  Pertunjukkan Panggung Puisi 2023 Bukti Apresiasi Puisi Karya Mahasiswa Sasindo UNAND

Tanda-tanda positif sebenarnya sudah terlihat. Komunitas advokasi korban kekerasan seksual, kampanye edukasi di media sosial, hingga forum diskusi perempuan mulai tumbuh dan memberi ruang bagi praktik solidaritas. Dari langkah sederhana seperti saling percaya, memberikan dukungan emosional, hingga terlibat dalam gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan, semua itu membuktikan bahwa solidaritas bukanlah hal mustahil.

Woman support woman tidak boleh berhenti sebagai slogan indah di media sosial. Ia harus menjadi budaya yang hidup, sebuah kebiasaan kolektif yang menumbuhkan keberanian perempuan untuk saling menopang. Dengan persatuan semacam ini, belenggu patriarki bisa dilemahkan, dan jalan menuju kesetaraan semakin terbuka lebar.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: MahasiswaperempuanUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

31 Desember 2025 | 14:36 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Satu Anak, Satu Kelas, dan Ketimpangan Pendidikan

17 Desember 2025 | 14:14 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Pemira UNAND 2025 Dalam Bayang-Bayang Kelalaian Panitia

13 Desember 2025 | 18:24 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

7 Desember 2025 | 20:57 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Warga Aceh Tamiang Terpuruk : Krisis Pangan dan Air di Tengah Isolasi

5 Desember 2025 | 21:39 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Kedaulatan Digital dan Ancaman Pemblokiran ChatGPT

3 Desember 2025 | 17:34 WIB

TERPOPULER

  • Warga membersihkan sisa material banjir di sekitar rumah mereka di kawasan Batu Busuk, Sabtu (28/12/2025). (Sabila Hayatul Dhi’fa/Genta Andalas)

    Sebulan Pascabanjir Bandang, Warga Batu Busuk Masih Berjuang Pulih

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kebijakan Outsourcing PNP Picu Protes dan Rencana Somasi Pekerja

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kronologi Korupsi Alat Laboratorium yang Jerat Petinggi UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kolaborasi UNAND dan UNIB dalam KKN Kebencanaan di Sumatra Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
gentaandalas.com

Genta Andalas © 2025

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak