• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 8 Januari 2026
gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
gentaandalas.com
Home Sastra dan Budaya Khasanah Budaya

Lompong Sagu, Jajanan Panggang Minangkabau yang Mulai Langka

oleh Redaksi
1 Mei 2023 | 19:18 WIB
Lompong sagu sebagai jajanan tradisional yang sudah mulai langka (Genta Andalas/Dok. Pribadi)

Lompong sagu sebagai jajanan tradisional yang sudah mulai langka (Genta Andalas/Dok. Pribadi)

ShareShareShareShare
Lompong sagu sebagai jajanan tradisional yang sudah mulai langka (Genta Andalas/Dok. Pribadi)

Oleh: Fadhillah Lisma Sari*

Masyarakat Minangkabau mengenal lompong sagu sebagai salah satu kuliner tradisional yang akrab dijumpai ketika bulan puasa. Apalagi jika dinikmati dalam keadaan panas dan ditambah dengan teh hangat menimbulkan kenikmatan tersendiri saat mengonsumsinya. Dahulu, jajanan tradisional lompong sagu ini begitu terkenal. Akan tetapi, pada zaman sekarang, jajanan lompong sagu telah mulai sedikit orang yang menjualnya dan menjadi langka.

Lompong sagu adalah jajanan tradisional yang terkenal dengan cita rasa nya yang begitu unik. Memiliki tekstur yang kenyal dan melalui proses memasaknya dengan dipanggang menggunakan bara api. Dahulu, jajanan ini dapat dengan mudah dijumpai di pinggir jalan dengan gerobak maupun jalan kaki. Selain itu, lompong sagu dulunya juga dapat dengan mudah dijumpai di pasar tradisional.

Baca Juga  Komunitas Saiyo Jelantah Sumbar Kumpulkan Minyak Jelantah Guna Pemanfaatan Biodiesel

Pada saat ini, lompong sagu sangat jarang ditemukan. Perkembangan zaman yang sudah semakin modern, membuat peminat pada jajanan tradisional ini kian menurun. Bentuk jajanan lompong sagu yang tidak inovatif menjadi salah satunya. Salah satu penjual lompong sagu bernama Yani mengungkapkan hal yang demikian.

“Peminat lompong sagu sekarang ini menurun karena perkembangan zaman. Orang-orang juga kurang tertarik membelinya dan sudah banyak yang mulai melupakannya,” ujar Yani  ketika diwawancarai Genta Andalas pada Kamis (27/4/2023).

Selain itu, Yani mengungkapkan proses pembuatan lompong sagu tersebut. Lompong sagu adalah jajanan tradisional yang berasal dari tepung sagu, gula aren, pisang, kelapa, gula pasir dan air. Semua bahan tersebut dicampur dan diaduk, Lalu, ditambah garam sedikit sebagai penyedap. Adonan lompong sagu diambil secukupnya kemudian diletakkan di daun pisang dan bentuk menyerupai palai bada. Setelah itu, sematkan dengan lidi dan siap untuk dipanggang.

Baca Juga  Tradisi Mandi Bongen di Sekayu

“Ketika memanggang lompong sagu, harus hati-hati karena lompong sagu tidak boleh terkena langsung dengan bara api ketika dipanggang agar tidak gosong,” tambah Yani.

Lompong sagu memiliki bentuk menyerupai palai bada dan memiliki tekstur yang kenyal. Pada umumnya, lompong sagu dijual dengan kisaran harga Rp5.000. Jajanan berwarna coklat ini memiliki rasa yang manis dari gula arennya dan gurih dari kelapa. Yani berharap agar jajanan tradisional ini dapat tetap eksis di zaman sekarang sehingga kuliner Indonesia tetap dilestarikan.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Andalas

Tag: jajananKhaskulinermakananTradisional
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Menjaga Silek di Zaman Modern

4 Januari 2026 | 21:15 WIB

Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

25 Agustus 2025 | 14:22 WIB

Tradisi Tolak Bala Masyarakat Nagari Parambahan Membina Kerukunan Antar Warga

20 Juli 2024 | 22:35 WIB
Dangke Naniura/ Indonesia .go.id

Dengke Naniura Cita Rasa Sashimi Khas Indonesia dari Suku Batak

6 Mei 2024 | 18:20 WIB
Dok. Taman Budaya Sumatra Utara/ Jefri Tarigan

Tradisi Pemindahan Tulang Jenazah, Bentuk Penghormatan Kepada Leluhur Khas Suku Batak

6 Mei 2024 | 00:37 WIB
(Ilustrator/Fahara Azzah Syafaqoh)

Untaian Tali Sejuta Makna

4 Juli 2023 | 00:27 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Tantri Pramudita)

    Pembaruan KUHP dan KUHAP di Tengah Kontroversi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kebijakan Outsourcing PNP Picu Protes dan Rencana Somasi Pekerja

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menjaga Silek di Zaman Modern

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tradisi Pemindahan Tulang Jenazah, Bentuk Penghormatan Kepada Leluhur Khas Suku Batak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kronologi Korupsi Alat Laboratorium yang Jerat Petinggi UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
gentaandalas.com

Genta Andalas © 2025

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak