Jumat, 26 Mei 2017

Wikan

Oleh: Khumairoh*

25 Desember 2016 - 7:45 WIB Kategori: Sastra dan Budaya 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 53 Kali

cerpen-fixTengah malam selepas hujan deras mengguyur bantaran Code, Wikan terjaga. Bukan karena hawa dingin yang menyerobot masuk dalam tubuhnya lewat serat kain perca yang dijahit sedemikian rupa. Bukan pula karena denting butiran hujan yang menghantam aspal dan atap seng rumah singgahnya. Satu koloni semut hitam asik menjilati ujung jari kakinya yang dibebat kain kasa, kemudian tanpa izin mereka merayap hingga lutut gadis kecil yang tak tertutup oleh selimut perca.

Tidak ada sampah yang berserak di sudut ruangan seluas 2×3 meter ini. Dengan mata sembab sisa tangisan sore tadi, ia mengerjap cepat. Matanya harus segera beradaptasi. Di sisi kanan tempat Wikan duduk saat ini, masih ada mbak yu nya yang tidur miring ke kanan. Menghadap tembok lembab yang mulai ditumbuhi jamur tipis berwarna hitam. Getaran halus di bahunya yang teratur mengisyaratkan hujan semalam tak membuatnya kedinginan. Mungkin karena sudah kebal dengan cuaca yang seperti itu.

Wikan mengerjap lagi, pandangannya beralih pada mozaik tempat wisata yang dikumpulkannya dari sobekan koran harian di dinding yang penuh lubang bekas paku yang tercerabut. Di dinding itu pula bahan makanan mewah semacam biji kacang hijau, tepung beras ketan, dan sejumput serbuk kayu manis menggantung dalam bebatan plastik bening dengan lambang pusat perbelanjaan yang sudah kucel. Lima, atau bahkan kurang dari empat potong baju yang penuh dengan motif getah pelepah pisang tak jauh dari kantok logistik mereka. Barangkali sabun colek sudah tak mempan menghilangkan noda yang terlanjur mengering. Sabun colek hanya mampu membuat warna baju jingga kesayangannya semakin pudar. Meskipun ada sisa harum yang menguap selepas bertengger dibawah terik matahari campur debu pinggiran kota.

Matanya mengerjap lagi, menyesuaikan dengan lampu neon yang temaram. Air mukanya mengernyit. Perih terasa ketika Wikan mencoba mengucek kelopak matanya. Ia harus segera cuci muka. Namun, semut-semut itu masih setia menjilati ujung jari kakinya. Tanpa berniat menganggu keasikan koloni semut hitam tersebut, ia beringsut menuju sudut ruangan tempat tempayan air berada. Tak ada ceceran butiran gula sepanjang alas tikar tempatnya tidur hingga tempayan air. Tapi, semut hitam seolah dengan senang hati mengiringi langkahnya yang timpang.

Di atas tempayan, tepat di bawah atap seng yang berlubang, sebaskom air menggenang. Urat mukanya kaku ketika menerima guyuran air hasil menadah bocoran. Amat dingin ketika meresap di kulit. Lantai tanah yang dipijaknya juga ikut menyumbang dingin yang menjalari telapak kaki hingga sumsum tulang. Harusnya bukan dingin lagi yang ia rasakan, melainkan kesejukan yang hadir tengah malam. Dingin, baginya merupakan diksi yang dekat dengan tatapan tajam yang menusuk ulu hatinya. Membuat dirinya gigil, atau bahkan mati rasa.

Selepas membasuh mukanya, Wikan kembali selonjor di atas tikar pandan. Suara gumaman keluar dari tenggorokannya. Ia lupa tak sekalian membasahi kerongkongannya.

“Mengapa kau sengaja mengikutiku?” tanyanya sambil merunduk, mendekatkan mukanya dengan antena semut hitam. Yang disapa, secara tiba-tiba mendongakkan kepala.

“Halo, namaku Junet. Teman sekoloni kerap memanggilku Jun, meskipun terdengar kurang nyaman. Aku tidak secara sengaja mengikutimu. Ratu semut menugaskan kami untuk mengubah air matamu yang asin itu, menjadi semanis nira,” ucap Jun, kakinya menendang-nendang udara yang kosong.

“Lantas, darimana asalmu? Apakah kau tinggal dan berasal dari lubang semut di sebelah bilik ini? Atau kau yang menghuni sarang semut 7 jengkal dari tempatku duduk saat ini? Kau pernah merasakan air mata?” Wikan semakin penasaran. Suaranya dibuat serendah mungkin, takut percakapannya kepergok mbak yu nya. Sementara itu, tubuh yang tak lebih tinggi dari tubuh Wikan itu semakin erat bergelung. Kedua tangannya mendekap lutut. Rupanya hawa dingin sudah menjalar ke penjuru ruangan.

“Sarang semut 7 jengkal telapak tanganmu. Di sana aku berasal, hari ini aku mengunjunginya lagi setelah ekspedisi panjang dari rumah kue di seberang kali Code,” Kaki depan Jun menunjuk arah tenggara. Lubang semut, tempat ratunya bertahta selama 47 hari dan rekan koloninya menimbun bahan makanan.

“Kau pernah mencicip rasa manis?” Jun balik bertanya.

“Aku tak pernah mencicip rasa asin. Aku belum pernah mereguk air mata. Jadi, benarkah kalau air mata itu rasanya asin? Sepanjang usiaku, aku hanya dijejali oleh rasa manis, entah dari mana saja para pendahulu mendapatkan sumber makanan itu. Biasanya remahan kue, atau kalau sedang beruntung kami mendapatkan ceceran pepaya. Sejak tiga hari yang lalu, beberapa koloni lalu lalang menggunakan perahu daun nangka kering untuk mengangkut remahan kue muffin. Perjalanan kami sempat tersendat karena jalur diobrak-abrik oleh anak pemilik rumah kue itu. Ia kerap sekali menindih tubuh sebagian dari kami dengan telunjuknya. Penciuman kami terganggu, sekaligus tergoda oleh paduan aroma vanili, telur, mentega, dan terigu maha dasyat dari loyang pemanggang, dan…” Jun bercerita panjang lebar.

“… Dan, berapa hari usiamu hingga saat ini?” Wikan memotong cerita.

“20 hari lewat 7 jam dan tambahan sekian menit serta detiknya. Aku tak ingat secara jelas,” Ia menerawang untuk menghitung usianya sambil mencuil remahan kue namanya susah dihapal oleh Wikan.

“20 hari, dan kau sudah melakukan ekspedisi? Bagaimana ratu mu bisa berpikiran untuk mengubah air mata yang asin menjadi semanis nira? Apalagi menunjukmu, padahal kau sendiri belum pernah mencicip rasa selain rasa manis,” tanya Wikan sambil menyangga muka dengan kedua telapak tangannya. Dalam sirkuit otaknya menyelip pertanyaan sudah seberapa lama Jun mengenal dirinya hingga berani menceritakan ekspedisinya?

Tentang mencicip rasa, Wikan mulai memainkan jemarinya di pipinya yang tirus. Menghitung sudah berapa macam rasa yang ia cicipi selain manisnya kuah gudeg yang kerap ia beli dengan uang dua ribu perak atau manisnya nasi yang dibeli mbak yunya di pasar Beringharjo. Rasa asin dari campuran peluh dan air mata. Oh, tidak, bukan hanya dari peluh dan air mata saja. Ia pernah merasakan asin sekaligus gurih dari ikan wader dan sepat yang dimakan ramai-ramai dengan kawan-kawan sebayanya di bantaran Code. Rasa asam pernah ia cicip ketika suatu hari bungkusan asem kawak tercecer di jalan raya. Rupanya itu barang dagangan seseorang dari pasar Kranggan. Satu-satunya rasa yang jarang mampir di lidahnya adalah rasa pahit, selain obat cair mirip tinta yang dioleskan di lidah dan langit-langit mulutnya ketika ia berusia empat tahun.

Sedangkan muffin seperti yang dikatakan oleh Jun, seperti nama makanan yang mewah. Terhidang di meja pesta dengan taplak putih berenda. Benarkah rasanya manis sepeti gudeg, seperti nasi, atau malah sama manisnya dengan roti tawar? Jangan-jangan manisnya melampaui senyum anak-anak sebayanya yang berlarian mengenakan seragam putih merah di jalan seberang kali. Entahlah. Pelupuk matanya menggembung, bulir air mata mulai berdesakan. Lalu jatuh, satu persatu. Banyak sekali keinginan yang mengawang dalam pikiran Wikan. Banyak sekali yang ingin disampaikan pada seekor semut hitam itu. Termasuk keinginannya untuk beralih menjadi seekor semut. Perutnya melilit, berontak terhadap gempuran angin malam dan sisa glukosa.

“Kau lapar? Mau mencuil manisnya muffin?” seolah membaca pikiran Wikan, Jun mendongak bertanya.

“Aku lapar, tapi kau mau mencicip rasa asin juga?” Wikan beranjak menuju tempayan lagi. Jun mengikuti dibelakangnya.

Wikan berjongkok dekat tempayan air, juga berdekatan dengan lubang semut, mengambil sebuah serpihan batu, kemudian mulai mengetukkannya pada dinding tempayan. Keduanya sama-sama mengangguk, menyetujui mencicip rasa yang baru.

“Iya, aku mau mencicip muffin. Kapan-kapan, yang entah kapan,” bebarengan dengan kalimat Wikan yang menggantung di udara, isi tempayan ambrol.

“Selamat mereguk asinnya air mata. Sementara aku menyeduh teh pekat yang manis dengan sisanya.”

*Penulis merupakan anggota UKM Pers Balairung

Universitas Gajah Mada

Wikan Reviewed by on . Tengah malam selepas hujan deras mengguyur bantaran Code, Wikan terjaga. Bukan karena hawa dingin yang menyerobot masuk dalam tubuhnya lewat serat kain perca ya Tengah malam selepas hujan deras mengguyur bantaran Code, Wikan terjaga. Bukan karena hawa dingin yang menyerobot masuk dalam tubuhnya lewat serat kain perca ya Rating: 0

Permalink : http://wp.me/s52sAd-wikan

Tinggalkan Komentar

scroll to top