Beranda Wawasan Teknologi

Art Cave Tetap Menjaga Higenisitas Kulit Manis

gentaandalas.com- Mengeringkan kulit manis dengan cara tradisional menggunakan paparan sinar matahari yang diletakkan di tepi jalan membutuhkan waktu tiga sampai empat hari agar kulit manis kering, dan membuat kulit manis tidak higienis lagi. Pepi Putri Utami, Dicky Anugrah, Amimul Ummah Baiqi, Ade Al Fauzan, dan Windi Surya Ningsih mempunyai ide untuk petani  kulit manis. Art Cave (Smart Dryer System For Cassia Vera) sebuah alat untuk mengatasi masalah petani kulit manis.

Setelah melakukan diskusi dengan Dosen pembimbingnya M. Ilhamdi Rusydi, maka Peppi dan teman lainnya mempunyai ide untuk membuat alat pengeringan kulit manis yang tetap menjaga higenitas kulit manis. Menurut mereka, dengan cara tradisional kulit manis tidak higienis lagi untuk dikonsumsi dan membutuhkan waktu pengeringan yang lama. Selain itu,  faktor lain munculnya alat ini karena curah hujan yang tinggi, sehinnga kulit manis dengan pengeringan tradisional dapat memicu munculnya jamur.

Peppi menjelaskan alat ini dirancang berbentuk kompor atau oven yang serupa dengan lemari, di dalamnya diberi sekat-sekat dan penggunaan alat ini dilakukan bersamaan dengan kompor gas. “Alat ini berbentuk lemari, nantinya diberi sekat-sekat dan setelah diskusi dengan mitra alternatif untuk alat ini mudahnya dengan kompor gas,” ujar Peppi. Suhu untuk alat ini ditetapkan 50 derajat sampai 60 derajat. Jika lebih dari 60 derajat celcius maka kandungan minyak aksiri dalam kulit manis akan hilang.

Setelah melakukan Reset and Development, maka baru bisa ditetapkan lamanya kulit manis dikeringkan dalam alat ini. “saat ini tim kami sedang membuat alatnya tapi harapannya kita membutuhkan waktu hanya beberapa jam untuk pengeringan ini,” ujar Peppi.

Peppi menyebutkan bahwa, sebelumnya alat ini sudah ada dijual di pasaran, namun harganya ratusan juta sehingga untuk masyarakat yang ekonominya rendah sulit untuk membeli alat ini. Tujuan alat ini dibuat untuk meringankan beban-beban masyarakat berpenghasilan rendah. Banyak alat-alat untuk pengeringan yang dijual di pasaran, tapi tidak untuk pengeringan kulit manis dan alat ini kebanyakan digunakan oleh pabrik-pabrik.

Rencana kerja pengeringan dengan alat ini dilakukan ketika kulit manis basah kemudian dimasukkan ke dalam oven, kemudian diletakkan di sekat-sekat. Panjang kulit manis yang dipotong 1 m sedangkan lebar 0,5 m dan tinggi 1,2 m. Kelebihannya dengan menggunakan alat ini bisa menjaga kandungan zat, suhu, dan kehigenisannya. Monitoring bermanfaat untuk mengatur suhu tetap konstan, sehingga akan memberi informasi kepada penggunanya.

Peppi menjelaskan kalau oven ini panjangnya 1 meter, lebar 1.5 m dan tinggi 1 m dengan memiliki empat sekat atau lima sekat. Banyaknya muatan oven yang bisa mengeringkan kulit manis belum dapat dipastikan, karena  Peppi dan tim belum masuk pada tahap riset and development. Setelah nantinya masuk pada tahap tersebut akan dilakukannya spesifikasi alat.

“Setelah melakukan reset and evelopoment nanti kami akan membuat spesifikasi alat ketika alat ini sudah jadi. Spesifikasi alat ini berdasarkan alat yang telah jadi, bukan berdasarkan kebutuhan untuk membuat alat ini. Namun, nantinya kami akan melakukan perkembangan untuk kapasitas alat ini,” lanjutnya.

Strategi pencapaian untuk alat ini ada beberapa tahap, pertama paten bertujuan untuk mempatenkan sistem dan monitoringnya dengan keunggulan pada alat ini agar orang lain tidak dapat mengambil hak cipta tersebut. Kedua, artikel ilmiah berupa terindeks scopus dan ketiga, seminar. Peppi dan tim mengusahakan melakukan seminar internasional, seminimalnya mengadakan seminar nasional karena itu merupakan nilai plus dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Bahan untuk kerangka  Art Cave menggunakan alumunium yang dilihat dari segi ketebalannya, sementara monitoring digunakan komponen-komponen elektronika seperti sensor suhu, sensor tekanan dan untuk sumber panas menggunakan kompor gas. Untuk menggunakan alat ini paling lama selama 6 jam.

Kendala dalam proses pembuatan alat ini ialah pengambilan sampel kulit manis untuk penelitian. Kulit manis yang dipanen pohonnya harus yang sudah besar. Kulit manis yang umurnya muda, kulitnya masih tipis, sedangkan kulit manis yang sudah tua kulitnya sudah tebal. “Kendala yang dirasakan ialah mengambil sampel kulit manis, karena untuk panen kulit manis ini ditunggu dulu pohonnya tumbuh besar,” ujar Peppi.

Konsumen memilih kulit manis sesuai kebutuhan yang digunakan untuk kosmetik dan obat-obatan. Kemudian akan diekspor terlebih dahulu ke luar negeri karena Art Cave bertujuan membuat suatu perubahan.

Peppi mengatakan harga alat ini belum dapat dipastikan, kerana harus dilakukan riset and develompent. “Harapannya harga yang dipasarkan lebih murah dan kalau bisa kurang dari 5 juta,” jelas Peppi.

Peppi berharap dengan adanya alat ini pola pikir masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah berubah mengenai higenitas, karena kadar  kandungan kulit manis sangatlah penting. “Mengenai higenisitas itu sangatlah penting, jadi nantinya tergantung kepada pembeli lagi kejeliannya membeli kulit manis,” ujar Peppi.

Harapan Peppi dan tim untuk alat ini, semoga memudahkan petani yang berpenghasilan rendah tidak merasa kesulitan dalam pengeringan kulit manis jika musim hujan. Kemudian, masyarakat dapat menerima dengan baik Art Cave.

Reporter : Zurriati Fadilla

Editor : Juni Fitra Yenti

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here