Beranda Berita

14 Matakuliah Jurusan Sastra Inggris Tidak Mendapatkan Kelas

Hasanuddin, Dekan FIB Unand

gentaandalas.com- 14 matakuliah di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) tidak mendapatkan kelas dikarenakan sistem Unand yang hanya memberi kelas pada matakuliah yang lebih dari 40 orang. Hal ini disampaikan Dekan FIB Unand, Hasanuddin, di Dekanat FIB, Senin (28/1/2019).

Hasanuddin mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, gedung kuliah yang ada di Unand tidak ada penambahan dan setiap tahun mahasiswa yang masuk juga bertambah. Tidak hanya itu, beberapa fakultas yang perkuliahannya dipindahkan ke Limau Manis juga menambah kuota dalam pemakaian gedung kuliah. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara gedung kuliah dengan mahasiswa yang ada di Unand.

“FIB tidak memiliki ruang kelas, jadi kami mencoba memindahkan perkuliahan yang tidak mendapat kelas ke pusat bahasa dan ada juga beberapa dosen yang memindahkan kelas ke kafe untuk sementara, sebelum mendapatkan kelas yang layak. Unand mencarikan solusi dengan menambahkan kelas sore, tetapi banyak kelas yang bentrok,” kata Hasanuddin.

BACA JUGA:  Sempat Vakum, FIB Kembali Buka SP

Hasanuddin menambahkan, di samping tidak memiliki kelas dan banyak kelas yang bentrok, saat melaporkan permasalahan ini ke pihak rektorat, pihak rektorat tidak menanyakan akar permasalahan dan tidak mencarikan solusi yang tepat. Pihak rektorat hanya memberitahu bahwa hal itu disebabkan karena pembaruan sistem di Unand, dimana Unand hanya memberi ruang kelas untuk matakuliah yang memiliki mahasiswa 40 orang atau lebih.

Jurusan Sastra Inggris memiliki beberapa matakuliah yang membutuhkan skill yang sebaiknya tidak boleh lebih dari 25 orang dalam satu kelas, agar pembelajaran lebih efektif. Sehingga, kelas-kelas kecil tersebut tidak masuk dalam sistem dan matakuliah tersebut tidak mendapatkan kelas.

BACA JUGA:  Sempat Vakum, FIB Kembali Buka SP

Lebih lanjut, Hasanuddin berharap adanya penambahan gedung kuliah dari Unand dan dapat menerapkan sistem daring, mengingat sekarang juga merupakan Revolusi Industri 4.0 yang tidak memerlukan tatap muka saat perkuliahan. Jadi, mahasiswa dan dosen dapat kuliah dengan sistem online, serta adanya komunikasi yang baik dari pihak rektorat agar dapat mendiskusikan permasalahan ini bersama-sama.

Salah seorang dosen Sastra Inggris, Marliza Yeni, mengaku matakuliah yang diampunya tidak mendapatkan ruang kelas dan ia bingung dengan keadaan seperti ini.

“Saya bingung mau mengajar dimana, sampai pada akhirnya jurusan menginfokan agar dosen matakuliah bersangkutan agar menghubungi kelompok-kelompok kelas yang diajar, karena di portal hanya tertera matakuliah dan jam, tidak disertakan dengan nama dosen. Mahasiswa pasti bingung mau menghubungi siapa,” ungkapnya.

Reporter: Fildzatil Arifa dan Gifra Sentia

Editor: Nurul Pratiwi

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here