• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 22 Januari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Mendaki Gunung: Antara Eksistensi dan Keselamatan

oleh Redaksi
18 Agustus 2025 | 11:56 WIB
(Ilustrasi/Nabiela Ramadhani)

(Ilustrasi/Nabiela Ramadhani)

ShareShareShareShare
(Ilustrasi/Nabiela Ramadhani)

Oleh: Nabiela Ramadhani*

Bermain di alam merupakan salah satu aktivitas yang sedang digemari oleh masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Banyak orang yang menikmati waktu dengan menjelajah alam atau sekadar berhenti sebentar di tepi jalanan yang menawarkan pemandangan indah dan menyejukkan mata. Aktivitas ini diminati oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, bagi sebagian orang, pengalaman tersebut dirasa belum cukup menantang, sehingga mereka memilih cara yang lebih intens untuk mendekatkan diri dengan alam, salah satunya dengan mendaki gunung.

Dikutip dari Wikipedia, mendaki gunung atau yang dikenal sebagai alpinisme adalah bentuk aktivitas luar ruangan yang mencakup pendakian gunung, serta aktivitas terkait seperti mendaki tebing, ski, dan lintas via ferrata, yang kini telah berkembang menjadi olahraga tersendiri. Secara umum, istilah ini merujuk pada serangkaian kegiatan pendakian yang dilakukan oleh individu atau kelompok, biasanya dengan tujuan mencapai titik tertentu sambil melewati berbagai tantangan kondisi alam di sepanjang jalur pendakian.

Kini mendaki gunung telah direduksi menjadi sekadar pencarian konten, bukan lagi sebuah petualangan yang menghargai alam, tubuh, dan nyawa. Apresiasi harus tetap diberikan kepada orang-orang orang yang mulai peduli pada alam terbuka. Akan tetapi, apa yang terjadi sekarang justru mengkhawatirkan, banyak pendaki yang datang tanpa bekal pengetahuan, tanpa persiapan fisik, bahkan tanpa niat untuk belajar. Mereka datang hanya untuk berfoto, untuk mengunggah cerita di media sosial, dan untuk bisa berkata, “Saya sudah ke sana”. Padahal, gunung bukanlah destinasi wisata yang bisa ditaklukkan dengan niat main-main.

Baca Juga  Rawan Gempa, Kelurahan Parupuk Tabing Dijadikan Tempat Simulasi Mitigasi Bencana

Berdasarkan data dari situs Jelajah Lagi, sejak 1 Januari 2013 hingga Mei 2024, tercatat 155 pendaki meninggal dunia saat melakukan pendakian di berbagai gunung di Indonesia, dengan berbagai faktor penyebab. Indonesia memang dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Dengan 127 gunung berapi aktif, 13% dari total gunung berapi aktif dunia, kita punya begitu banyak jalur pendakian yang menantang dan indah. Tapi keindahan itu bukan undangan untuk arogansi. Gunung adalah entitas yang hidup, ganas, dan tidak bisa dikendalikan. Ia tidak akan mengampuni kesombongan.

Tidak adanya medan bersalju yang ekstrem, kecuali Puncak Jaya Wijaya, seperti di negara empat musim membuat banyak orang menganggap bahwa pendakian di Indonesia lebih mudah dan cenderung aman. Padahal, anggapan seperti ini justru merupakan jebakan yang berbahaya. Faktanya, meskipun tanpa salju, medan di banyak gunung di Indonesia tetap menantang, jalur yang licin akibat hujan, vegetasi hutan yang lebat, suhu yang dapat turun drastis di malam hari, serta cuaca yang berubah-ubah secara tiba-tiba. Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan, bukan alasan untuk lengah.

Dulu gunung hanya didaki oleh segelintir orang yang memiliki bekal kuat dalam menaklukan alam terbuka. Di ketinggian, akses terhadap air dan makanan terbatas, cuaca bisa berubah cepat, dan medan yang terjal dapat menguras tenaga serta mengancam jiwa. Bencana alam seperti longsor atau hujan deras juga dapat terjadi, yang memerlukan kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan yang memadai. Tanpa persiapan yang baik, risiko seperti hipotermia, terpeleset, atau jatuh bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan persiapan dan pemahaman tentang alam demi keselamatan bersama.

Baca Juga  Perlindungan Lingkungan, Pilar Hak Asasi Manusia

Pemerintah berupaya meminimalkan kecelakaan pendakian melalui berbagai cara, termasuk penetapan SNI 8748:2019 oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang bertujuan menciptakan sistem pendakian yang aman, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan, serta mendukung pencapaian zero accident dan zero waste. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kesadaran keselamatan melalui pendekatan edukatif dan medis, seperti yang dilakukan oleh Kemenparekraf dengan menghadirkan Indonesia Wilderness Medicine Society dalam acara Indonesia Mountain Medicine Summit (IMMS) 2024, untuk memperkuat pemahaman pendaki tentang penanganan medis di alam liar dan pentingnya persiapan fisik serta mental sebelum mendaki.

Namun, upaya pemerintah saja tidak cukup untuk mengurangi kecelakaan. Kesadaran individu dan kelompok juga sangat penting. Individu yang memiliki pengetahuan dasar, kesiapan mental, fisik, dan logistik, serta tim pendakian yang kompak dan tidak egois, merupakan kombinasi ideal untuk melakukan pendakian yang aman dan menyenangkan. Jangan hanya mengejar foto bagus dengan outfit kece dan plakat, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana selama perjalanan Anda bisa aman dan ciptakan banyak kenangan indah yang takkan bisa dilupakan. Puncak itu bonus, pulang selamat itu harus!

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

Tag: alamGununghobikeselamatanpendaki
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Negara Kecil Dihukum dan Negara Besar Kebal Hukum

7 Januari 2026 | 21:32 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Pembaruan KUHP dan KUHAP di Tengah Kontroversi

6 Januari 2026 | 14:53 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

31 Desember 2025 | 14:36 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Satu Anak, Satu Kelas, dan Ketimpangan Pendidikan

17 Desember 2025 | 14:14 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Pemira UNAND 2025 Dalam Bayang-Bayang Kelalaian Panitia

13 Desember 2025 | 18:24 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

7 Desember 2025 | 20:57 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • KKN Kebencanaan Kapalo Koto dan UNIB Salurkan Bantuan Gizi Pasca Banjir

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Peminjaman Gedung UNAND Masih Hadapi Kendala Teknis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Potret Kegiatan Ulang Tahun ke-44 LBH Padang

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2026

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak