• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 7 Maret 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Ngopi di Kafe, Antara Ilusi Kerja dan Ajang Gaya

oleh Redaksi
17 Agustus 2025 | 21:33 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Oleh: Meuthya Ghaniya Dwi Putri*

Di hampir setiap kota, kafe sekarang selalu dipenuhi oleh anak muda. Mereka datang membawa laptop, buku catatan, atau tablet mereka, bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk bersenang-senang sambil mengambil foto suasana sekitar. Ini membuat kita bertanya-tanya apakah kafe sebenarnya lebih dilihat sebagai tempat kerja yang efektif atau hanya sebagai tempat untuk menunjukkan gaya hidup anak muda. Ini adalah pertanyaan yang penting karena kebiasaan nongkrong di kafe bukan hanya tentang santai, tapi juga mencerminkan perubahan sosial yang berkaitan dengan kelas, cara konsumsi, dan pencarian identitas diri.

Secara ilmiah, ada alasan mengapa kafe bisa menjadi pilihan baik untuk bekerja. Dikutip dari IDN Times, mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kebisingan khas di kafe sekitar 70 desibel dapat membantu meningkatkan fokus dan daya kreativitas. Banyak pekerja merasa lebih produktif saat berada di kafe karena rumah mereka terlalu ramai atau kantor terlalu banyak gangguan. Dari sudut pandang ini, kafe menjadi pilihan logis karena menawarkan suasana yang berbeda, fasilitas yang baik, dan interaksi sosial yang bisa memberikan semangat.

Baca Juga  Tolak Bala, Tradisi Menghalau Petaka di Nagari Lingkuang Aua

Namun, jika kita lihat lebih dalam, kafe juga telah berubah menjadi tempat untuk berbelanja gaya hidup. Desain interior yang menarik, menu yang harganya bisa lebih mahal, dan suasana yang bisa diunggah ke Instagram jelas tidak hanya diciptakan untuk bekerja, tapi juga untuk menunjukkan status. Bekerja di kafe jadi semacam tanda bahwa seseorang termasuk dalam kelompok urban modern yang memiliki uang lebih untuk “membeli” suasana kerja yang kreatif. Ini menimbulkan pertanyaan lain, apakah kita benar-benar menjadi lebih produktif, atau apakah kita hanya membeli ilusi produktivitas dengan segelas latte yang harganya Rp40 ribu?

Inilah sisi lain yang sering diabaikan. Kebiasaan nongkrong di kafe tidak muncul tanpa alasan, melainkan tumbuh dalam budaya konsumsi yang membuat seolah-olah produktivitas harus dibeli. Bagi beberapa orang, bekerja dari kafe sekarang bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi sudah menjadi bagian dari citra diri mereka. Ironisnya, banyak yang mau mengeluarkan ratusan ribu rupiah setiap bulan hanya untuk suasana yang dikatakan lebih mendukung fokus, padahal fokus bisa saja diperoleh tanpa mengeluarkan uang, asalkan dengan disiplin dan kesadaran diri.

Baca Juga  Lima Prodi FEB Terima Sertifikat Akreditasi Internasional

Oleh karena itu, bekerja di kafe harus dipandang sebagai fenomena sosial yang memiliki dua sisi. Ada sisi ilmiahnya, tetapi juga ada sisi yang mendorong konsumsi berlebihan. Anak muda harus lebih kritis untuk menilai apakah benar kafe membantu mereka menjadi lebih produktif, atau apakah mereka hanya menjadi konsumen setia dari industri gaya hidup yang pandai menjual suasana. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah tempat kita bekerja, tetapi cara kita bekerja. Kafe bisa memberikan dukungan, tetapi jika motivasi kita hanya untuk penampilan di media sosial, maka produktivitas yang kita banggakan hanyalah ilusi.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 

Tag: KafeMahasiswatrenUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Prabowo Menandatangani Perjanjian dengan AS, Untung atau Rugi bagi Bangsa

25 Februari 2026 | 22:23 WIB
(Ilustrasi/Nia Rahmayuni)

67 Persen Jurnalis Alami Kekerasan, Swasensor Jadi Alarm Kebebasan Pers

25 Februari 2026 | 21:55 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Lahir Tapi Tidak Tercatat

24 Februari 2026 | 22:41 WIB
(Ilustrasi/Nia Rahmayuni)

Gratifikasi dan Retaknya Kepercayaan Publik

23 Februari 2026 | 20:40 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Pengangguran Usia Muda di Tengah Perubahan Dunia Kerja

26 Januari 2026 | 14:12 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

PPPK Paruh Waktu dan Ketimpangan Kebijakan Pengupahan

23 Januari 2026 | 23:13 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Tantri Pramudita)

    Terekam CCTV, Mahasiswa UNAND Curi Motor Teman Sekamar Demi Pasang Kawat Gigi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • UNAND Targetkan Buka Prodi Kedokteran Hewan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Seruan Aksi Mahasiswa, Tuntut Pembenahan Polri di Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Akumulasi Keresahan, Aksi Kamisan Mahasiswa Desak Reformasi Polri

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Raden Hamzah Sang Panglima Perang Kesultanan Jambi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak