• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 22 Januari 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Featured

Buayan Kaliang, Permainan Tradisional Minangkabau Yang Masih Menggunakan Tenaga Manusia

oleh Redaksi
25 Juni 2022 | 14:58 WIB
(Genta Andalas/dok.pribadi)

(Genta Andalas/dok.pribadi)

ShareShareShareShare
(Genta Andalas/dok.pribadi)

Pada zaman modern seperti sekarang sudah banyak permainan tradisional yang mulai hilang dimakan zaman. Hal ini terjadi karena eksistensi gadget yang lebih besar ketimbang mainan tradisional. Namun, siapa sangka permainan tradisional meskipun langka tetapi masih ada yang bisa di jumpai salah satunya ialah Buayan Kaliang.
Permainan ini menjadi salah satu permainan tradisional khas Minangkabau yang ternyata masih dapat kita jumpai di zaman modern ini. Buayan kaliang merupakan wahana permainan seperti komdi putar yang terbuat dari kayu. Buayan kaliang masih di gerakkan dengan tenaga manusia yang biasanya berjumlah enam orang. Buayan kaliang terdiri dari empat kotak, dimana satu kotak dapat diisi oleh empat sampai enam orang pengunjung.
Untuk menaiki buayan kaliang sendiri, pengunjung hanya perlu merogoh kocek seharga 2.000 rupiah untuk anak-anak dan 5.000 rupiah untuk remaja. Buayan Kaliang biasanya ditemukan di Pariaman dan Pesisir Selatan pada hari-hari liburan. Di Pariaman sendiri permainan Buayan Kaliang hanya diadakan tiga kali yakni libur Lebaran di Pantai Gandoriah, Festival Tabuik di Pantai Gandoriah dan Tradisi Basapa di Ulakan.”
Banyak anak-anak dan muda-mudi yang beramai-ramai menaiki Buayan Kaliang bersama-sama sambil tertawa-tawa renyah dan juga teriakannya yang begitu meriah. Apalagi ketika suasana lebaran yang terasa begitu hidup di Pantai Gandoriah. Melihat banyak keluarga-keluarga yang berkunjung ke Pariaman dari berbagai daerah demi menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.
Buaya Kaliang juga memberikan kesan hiburan terutama kepada anak-anak. Untuk dapat merasakan sensasi permainan ini perlu sedikit menunggu antrian karena sangat banyaknya antusias ari masyarakat sekitar yang juga ingin merasakan permainan ini.
Syauqi, salah seorang pemilih permainan Buayan Kaliang menuturkan bahwa Buayan Kaliang merupakan permainan tradisional yang termasuk dalam warisan budaya Minangkabau yang harus terus dijaga sampai generasi seterusnya, Syauqi juga menuturkan bahwa Buayan Kaliang ini menarik banyak minat pengunjung terutama yang pertama kali melihat Buayan Kaliang ini.
“Kalau untuk Buayan Kaliang ini memang warisan budaya kita yang harus terus kita kembangkan, Buayan Kaliang ini juga hanya ada tiga tahun sekali, yaitu pada Libur Lebaran, Festival Tabuil, dan Tradisi Basapa, saya sering melihat banyak pengunjung yang terkesima dengan pola kerja Buayan Kaliang ini karena msih menggunakan tenaga manusia, entah karena memang baru pertama kali melihat bentuk permainan seperti ini,” tutur Syauqi.
Syauqi juga menambahkan harapannya agar permainan tradisional seperti buayan kaliang mampu dilestarikan lagi dengan dukungan dari pemerintah setempat.
“Sangat sayang jika punah , kasian anak cucu yang belum merasakan sensasi permainan ini. Semoga banyak lagi permainan tradisional yang di lestarikan atau bahkan di kenalkan lagi ke masyarakat terkhusus anak-anak,” tutup Syauqi.
Dilain sisi, banyak sekali masyarakat yang mengaku terpacu adrenalinnya saat menaiki buayan kaliang ini, karena terbilang ekstrim. Meskipun terbilang bahaya, sensasi yang didapatkan pengunjung juga terbayarkan dengan suguhan pantai Gondariah yang indah dan hembusan anginnya.

Baca Juga  Bukit Nobita, Pancarkan Pesona Unik Kota Padang

*Penulis merupakan

mahasiswi Fakultas Ilmu

Budaya

Tag: #unandpariaman
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Kue Sagun Bakar yang dibuat dengan cara tradisional, yakni dengan dibakar. ( Genta Andalas / Putri Salsabila Eryadi)

Cita Rasa Tradisional Sagun Bakar, Kue Khas Minangkabau

1 Juni 2023 | 21:31 WIB
Janjang Ampek Puluah yang Terletak di Antara Perumahan dan Pertokoaan.
Sumber : Kompasiana/ Al Johan

Janjang 40, Spot Foto Berlatar Pemandangan Kota, dari Era Kolonial

27 September 2022 | 22:09 WIB
Jalan yang Membelah Padang Mangateh dengan Latar Gunung Sago. (Genta Andalas/Dok. Pribadi)

Padang Mangateh, Peternakan di Sumatera Barat yang Indah

29 Juni 2022 | 19:24 WIB
(Genta Andalas/dok.pribadi)

Gulo Gulo Tareh, Si Manis yang Kini Sulit Dicari

28 Juni 2022 | 10:02 WIB
Beberapa pengunjung yang sedang berjalan dan menikmati pemandangan di Taman Selecta Malang. (Genta Andalas/Nurul Anisa Azwir)

Taman Selecta Malang, Tempat Wisata Menarik Bernilai Sejarah

13 Maret 2022 | 21:48 WIB

Pengalaman Untuk Meningkatkan Keahlian Selama Perkuliahan

5 Maret 2021 | 17:30 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • KKN Kebencanaan Kapalo Koto dan UNIB Salurkan Bantuan Gizi Pasca Banjir

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Peminjaman Gedung UNAND Masih Hadapi Kendala Teknis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Potret Kegiatan Ulang Tahun ke-44 LBH Padang

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2026

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak