• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, 27 Januari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Dilema Naturalisasi: Antara Penguatan Timnas dan Regenerasi Lokal

oleh Redaksi
3 September 2025 | 08:31 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare

Oleh: Zaki Latif Bagia Rahman*

Naturalisasi pemain diaspora untuk memperkuat Timnas Indonesia kembali menuai perdebatan. Kebijakan yang awalnya dianggap sebagai jalan pintas untuk meningkatkan performa tim nasional kini menghadirkan dilema, terutama setelah sejumlah pemain memilih berkarier di Liga 1 Indonesia alih-alih bertahan di kompetisi Eropa.

Di sisi pro, kehadiran pemain diaspora dipandang bisa mendongkrak kualitas Timnas dan sekaligus menaikkan pamor Liga 1. Nama-nama seperti Rafael Struick di Dewa United, Jens Raven di Bali United, Jordi Amat di Persija Jakarta, hingga Tom Haye yang baru saja bergabung dengan Persib Bandung, dinilai membawa warna baru. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, bahkan menyebut langkah ini dapat meningkatkan daya saing liga nasional sekaligus menghadirkan atmosfer kompetisi yang lebih profesional.

Baca Juga  Komunitas Permainan Tradisional Sebagai Pencegah Phantom Vibration Syndrome

Namun, di sisi kontra, publik merasa kecewa. Tujuan utama naturalisasi adalah agar pemain diaspora tetap berkarier di klub-klub Eropa atau Amerika, sehingga kualitas dan mentalitas internasional mereka bisa menjadi aset penting bagi Timnas. Ketika para pemain ini justru pulang dan bermain di liga domestik pada usia muda, kekhawatiran muncul, regenerasi talenta lokal bisa terhambat, sementara keuntungan jangka panjang bagi Timnas justru berkurang.

Perdebatan semakin tajam karena proses naturalisasi tidaklah mudah. Banyak rangkaian administrasi hingga cibiran publik yang harus dilalui. Ketika pemain hanya sebentar membela Merah Putih lalu memilih pulang ke Liga 1, publik mempertanyakan kesungguhan mereka. Apakah naturalisasi benar-benar untuk Timnas, atau sekadar batu loncatan untuk karier pribadi?

Baca Juga  Menapaki Jejak Kejayaan di Candi Muaro Jambi

Pada akhirnya, persoalan naturalisasi tidak bisa dipandang hitam putih. Indonesia memang membutuhkan pemain berkualitas untuk bersaing di level internasional, tetapi naturalisasi tidak boleh menjadi penghalang bagi perkembangan pemain lokal. Kuncinya ada pada seleksi yang ketat: hanya pemain yang memiliki komitmen jangka panjang dan kualitas nyata bagi Timnas yang layak dinaturalisasi. Harapannya, mereka yang sudah ada di Liga 1 bisa tetap menjaga performa, sementara pemain lain tetap berkarier di luar negeri demi membawa pulang pengalaman berharga untuk sepak bola Indonesia.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: bolanaturalisasipssiTimnas
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

PPPK Paruh Waktu dan Ketimpangan Kebijakan Pengupahan

23 Januari 2026 | 23:13 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Warisan Leluhur Menjadi Arena Konflik

22 Januari 2026 | 20:11 WIB
Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Negara Kecil Dihukum dan Negara Besar Kebal Hukum

7 Januari 2026 | 21:32 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Pembaruan KUHP dan KUHAP di Tengah Kontroversi

6 Januari 2026 | 14:53 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

31 Desember 2025 | 14:36 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Satu Anak, Satu Kelas, dan Ketimpangan Pendidikan

17 Desember 2025 | 14:14 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Potret Kegiatan Ulang Tahun ke-44 LBH Padang

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 44 Tahun LBH Padang dan Peluncuran CATAHU 2025

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • PPPK Paruh Waktu dan Ketimpangan Kebijakan Pengupahan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2026

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak