• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 29 Januari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Kebebasan Beropini di Media Sosial Twitter

oleh Redaksi
3 Juli 2023 | 21:53 WIB
(Ilustrator/Ifran Adhala Zikri)

(Ilustrator/Ifran Adhala Zikri)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Ifran Adhala Zikri)

Oleh: Aprila Aurahmi*

Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh perusahaan twitter, yang menawarkan jaringan sosial berupa mikroblog sehingga memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan tweet. Tweet atau yang lebih kita kenal sebagai cuitan merupakan bentuk dari tampilan teks, gambar serta video yang ada pada tampilan linimasa twitter. Cuitan tersebut tidak hanya dapat dilihat oleh pengikut akun yang bersangkutan tetapi juga akun yang tidak tergabung dalam pengikut. Beberapa cuitan yang memiliki tayangan tinggi akan berseliweran di linimasa. Sehingga, tidak heran bahwa terkadang akun-akun yang tidak diikuti tergulir di linimasa.

Berdasarkan laporan dari wearesocial.com pada April 2023, Indonesia menempati peringkat keenam dengan pengguna twitter terbanyak di dunia, sebanyak 14,75 juta orang. wearesoscial.com adalah sebuah situs layanan manajemen konten dan media daring yang secara berkala menyajikan laporan tahunan tentang internet, media sosia, serta perilaku perdagangan elektronik. Berdasarkan laporan tersebut, membuktikan masyarakat Indonesia termasuk pengguna aktif media sosial twitter. Kekuatan warga internet (warganet) Indonesia tidak perlu diragukan lagi dalam membuat suatu konten atau isu menjadi trending.

Hal ini tentunya menjadi penanda bahwa warganet Indonesia mampu beropini dengan bebas dan tidak terbelenggu apapun dalam media sosial twitter. Tweet yang diposting oleh pennguna twitter dapat dilihat oleh siapa saja, meskipun bukan dari pengikut akun tersebut. Tak jarang pula, sebuah topik hangat atau trending di twitter sering terjadi kesimpangsiuran bahkan sering memantik rasa tidak suka bila tidak sejalan opininya.

Baca Juga  Ketika Negara Kecil Dihukum dan Negara Besar Kebal Hukum

Seperti pada kasus “safa” yang terjadi pada 18 Mei 2022. Kejadian safa tersebut bermula ia mengalami cyber bullying oleh beberapa pengguna twitter yang merasa tidak sejalan opininya. Hal ini terjadi sebab beberapa fans k-pop dari NCT Dream marah dan merasa tidak terima akibat idola mereka dihina. Ia diminta untuk meminta maaf, tetapi safa menolak melakukannya dan berakhir dengan aksi cyber bullying oleh beberapa akun media sosial twitter. Salah satunya akun @iamdimsum yang juga melakukan pengancaman kepada safa.

Lalu, kasus buli akibat tidak sejalan opini ataupun pandangan juga sempat dialami di kasus Jerome Polin pada awal Maret 2023. Jerome mencuit dengan menampilkan foto capybara sebagai hewan yang lucu. Tweetan dari Jerome ini mendapatkan beragam rekasi dari pengguna twitter. Ada yang menyambut baik tweet Jerome dengan berbagai meme dan ada pula yang menghujat Jerome, sehingga hal ini menjadi trending di twitter.

Terlepas dari kasus-kasus tersebut, tidak menjadi rahasia umum bahwa beropini di twitter bagaikan mengumumkan perang. Sebab, banyaknya pengguna media sosial twitter yang kerap kontra dengan postingan pengguna twitter lainnya. Terlebih, akun media sosial twitter dapat menggunakan nama anonym, sehingga sesorang tidak dapat mengetahui nama asli penggun akun tersebut. Tidak jarang banyak pengguna twitter yang merasa bahwa aplikasi tersebut sudah tidak lagi menjadi tempat nyaman dalam berpendapat. Sehingga banyak muncul akun gembok atau akun yang diprivat. Padahal, cuitan yang disampaikan tidak mengandung maksud tertentu, tetapi banyak pengguna twitter merasa bahwa semua orang harus sejalan dengan pemikiran yang ada.

Baca Juga  Antara Legalitas dan Legitimasi: Polemik Politik Gibran di Pusaran Demokrasi

Bahkan, banyak sekali akun yang dianggap tidak sejalan dengan publik mendapat ujaran kebencian bahkan DM (dirrect message) yang berisi ancaman bunuh membunuh. Ini seakan berseberang dengan implementasi dari UUD 1945 28E ayat (2) UUD 1945 28 ayat (3). Sudah seharusnya kebebasan berpendapat dan beropini diselenggarakan dengan meriah di media sosial tapi tentu tau batasan. Sesama warganet harusnya saling mengingatkan terkait konten yang ada. Tidak baik jika langsung menyerang dengan banyaknya caci maki yang pada akhirnya merugikan orang lain bahkan kita sendiri.

*) Penulis merupakan mahasiswi Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu BUdaya Universitas Andalas

Tag: opiniTwitter
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

PPPK Paruh Waktu dan Ketimpangan Kebijakan Pengupahan

23 Januari 2026 | 23:13 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Warisan Leluhur Menjadi Arena Konflik

22 Januari 2026 | 20:11 WIB
Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Negara Kecil Dihukum dan Negara Besar Kebal Hukum

7 Januari 2026 | 21:32 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Pembaruan KUHP dan KUHAP di Tengah Kontroversi

6 Januari 2026 | 14:53 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

31 Desember 2025 | 14:36 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Satu Anak, Satu Kelas, dan Ketimpangan Pendidikan

17 Desember 2025 | 14:14 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Potret Kegiatan Ulang Tahun ke-44 LBH Padang

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 44 Tahun LBH Padang dan Peluncuran CATAHU 2025

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • PPPK Paruh Waktu dan Ketimpangan Kebijakan Pengupahan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2026

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak