Beranda Sastra dan Budaya Sastra dan Seni Aku Benci Tuhan

Aku Benci Tuhan

akuuuuOleh : Endah Destya Zulfani*

Aku hanya ingin hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tak masalah jika hidupku hanya biasa-biasa saja. Bukankah hidup itu sederhana. Namun bukan hidup sederhana yang aku inginkan.Tapi didalam kesederhanaan itu aku ingin hidup.Aku menghargai kata-kata yang tidak aku mengerti. Itu kata-kata yang pernah seseorang ucapkan padaku. Hingga sekarang pun aku tidak pernah mengerti apa maksud dari ucapannya.

Hari-hari yang kujalani masih terasa asing sejak aku meninggalkan kampung halamanku dua hari yang lalu. Ini pertama kalinya aku meninggalkan kampung  halamanku semenjak aku dilahir kedunia ini.  Meninggalkan sejuta kenangan  bersama orang-orang yang  aku cintai, bersama orang-orang yang pernah hadir didalam hidupku. Aku tak lagi mempunyai keluarga semenjak peristiwa yang menyakitkan itu. Peristiwa yang membuatku harus membenci hidup ini. Peristiwa  yang membuatku marah dengan takdir yang yang diberikan Tuhan untukku.Aku membenci hidupku. Aku membenci orang-orang yang pernah Tuhan hadirkan untukku. Walau pada akhirnya tetap saja akan mengambilnya dari ku dengan cara sangat  menyedihkan.
Dikota baru yang aku tinggali ini aku hidup sebagai orang baru. Aku tak lagi sama seperti aku yang dulu. Menjalani hidup seakan aku tak pernah mati. Aku tak lagi peduli dengan apa yang ada disekitar hidupku. Aku tak lagi mau memiliki orang-orang yang aku cintai. Aku hanya ingin sendiri. Sendiri dalam hidup yang menyedihkan ini. Setiap hari adalah sebuah penyakit yang tak pernah dapat disembuhkan bagiku. Setiap aku menjalani hari-hariku, terasa ada sebuah lubang dihati ini yang semakin hari semakin membesar seriring waktu berjalan.
Tapi semuanya berubah disaat aku bertemu dengan seseorang yang mampu mengubah titik balik kehidupanku sepenuhnya. Mengembalikan  kepercayaan hidup yang pernah  aku tinggalkan bersama  kenangan indah yang pernah aku rasakan. Aku tak sengaja bertemu dengannya saat aku benar-benar tak lagi percaya akan Tuhan. Mungkin ini bukan sebuah kesengajaan, tapi memang Tuhan mengirimkannya untukku. Dia seseorang yang aku temui saat aku melintasi sebuah panti asuhan dikota ini. Saat itu entah kenapa perhatianku tertarik dengan tingkah dan gerak-gerik bocah itu. Bocah yang aku perkirakan berumur 8 tahun itu tak seperti teman-teman lainya. Ia lebih aktif dibandingkan dari anak-anak lainnya. Ia lebih ceria. Aku tertarik mendekatinya. Aku tak tahu entah apa yang mendorongku.

Sekarang aku sedang berada disamping bocah ini. Ternyata dari dekat aku bisa melihat tubuhnya yang sangat ringkih. Tubuh yang sangat kecil bahkan aku dapat melihat tulang-tulangnya dengan begitu jelas. Di kedua lengan tangannya terdapat banyak bekas luka suntikan, bahkan aku dapat dengan jelas melihat lubang-lubang yang timbulkan oleh jarum kecil itu. Aku tak tahu penyakit apa yang sedang diderita oleh bocah ini. Mulutku kaku untuk bertanya, namun sudah lebih satu jam aku berada disampingnya, dan selama itu juga ia terus memandangiku dengan mata sayunya.

Aku terdiam dan bocah ini pun juga ikut diam. Seolah tahu apa yang aku pikirkan tentangnya, bocah ini mengukir  senyum tulus diwajahnya. ”Kenapa kakak terus memandangiku? Kakak kasihan melihatku?”. Aku tak tahu apakah aku harus menjawab pertanyaan dari bocah ini, lidahku kelu tak bisa kurgerakan. ”Kenapa kakak diam? Jangan memandangiku seperti itu kak, aku tau pasti kakak kasihan melihat tubuhku yang kecil ini…”. ”Kenapa aku harus kasihan padamu bocahkecil?” Sedikitpun aku tidak kasihan melihat kondisi tubuhmu itu! Aku tidakpeduli!”. Bocah itu terpana melihatku setelah mendengarkan ucapan yang menurutku sangat kasar untuk ditujukan kepada seorang anak.

Namun tiba-tiba dia malah tertawa, bahkan sampai terbahak, seperti tak ada beban digeraitawanya. ”Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang  salah dengan ucapanku tadi?”Aku sedikit menghardik mengatakanya. Dan bocah itu kembali terpana namun kali ini tak ada lagi tawa yang lepas. Matanya yang sedari tadi bercahaya kini tiba-tiba kembali sayu. Dia menghela nafas sangat dalam sedetik kemudian tak ada tanda-tanda ia akan bicara ia tetap diam.

Ada perasaan bersalah yang menyelip dihatiku. Aku bertanya didalam hati. Apakah dia marah karena aku menghardiknya?  Pertanyaan lain pun ikut bermunculan satu persatu. ”Apakah Tuhan membenciku? Apakah Tuhan akan menghukum selamanya? Apakah aku tidak boleh hidup seperti teman-temanku yang lain? Apakah aku ini benar-benar harus hidup seperti?”. Dia menumpahkan semuanya. Kekesalan yang selama ini menganggu pikiran. Aku tak menyangka, Tuhan begitu kejam, walau aku tak tahu apa yang telah terjadi pada hidup bocah ini, tapi aku yakin pasti hal yang sangat menyakitkan yang pernah ia alami.

Tapi setelah ia menumpahkan kesedihannya. Ia kembali menatapku. Lama ia menatapku dan kemudian ia mengatakan kata-kata yang tak mungkin bagi seorang bocah yang berumur 8 tahun sanggup mengatakannya. ”Tapi apapun yang terjadi selama ini aku tetap tidak membenci Tuhan, Tuhan pastilah sayang padaku. Walau rasa sayang yang ditunjukannya dengan cara yang berbeda, Tuhan masih memberiku hidup.   Membiarkan aku menghirup udaranya, membiarkan aku merasakan kasih sayang dari hamba-hambanya lain, dibandingkan dengan yang lain aku masih beruntung. ”dia tersenyum.

Aku terhenyuh mendengarkan bocah ini. Hati lemas mendengarkannya. Bagaimana  mungkin seorang bocah mampu mengatakan hal ini. Bagaimana seorang bocah mampu menerima kesulitan yang orang dewasa sepertiku saja tidak mampu menerimanya.

Aku malu, aku malu terhadap diriku. Malu terhadap bocah ini. Aku terlalu rapuh jika dibandingkan  dia.”Aku hanya hidup dengan seperti apa yang aku inginkan saja. Hidup dengan mencoba terima apa yang Tuhan berikan. Bukankah hidup kitaini sederhana. Tapi bukan hidup sederhana yang selalu menyalahkan takdir. Tapi di dalam kesederhanaan yang dimiliki hidup itu, aku ingin hidup”.Aku kembali tertunduk lemas mendengarkannya. Aku tak mampu berkata-kata lagi.

Aku kembali mengingat hidup yang pernah aku sia-siakan.  Hidup yang setiap hari aku jalani dengan hati yang penuh kebencian. Aku menangisi diriku sendiri. Hatiku berteriak. Aku ingin hidup. Hidup didalam kesederhanaan yang Tuhan berikan untuku. Aku ingin hidup tanpa ada rasa kebencian yang menggeluti hatiku selama ini, aku ingin hidup hingga Tuhan akan menciumku dan merangkul kedalam dekapanNya.

*Penulis merupakan mahasiswi Agroekoteknologi Angkatan 2012

1 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here