• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, 17 Februari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Gentainment Karya Calon Anggota

Juadah, Hantaran Pernikahan Khas Padang Pariaman

oleh Redaksi
3 Juli 2023 | 18:08 WIB
Juadah, makanan pernikahan khas Padang Pariaman

Juadah, makanan pernikahan khas Padang Pariaman

ShareShareShareShare
Juadah, makanan pernikahan khas Padang Pariaman, Jumat (30/6/2023) (Genta Andalas/Raudhatul Tassya Khairunnisa)

Oleh: Raudhatul Tassya Khairunnisa*

 

Pernah dengar makanan khas Padang Pariaman yang dinamakan Juadah? Makanan unik yang biasanya ada pada hantaran pernikahan di Padang Pariaman ini menjadi hal yang wajib saat calon pengantin perempuan atau anak daro datang ke tempat marapulai atau calon pengantin laki-laki. Juadah adalah hidangan khas Padang Pariaman yang menjadi hantaran saat hari pernikahan datang atau sebutan orang minangnya manjalang ka rumah mintuo saat hari pernikahan tiba.

Juadah ini tersusun diatas dulang atau talam besar dengan diberi kayu sebagai penahan susunan juadah. Orang salapan di Korong Kampung Kandang Koto Gadih Kabupaten Padang Pariaman, Martina menyebutkan isi dari juadah ini adalah bubik, pinyaram, juadah tukua, jala bio, kue sangko, kipang, nasi manih, dan kanji

“Biasanya itu tersusun sesuai warnanya yaitu hitam dan putih yang memiliki makna bahwa dunia itu ada hitam dan putihnya. Selain itu juga juadah ini terdiri dari tujuh macam kue yang memiliki makna 7 lapisan bumi,” ujar Martina saat dilakukan wawancara di rumahnya pada Jumat (30/6/2023).

Nantinya juadah ini akan di potong kecil-kecil saat akan dihidangkan. Cita rasa juadah ini beragam, mulai dari gurih, manis, dan legit ada di dalam makanan juadah yang terdiri dari tujuh macam ini.

Baca Juga  Mengenal Limpiang, Makanan Tradisional yang Manis dari Solok Selatan

Proses pembuatan juadah ini dimulai dari pembuatan pinyaram yang berbentuk seperti kue cucur dengan bahannya yaitu tepung beras yang dicampur dengan cairan gula merah, lalu di goreng dalam kuali yang langsung menjadi cetakan.

Selanjutnya jala bio dan bubik terbuat dari tepung beras ketan dan santan lalu dicetak dengan seng berbentuk jeruji dan di goreng. Rasanya yang gurih dan seperti kerupuk ini memiliki bentuk yang unik. Sedangkan bubik mirip dengan adonan jala bio yang diberi inti dan sekeping gula merah dan kelapa lalu di goreng.

Kanji yang mirip dengan gelamai ini terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan larutan gula merah yang dicampur santan. Adonan ini dimasak lama dalam kuali besar hingga kental dan berminyak, lalu diletakkan di papan cetak.

Lalu yang terakhir adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yaitu nasi manih, kipang, dan kue sangko. Nasi manih ini berwarna cokelat yang mirip dengan wajik. Nasi manih ini terbuat dari beras ketan yang dikukus, diberi gula merah, lalu dicampurkan dengan santan dan garam secukupnya. Prosesnya yaitu santan dan gula merah dimasak di kuali hingga berminyak, lalu dimasukkan beras ketan yang sudah dikukus lalu diaduk di dalam kuali hingga kering. Kemudian dipadatkan di cetakan kayu, setelahnya di potong-potong.

Baca Juga  Koalisi Mayarakat Sipil Sumbar Deklarasikan Perlawanan terhadap Politik Uang dan Politik Dinasti

Juadah sebagai hantaran saat pernikahan berlangsung memiliki makna bahwa jika kita pergi ke rumah orang, haruslah ada sesuatu yang kita bawa. Maka dari itulah Juadah dijadikan sebagai hantaran di Kabupaten Padang Pariaman. Juadah sendiri memiliki makna tersendiri di setiap tempat di Padang Pariaman. Misalnya saja di Sungai Sariak, Juadah biasanya hanya berupa gambuik-gambuik (rambut-rambut) saja. Namun di beberapa tempat lainnya, Juadah terdiri dari tujuh macam kue.

Harga Juadah sendiri tergantung bagaimana pihak keluarga memesan atau membuat, karena biasnaya Juadah dapat dibuat oleh orang salapan yang ada di kampung tersebut. Keluarga mempelai wanita juga dapat memesannya dari orang y juta ang pandai buat juadah. Biaya  pemesanan Juadah ini tergantung besar atau kecilnya dan kisaran harga dari Juadah ada sekitar Rp150.000, Rp200.000, Rp300.000, bahkan bisa mencapai angka satu jutaan.

Tag: makananpadang pariaman
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Menjaga Silek di Zaman Modern

4 Januari 2026 | 21:15 WIB
(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

Solidaritas Perempuan, Jangan Hanya di Media Sosial

5 September 2025 | 22:58 WIB

Kompleks Makam Kuno Malalo: Bukti Tradisi Berkelanjutan dari Megalitik hingga Islam

5 September 2025 | 22:33 WIB
(Ilustrasi/Sabila Hayatul Dhi'fa)

Sejarah Publik: Alternatif Karier Non Akademis

4 September 2025 | 08:44 WIB
Penandatanganan pakta integritas oleh wakil presiden Bem Km Unand, Senin (3/9/2025) (Genta Andalas/Sabila Hayatul Dhi'fa)

Aksi 1 September ditunggangi, BEM UNAND Nyatakan Sikap

3 September 2025 | 18:55 WIB
Mahasiswa UNAND dari berbagai fakultas duduk bersama dalam forum Bincang Kampus di Kolam PKM UNAND, Selasa (2/9/2025) (Genta Andalas/Dila Febrianti)

Empat Tahun PTN-BH, UNAND Dinilai Gagal Berbenah

3 September 2025 | 11:34 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustratsi/Fadhilah Lisma Sari)

    Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Audiensi UKM PHP Bersama Pimpinan Unand Bahas Dana dan Sistem Wisuda Terpusat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Fakultas Teknik Unand Rampungkan Prodi Baru Teknik Arsitektur Tahun ini

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Maraknya Westernisasi, Apakah Budaya Tradisional Sudah Dianggap Kuno Oleh Generasi Muda?

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak