Beranda Berita

Aksi Tunggal Mahasiswa Unand Bukan Kritik Rambut Gondrong

Mahasiswa Unand saat melakukan aksi tunggal di persimpangan menuju Rumah Sakit Unand, Kamis (29/8/2019). (Foto : Rahmat Fiqri)

gentaandalas.com- Aksi tunggal mahasiswa Universitas Andalas (Unand) di persimpangan menuju Rumah Sakit Unand pada Kamis (29/8/2019) bukan dengan dalih untuk mengkritik peraturan rambut gondrong, namun lebih kepada permasalahan mahasiswa yang kerap diabaikan pihak kampus. Hal ini disampaikan oleh mahasiswa berambut gondrong dari Fakultas Teknik (FT) Unand, Wahyu.

Menurut Wahyu, seharusnya pihak kampus lebih mengutamakan masalah besar kampus,  bukan mengurusi masalah kecil, seperti penampilan mahasiswa. Wahyu juga mengatakan, tidak seluruh fakultas menerapkan peraturan rambut gondrong ini, termasuk FT. Tapi di fakultas lain, Wahyu menemukan mahasiswa yang rambutnya dipotong secara paksa, apalagi saat memasuki masa ujian.

Aksi yang dilakukan Wahyu ini mendapat perhatian dari beberapa mahasiswa yang melewati persimpangan tersebut. Tak hanya mahasiswa Unand, aksinya juga menjadi perhatian Satpam Unand dan Kepala Bagian Umum Unand tahun 2012, Amri.

Menanggapi aksi tunggal ini, Wakil Rektor I Unand Dachriyanus, menegaskan mahasiswa untuk melihat lagi peraturan tentang tata tertib kehidupan kampus.

“Coba lihat peraturan tentang tata tertib kehidupan kampus,” tutur Dachriyanus.

Menanggapi soal aksi ini, Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik FISIP Unand, Ajo yang juga ikut serta dalam aksi ini mengatakan ia mengetahui aksi ini dari postingan di sebuah media sosial dan Ajo memutuskan untuk mengepos ulang postingan itu terlebih dahulu. Niatnya agar teman-teman yang lain termotivasi untuk ikut aksi ini.

BACA JUGA:  Edukasi Kesehatan Lewat Lomba Poster

“Saya nggak diajak sama Bang Wahyu ataupun organisasi, tapi memang diri saya terpacu untuk bantu aksi,” kata Ajo.

Ajo menyebutkan, persoalan rambut gondrong juga menjadi tanda tanya besar bagi mahasiswa berambut gondrong. Apalagi pihak kampus menyangkut pautkan rambut gondrong dengan nilai akademik, sehingga terjadi penilaian secara subjektif dalam perkuliahan. Ajo menuturkan, ia pernah menemui kasus rambut gondrong disangkut pautkan dengan nilai akademik. Gara-gara rambut gondrong, nilai menjadi  BL.

Ajo mengungkapkan, teguran demi teguran kerap diterima Ajo dan beberapa mahasiswa berambut gondrong lainnya. Apakah rambut dan penampilan mahasiswa lebih penting daripada masalah Unand seperti UKT, jalur mandiri, PTN-BH, dan keamanan kampus yang semakin parah.

Reporter : Anggi Putri Rizkya dan Rahmat Fiqri

Editor : Nurul Pratiwi

Pilihan Editor

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here