• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Jumat, 9 Januari 2026
gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
gentaandalas.com
Home Sastra dan Budaya Khasanah Budaya

Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

oleh Redaksi
28 Desember 2022 | 14:29 WIB
(Ilustratsi/Fadhilah Lisma Sari)

(Ilustratsi/Fadhilah Lisma Sari)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Fadhilah Lisma Sari)

Rumah adat masyarakat Minangkabau memiliki desain bangunan yang cukup unik, terutama pada bagian atapnya yang memiliki lengkungan dan meruncing ke atas langit. Selain memiliki desain bangunan yang unik, rumah adat masyarakat Minangkabau atau yang sering disebut sebagai rumah gadang ini menyimpan kekayaan makna yang terkandung di dalamnya. Desain atap bagonjong pada rumah gadang pada saat ini telah menjadi identitas sosial masyarakat Minangkabau. Bila melihat atap bagonjong, konotasinya akan langsung berkaitan dengan kebudayaan Minang atau orang bersuku Minang.

Pada dewasa ini, atap bagonjong pada rumah gadang Minangkabau tidak hanya terdapat pada bangunan rumah adat tersebut. Melainkan, dapat dijumpai pada bangunan instansi seperti kantor gubernur, masjid seperti pada masjid raya, ataupun pada restoran dan rumah makan terutama rumah makan yang berada di luar Sumatra Barat. Hal ini disebabkan atap bagonjong telah beralih fungsi sebagai identitas sosial dan sebagai identitas Minangkabau.

Dosen Antropologi, Erwin Resna mengungkapkan bahwa terdapat banyak struktur penopang dalam rumah gadang telah melemah dan menyebabkan fungsi rumah gadang dalam arti yang sesungguhnya tidak lagi terlihat dalam kehidupan sekarang ini. Dahulu, rumah gadang difungsikan sebagai rumah tempat keluarga besar berkegiatan sehari-hari. Selain itu, rumah gadang juga dijadikan tempat perhelatan acara adat, seperti perkawinan ataupun batagak gala.

“Salah satu penyebabnya adalah harta pusaka sebagai salah satu penopang rumah gadang telah melemah, menyebabkan rumah gadang pada saat ini beralih fungsi sebagai identitas sosial masyarakat Minangkabau. Jadi, karena secara fungsinya sudah tidak bisa lagi dijalankan di era sekarang ini, maka pemerintah mengambil inisiatif menjadikan atap bagonjong menjadi struktur bangunan milik umum pada masyarakat di Sumbar,” ujar Erwin saat diwawancarai Genta Andalas, Selasa (20/12/2022).

Baca Juga  Menjaga Silek di Zaman Modern

Selain sebagai identitas sosial masyarakat Minangkabau, sesungguhnya atap bagonjong memiliki beragam makna. Hal tersebut disampaikan oleh Erwin dalam wawancaranya bersama Genta Andalas. Erwin menyampaikan makna atap bagonjong dapat terlihat dari bentuk desainnya yang unik dengan beragam penilaian yang dimiliki. Berikut penjelasannya kekayaan makna yang terdapat dari desain unik atap bagonjong.

Memiliki Makna Kemakmuran

Atap bagonjong dengan lekukan pada desainnya memiliki perumpamaan bentuk pada tanduk hewan ternak kerbau. Bagi masyarakat Minangkabau, kerbau adalah hewan yang sangat disenangi, sebab dapat membantu perekonomian masyarakat. Pada zaman dahulu mayoritas masyarakat bertani dan berladang untuk mencari penghasilan. Dalam bertani, masyarakat menggunakan kerbau untuk membajak sawahnya. Oleh sebab itu, desain lekukan pada atap bagonjong yang merupakan representasi tanduk kerbau memiliki makna yang mendalam sebagai bentuk kemakmuran masyarakat Minangkabau.

Baca Juga  Perkembangan IPTEK Pada Generasi Milenial Mempengaruhi Pudarnya ABS-SBK di Minangkabau

Menunjukkan Masyarakat Minang yang Diplomatis

Dalam wawancaranya, Erwin menjelaskan lekukan pada atap bagonjong memiliki makna bahwa masyarakat Minangkabau itu adalah orang yang diplomatis. Masyarakat Minangkabau dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan tidak disampaikan secara langsung ke sasarannya, melainkan, mencoba melengkung layaknya desain atap bagonjong. Orang Minangkabau juga terkenal sebagai orang yang pintar dalam berunding dan pandai menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Hal ini sesuai dengan representasi bentuk komunikasi masyarakat Minangkabau.

Memiliki Makna Transedental yang Tinggi

Desain atap bagonjong yang memilik lengkungan berhubungan dengan hal-hal yang berbau kerohanian dan mempunyai makna ketuhanan, seperti sebagai tempat terakhir di bumi untuk dapat berkomunikasi dengan sang pencipta. Dalam konsep keyakinan, Tuhan YME berada jauh di atas langit. Oleh sebab itu, sebagian ahli agama memaknai atap bagonjong sebagai manifestasi dari manusia yang ada di bumi dalam berkomunikasi dengan sang pencipta.

Reporter: Haura Hamidah

Editor: Asa Alvino Wendra

Tag: minangkabaurumah gadang
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Menjaga Silek di Zaman Modern

4 Januari 2026 | 21:15 WIB
Tim peneliti arkeologi melakukan pengukuran makam Raden Hamzah bin Pangeran Ojoet/Raden Abdullah Kartawijaya pada Selasa (12/11/2025) (Tim Peneliti)

Raden Hamzah Sang Panglima Perang Kesultanan Jambi

4 Desember 2025 | 20:21 WIB

Fenomena Echo Chamber di Era Masyarakat Digital

4 November 2025 | 10:40 WIB

Kompleks Makam Kuno Malalo: Bukti Tradisi Berkelanjutan dari Megalitik hingga Islam

5 September 2025 | 22:33 WIB

Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

25 Agustus 2025 | 14:22 WIB
(Ilustrasi/ Sabilla Hayatul Dhi’fa)

Persepsi Gunung Padang: Bagaimana Pseudoarkeologi Mempengaruhi Imajinasi Publik

16 Juli 2025 | 12:06 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Tantri Pramudita)

    Pembaruan KUHP dan KUHAP di Tengah Kontroversi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kebijakan Outsourcing PNP Picu Protes dan Rencana Somasi Pekerja

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Ketika Negara Kecil Dihukum dan Negara Besar Kebal Hukum

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menjaga Silek di Zaman Modern

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kronologi Korupsi Alat Laboratorium yang Jerat Petinggi UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
gentaandalas.com

Genta Andalas © 2026

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak