• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, 31 Desember 2025
gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
gentaandalas.com
Home Berita Feature

Tradisi Pemindahan Tulang Jenazah, Bentuk Penghormatan Kepada Leluhur Khas Suku Batak

oleh Redaksi
6 Mei 2024 | 00:37 WIB
Dok. Taman Budaya Sumatra Utara/ Jefri Tarigan

Dok. Taman Budaya Sumatra Utara/ Jefri Tarigan

ShareShareShareShare
Dok. Taman Budaya Sumatra Utara/ Jefri Tarigan

Oleh:Cyndi Karita Malau

Suku Batak mengartikan kematian tidak hanya sebagai prosesi pemakaman orang sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.  Tetapi lebih daripada itu, suku Batak akan melakukan penghormatan kepada leluhur dengan memindahkan tulang belulang yang sudah meninggal.

Tradisi Mangongkal Holi sudah dikenal sejak zaman dahulu dan menjadi tradisi turun-temurun. Mangongkal Holi merupakan sebuah prosesi adat Batak yang diselenggarakan untuk menggali makam orang yang sudah lama meninggal dan diambil tulang belulangnya, lalu tulang belulang tersebut akan dipindahkan ke tugu makam yang tingkatannya lebih tinggi. Prosesi ini dilaksanakan oleh keluarga yang satu pomparan (perkumpulan para keturunan leluhur).

Dalam perhelatannya tradisi ini ternyata membutuhkan biaya yang besar karena pelaksanaannya yang tidak sembarangan dan harus sesuai dengan runtutan upacara adat. Pihak yang menggelar prosesi ini juga harus mengundang atau menjamu seluruh keluarga besar dan tetangga kampungnya. Makanan yang harus dihidangkan pun tidak seperti hidangan biasa yang ada di pesta adat lainnya seperti daging babi atau ayam, melainkan harus daging kerbau yang lebih mahal. Dalam prosesi Mangongkal Holi juga harus menyediakan kuda yang akan dikurbankan, dan kain ulos yang dilambangkan sebagai simbol pengharapan.

Tidak ada waktu yang tetap dalam pelaksanaan Mangongkal Holi namun, biasanya diadakan ketika dari pihak keluarga bermimpi bertemu dengan orang tua atau leluhurnya, atau ketika keluarga suku Batak sudah memiliki biaya yang besar untuk melaksanakannya, dan prosesi ini juga cukup memakan waktu beberapa hari mengingat harus melewati beberapa prosesi sebelum menuju agenda utama.

BACA JUGA  Menyambangi Surau Atok Ijuk: Peninggalan Sejarah dengan Kondisi Terlantar

Beberapa prosesi yang harus dilaksanakan ialah mulai martonggoraja atau kegiatan yang wajib dilakukan pada setiap prosesi Mangongkal Holi. Tujuannya untuk membicarakan persiapan dari keluarga yang menyelenggarakan seperti hari, peralatan dan biaya. Pihak keluarga yang satu pomparan juga meminta izin terlebih dahulu ke pihak keluarga perempuan (istri).

Setelah mendapatkan persetujuan dilanjut dengan mangombak atau menggali makam leluhurnya untuk mengambil tulang-belulangnya. Lalu, peti mati dibawa oleh semua orang ke rumah keluarga, untuk beristirahat dan makan bersama. Ketika acara makan bersama tersebut pihak keluarga akan memberi makan tamu yang hadir, dan membagi jambar sesuai aturan adat. Diselingi juga dengan keluarga besar menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak dan tamu yang hadir.

Acara selanjutnya, membersihkan tulang belulang tersebut dengan dicuci sampai bersih dengan air jeruk dan dibaluri dengan air kunyit. Tulang-belulang yang sudah dibersihkan dan kering akan harus dibungkus dengan kain putih dan ulos ragidup sebagai lambang kesucian. Kemudian, tulang belulang dimasukkan ke dalam peti yang diikuti dengan prosesi adat juga.  Tulang belulang yang sudah ada dalam peti akan didoakan kembali dan dimasukkan ke makam yang lebih tinggi.

BACA JUGA  Menikmati Pemandangan Laut di Masjid Bergaya Taj Mahal di Kota Padang

Warga Suku Batak yang pernah turut menjalani prosesi adat ini, Jannes Malau, menjelaskan hal-hal penting di balik tradisi Mangongkal Holi menurut kepercayaan Suku Batak di antaranya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan mempererat persaudaran sesame marga.

“Alasan mengapa dilaksanakannya Mangongkal Holi adalah bentuk penghormatan kepada leluhur, mengangkat derajat marga, mempererat persaudaraan sesama marga. Dan tak kalah penting ialah untuk mendapatkan hagabean (panjang umur), hasangapon (kehormatan) dan hamoraon (kekayaan)”, ujar Jannes Malau saat diwawancarai pada Kamis (2/5/2024).

Suku Batak juga mempercayai bahwa para leluhur yang sudah meninggal harus dihormati, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dalam keluarganya. Selain itu, Mangongkal Holi juga merupakan salah satu upaya untuk menjaga silsilah keluarga, karena, dengan berada pada satu tempat atau makam, generasi selanjutnya akan tetap mengetahui siapa leluhur atau nenek moyangnya.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Andalas

Tag: Suku Batak.
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Penjaga Masjid Al-Hakim bersiap menyapu halaman masjid pada Selasa (28/10/2025) (Genta Andalas/ Nasywa Luhfiyyah Edfa)

Di Antara Azan dan Ombak: Kisah Penjaga Masjid Al-Hakim

4 November 2025 | 11:10 WIB
Amir Syakib, anak bungsu Buya Hamka menyambut kedatangan pengunjung Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka pada Minggu (26/10/2025) (Genta Andalas/Pitri Yani)

Buya Hamka: Dari Lembah Maninjau Ke Panggung Sejarah

31 Oktober 2025 | 22:26 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Kuliah, Kerja, dan Harapan: Kisah Mahasiswa UNAND Bertahan untuk Mandiri

30 Agustus 2025 | 10:16 WIB

Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

25 Agustus 2025 | 14:22 WIB
Seorang pengunjung menyusuri kawasan Candi Tinggi di Kompleks Candi Muaro Jambi, salah satu situs peninggalan Buddha terbesar di Asia Tenggara, Sabtu (19/7/2025) (Genta Andalas/Auryn Dzakirah)

Menapaki Jejak Kejayaan di Candi Muaro Jambi

1 Agustus 2025 | 11:23 WIB
Pengunjung yang menikmati Keindahan Air Terjun Lubuk Hitam, Rabu (16/07/2025) (Genta Andalas/ Nabiela Ramadhani)

Melintasi Jejak Alam Menuju Pesona Tiga Tingkat Lubuk Hitam

26 Juli 2025 | 22:01 WIB

TERPOPULER

  • Warga membersihkan sisa material banjir di sekitar rumah mereka di kawasan Batu Busuk, Sabtu (28/12/2025). (Sabila Hayatul Dhi’fa/Genta Andalas)

    Sebulan Pascabanjir Bandang, Warga Batu Busuk Masih Berjuang Pulih

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kebijakan Outsourcing PNP Picu Protes dan Rencana Somasi Pekerja

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kolaborasi UNAND dan UNIB dalam KKN Kebencanaan di Sumatra Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kronologi Korupsi Alat Laboratorium yang Jerat Petinggi UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
gentaandalas.com

Genta Andalas © 2025

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak