Senin, 25 September 2017

Home » Laporan » Laporan Utama » Tafdil Menang, Werry Legowo

Tafdil Menang, Werry Legowo

1 November 2015 - 10:16 WIB Kategori: Laporan Utama 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 124 Kali

rektor-unandMasa tugas Werry Darta Taifur dalam memimpin Universitas Andalas (Unand) tinggal menghitung hari. Werry akan melepaskan jabatannya November mendatang. Rektor baru pun sudah terpilih. Telah banyak prestasi yang dicapai Unand di bawah kepimpinannya. Unand berakreditasi A, peringkat delapan UI Green Matric adalah sedikit dari prestasi yang membanggakan sivitas akademika Unand. Tentu, tidak ada kepemimpinan Werry yang tanpa cela.

Sebagai incumbent, Werry terbilang yang dijagokan dalam pemilihan rektor yang telah usai dihelat. Terbukti ia berhasil unggul di dua putaran sebelumnya. Namun sayang, Werry harus membungkus asanya untuk kembali menjadi rektor di putaran ketiga pada pemilihan tingkat menteri. Ia berhasil ditikung Tafdil Husni, Dekan Fakultas Ekonomi di putaran akhir tersebut.

Keputusan Menteri Jadi Polemik

Kemenangan Tafdil di putaran akhir cukup membuat kaget sebagian besar warga Unand. Aidinil Zetra, Dosen Ilmu Politik mengungkapkan adanya kesalahan dalam mekanisme pemilihan rektor yang tidak menjamin proses yang demokratis dari awal sampai akhir. “Jika memang tetap negara yang akan memutuskan pada tahap akhir, untuk apa perlu ada pemilihan di tingkat dosen, senat dan sebagainya,” tegasnya. Aidinil mengatakan daripada menciderai demokrasi yang telah berjalan, maka lebih baik langsung negara saja yang memilih rektor masing-masing universitas.

Melihat dari segi politiknya, pemilihan rektor ini dibubuhi dengan unsur-unsur politik, sebagaimana disampaikan Sri Zulchairiyah, dosen Jurusan Ilmu Politik. Ia menuturkan ada unsur kepentingan seiring dengan masuknya aturan kementerian, sehingga terlihat tidak adil padahal sudah ada pemilihan di tingkat dosen dan senat. “Hendaknya proses pemilihan rektor lebih baik ditunjuk berdasarkan rekomendasi majelis guru besar dan mungkin dengan masukan dari bawah, karena tidak adanya hak politik dosen,” jelasnya. Menurutnya, jika dengan proses ini selayaknya mahasiswa juga diberi hak dengan sistem perwakilan.

Banyaknya opini yang berkembang di kampus bahwa kemenangan Tafdil dikarenakan kedekatannya dengan menteri, langsung ditepis Musliar Kasim, mantan Rektor Unand. “Saya tidak melihat itu. Menteri tentu punya pertimbangan tersendiri. Sekarang tugas kita bagaimana mendukung rektor terpilih agar membawa Unand ke arah yang lebih baik lagi,” ujar mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tersebut. Musliar berpesan kepada rektor terpilih untuk pandai merangkul suara mayoritas yang dua putaran sebelumnya dimenangkan oleh Werry.

Berdasarkan hasil pemilihan rektor yang telah dilakukan, Werry tidak ingin larut dalam hal ini. Keputusan Kemenristek DIKTI sebagai penentu hasil pemilihan tidak bisa diganggu gugat. “Memang kriteria penilaian dari menteri tidak dipublikasikan kepada publik. Menteri hanya menggunakan hak mereka yang 35 persen itu. Bagi saya peraturan tidak salah, namun menteri yang menggunakan wewenang tidak semestinya. Kalau orang tidak suka dengan saya, maka saya tidak mau minta-minta. Kalau menteri tidak suka dengan kita buat apa kita jadi rektor?” tegasnya. Namun Werry tidak menyalahkan peraturan dalam proses pemilihan rektor, ia hanya menyayangkan hak menteri dalam menggunakan wewenangnya yang seharusnya memilih berdasarkan prestasi.

Menanggapi rumor kemenangan Tafdil yang dibantu menteri, Tafdil menjelaskan tidak ada pengaruh hubungan dengan menteri saat pemilihan rektor tersebut. Sebab ketiga calon rektor sama-sama mengenal dan dikenal menteri. “Semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Pak Werry kenal dengan menteri, begitu juga dengan pak Masrul kenal dengan menteri. Semuanya kenal menteri,” tuturnya sambil tersenyum. Tafdil juga menambahkan suara menteri merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan menteri memiliki hak suara. Jauh berbeda dengan perguruan tinggi swasta yang tidak melibatkan suara menteri.

Transparansi Proses Pilrek

Tidak ada perbedaan terkait sistem pemilihan rektor tahun 2011 dengan 2015. Tentu saja ini merupakan sebuah kaedah hukum positif yang sudah dilalui. Namun, sebagai orang yang tinggal di perguruan tinggi, tentunya akan timbul pertanyaan bahwa sistem ini tidak begitu transparan. Menurut Firman Hasan, sistem pemilihan rektor ini bisa dikatakan demokrasi, karena dimulai dari bawah, yaitu mulai dari tingkat dosen dan dilanjutkan di tingkat senat, namun pada proses terakhirnya ditentukan menteri. “Suara menteri lebih dari sepertiga, akhirnya yang menentukan adalah siapa yang mendapat dukungan dari menteri. Sejauh ini, belum ada kandidat yang mampu meraih lebih dari 50% suara senat. Kalaupun ada kandidat yang mampu meraih suara adalah sebanyak 50%. Namun itu hanya dari suara akhir,” ujarnya. Ketua Pilrek 2015 ini mengatakan dengan hanya 32,5% suara saja tidak bisa mengalahkan orang yang mendapatkan suara dari menteri.

Proses pemilihan rektor yang dilakukan pada 2011 lalu diakui Ardinis Arbain tidak memiliki perbedaan dengan pelaksanaan pada tahun ini. “Bedanya hanya terletak pada jumlah senat akademik, jika tahun ini kami hanya berjumlah 76 orang, maka pada tahun 2011 lalu lebih dari 100 anggota senat,” jelas Ketua Sena tAkademik Unand ini. Secara sistem tidak ada perbedaan dengan pemilihan rektor sebelumnya, sistem yang berlaku tetap sama yaitu adanya suara menteri, tahap penjaringan, penyaringan, dan pemilihan.

Sejauh ini, tidak ada kendala yang terjadi pada Pilrek, baik Pilrek tahun 2011 maupun 2015. Hanya saja sempat terjadi kritik dan pembicaraan di kalangan senat. “Ketua senat mengatakan sudah mengontak beberapa senat dari universitas lain terkait suara menteri yang lebih dari 35%. Namun dalam hal ini senat tidak memiliki akses yang signifikan untuk memprotes hal tersebut,” jelas Firman. Lebih lanjut ia mengatakan kurang bijak apabila Unand terlalu frontal dalam membicarakan suara menteri. Menurutnya, sebaiknya Unand mengajak universitas lain untuk membicarakan hal tersebut.

Tahap Akhir, Tafdil Ungguli Werry

Dalam pemilihan Rektor Unand lalu, Tafdil bukanlah kandidat kuat yang digadang-gadang-kan akan mampu merebut kursi nomor satu Unand. Berdasarkan dua tahapan pemilihan yang telah dilalui pada tingkat dosen dan senat, nama Werry menjadi kandidat kuat untuk menjadi Rektor Unand periode 2015-2019. Namun, peta persaingan pemilihan rektor berubah setelah sampai ke tahap ketiga yang melibatkan suara menteri. Werry yang sebelumnya unggul jauh dari kedua lawannya yakni Masrul dan Tafdil, mulai goyah hingga turun ke posisi kedua. Posisi pertama ditempati oleh Tafdil dan Masrul berada pada posisi ketiga.

Tafdil berhasil menduduki kursi nomor satu Unand dengan memperoleh 51 suara. Disusul Werry dengan 40 suara, dan Masrul memperoleh 21 suara. Pencapaian terbesar dalam karier Tafdil ini membuat dirinya tak henti mengucapkan rasa syukur. “Saat ini saya tidak merasa menang, ini adalah amanah yang diberikan kepada saya. Dahulu amanah tersebut diberikan kepada Pak Werry, sekarang saya yang menerima amanah tersebut,” jelasnya.

Terkait Pilrek Unand yang dimenangkan oleh Tafdil, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padang, Eka Putra Wirman memberikan pandangan terkait pemilihan rektor yang baru saja usai.Menurutnya, Werry harus bersikap legowo dengan apapun hasil yang diterima, karena pemilihan yang telah dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. “Ada tiga proses dan tentu pak Werry juga harus menerima apapun hasilnya. Menurut pandangan saya Pak Werry juga legowo dengan hasil Pilrek tersebut. Saya juga yakin Pak Werry menerima hasilnya karena setuju dengan sistem seperti itu dari awal,” jelas Eka ketika ditemui di ruang kerjanya.

Berkaca pada pemilihan rektor tahun 2011 lalu, saat itu kondisi dan hasil akhir Pilrek memiliki kemiripan dengan tahun ini. Persamaannya, pemenang pada pemilihan rektor tersebut berasal dari calon rektor yang sebelumnya memeroleh suara kedua pada tingkat dosen dan senat. Tahun 2011, setelah memperoleh suara tertinggi di tingkat dosen dan senat, Alm. Edison Munaf dikalahkan Werry yang saat itu berada diposisi kedua ketika memasuki pemilihan di tingkat menteri. Menariknya, kejadian itu kembali terulang pada pemilihan rektor Unand2015. Saat proses pemilihan di tingkat dosen dan senat, nama Werry begitu menjulang tinggi di atas mengalahkan dua lawannya. Ketika sampai di tingkat menteri, Tafdil naik ke posisi teratas dengan perolehan suara terbanyak.

Kata MerekaTentangWerry

Selama kurang lebihempat tahun memimpin Unand, Werry sudah banyak melakukan perubahan untuk Unand. Baik dari segi infrastuktur, akademik, dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat Eka mengakui Werry merupakan sosok rektor yang berhasi lmemimpin Unand selama empat tahun.“Pak Werry merupakan seorang sosok yang bagus menurut saya. Banyak karya-karya dan terobosan baru yang diciptakannya. Tentunya, Pak Werry merupakan rektor yang berhasil menurut saya,” kata Rektor IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Lebih lanjut, Eka juga menilai Werry merupakan sosok rektor yang diterima di kalangan sivitas dan bagus dalam pembangunan. “Kinerjanya bagus, saya rasa siapapun yang melihat akan memberikan penilaian yang bagus. Contohnya ketika gempa 2009 yang mengguncang Padang, saat itu Pak Werry menjadi recovery-nya,” ungkapnya kagum. Eka juga mengaku respect dengan kinerja Werry. Menurutnya, Werry pantas memenangkan dua putaran awal karena ia diterima di kalangan sivitas akademika.

Hal yang sama juga diungkapkan Moris Weri, Komandan Satuan Pengamanan (Satpam) Unit Satu Rektorat Unand ini bangga dengan prestasi yang didapatkan Unand selama dipimpinWerry. “Menurut saya, Unand bagus saat berada di bawah kepemimpinan Pak Werry. Unand dulunya memiliki akreditasi B kini telah menjadi A, termasuk juga penataan kampus hijau saat ini,” sebutMoris.

Seiring akan berakhirnya masa jabatan Werry sebagai Rektor Unand November mendatang, Tafdil juga memuji kinerja yang telah dilakukan Werry selama menjabat sebagai Rektor Unand. Banyak prestasi-prestasi yang telah diraih Unand sejak dipimpin Werry. Salah satunya, Unand telah mendapat Akreditasi A. “Pak Werry banyak memberikan perubahan terhadap Unand. Akreditasi A, peningkatan pembangunan dan UI Green Metric merupakan sedikit dari banyak prestasi yang diraih Unand bersama pak Werry,” katanya dengan bangga.

Nabhan Aiqoni juga turut memuji kinerja yang telah dilakukan Werry selama menjabat menjadi Rektor Unand periode 2011-2015. “Selama Pak Werry menjabat, sudah banyak pencapaian luar biasa yang telah dilakukan. Mulai dari peningkatan pembangunan fisik, salah satunya pembangunan rumah sakit, gedung-gedung kuliah baru,” ujar aktivis yang berasal dari UKM Pengamat Hukum dan Politik (PHP) ini. Lebih Lanjut Aiqon menambahkan di balik itu semua kita tidak mengetahui apakah yang sebenarnya terjadi. Sebab terkait transparansi anggaran dana Unand kurang dipublikasikan. Hal tersebut menjadi nilai minus dan menimbulkan sebuah pertanyaan, alokasi data pembangunan, dana Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan sebagainya.

Target yang BelumTercapai

Dari berbagai prestasi yang telah berhasil diukir Werry, ada beberapa harapan yang belum terealisasi selama ia memimpin..Dari sekian target yang diserukan saat menjadi rektor untukp ertamakalinya, ada beberapa yang belum terwujud. Diantaranya adalah mengupayakan akreditasi internasional dan memperbaiki laboratorium.

Untuk mencapai impian tersebut, Unand bekerjasama dengan Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) yang bergerak membantu Indonesia mengatasi kesenjangan dalam pembangunan nasional, serta mendukung upaya-upaya Indonesia untuk mengatasi isu-isu global. Dalam hal ini USAID membantu untuk mendatangkan para ahli, diantaranya dosen Bahasa Inggris, hingga ahli untuk mengembangkan penelitian Unand. “Saya merasa miris jika apa yang diupayakan ini tidak berhasil. Untuk mempersiapkan ini saja sudah menghabiskan dana hampir satu milyar rupiah,” tuturWerry. Setelah mengevaluasi Unand, pihak USAID mengakui bahwa Unand memiliki potensi untuk memenuhi standar internasional.

Terkait dengan usaha Werry untuk menjadikan Unand sebagai universitas berstandar internasional, hal ini berkaitan erat dengan kiat untuk mengubah status Unand menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PT-BH). Werry mengakui akreditasi internasional merupakan salah satu syarat yang masih belum terpenuhi untuk menjadikan Unand PT-BH. “Kita belum mendapatkan akreditasi internasional dan mahasiswa Unand belum ada yang memiliki prestasi internasional,” imbuhnya. Werry menambahkan untuk mencapai hal tersebut cukup berat, karena Unand juga harus mengusahakan akreditasi A untuk 80% program studi yang ada. Sedangkan saat ini jurusan di Unand masih banyak yang tergolong baru dan masih berakreditasi C.

Menurut Werry, hal lain yang masih tertinggal pada masa jabatannya adalah ketersediaan fasilitas laboratorium. Pasalnya, Unand tidak bisa membeli peralatan labor jika bangunannya tidak diperbaiki. “Laboratorium Unand sudah hampir roboh, oleh sebab itu harus diperbaiki. Makanya saya memprioritaskan memperbaiki bangunan, bukan menambah alat labor, karena kita punya pilihan,” jelasnya.

Harapan Terhadap Rektor Baru

Terpilihnya rektor baru, maka semua akan berkiblat kepada rektor yang baru agar apa yang selama ini di perjuangkan bisa tercapai. Terkait hal ini, Eka berharap kepada rektor baru untuk Unand kedepan agar melanjutkan apa yang sudah dirintis rektor yang lama.“Semoga rektor baru bisa menjadikan Unand menjadi sepuluh besar universitas terkemuka di Indonesia,” harapnya.

Musliar Kasim juga berharap agar rektor terpilih nantinya dapat melanjutkan perjuangan rektor sebelumnya. “Yang baik dipertahankan, kalau yang belum diperbaiki,” ujar dosen Fakultas Pertanian tersebut. Ia juga berpesan program Pengembangan Kewirausahaan dan Karakter (Enterpreneurship and Character Building) yang dimulai di era kepemimpinannya, tahun 2007, dapat terus dilanjutkan di bawah pimpinan Tafdil.

Terkait harapannya terhadap rektor yang baru, Werry berharap Tafdil dapat mewujudkan mahasiswa intelektual sebagai pencerminan mahasiswa di kampus Internasional. “Saya berprinsip kampus ini harus bersih dan tertata. Maka dari itu saya berusaha untuk menghilangkan ‘rimba’ di Unand. Saya juga menegaskan agar mahasiswa harus mencerminkan sikap intelektual,” tegasnya. Lebih lanjut Werry berharap rektor baru agar melanjutkan program asrama. Hal ini dilakukan karena besarnya manfaat bagi mahasiswa baru.

Pencapaian yang telah dilakukan Werry pantas diacungi jempol. Rektor terpilih nantinya dapat melanjutkan perjuangan rektor sebelumnya dan dapat mewujudkan mahasiswa intelektual sebagai pencerminan mahasiswa di kampus Internasional. Keinginan dan harapan rektor lama untuk mengubah status Unand menjadi PT-BH seyogyanya merupakan keinginan bersama. Dengan ini seluruh masyarakat kampus dapat berpartisipasi aktif dalam memberikan hak suara yang dapat menentukan nasib Unand ke depannya.

Tim: Arif, Fika, Gita, Giva, Hisna, Putri, Yori

 

Tafdil Menang, Werry Legowo Reviewed by on . Masa tugas Werry Darta Taifur dalam memimpin Universitas Andalas (Unand) tinggal menghitung hari. Werry akan melepaskan jabatannya November mendatang. Rektor ba Masa tugas Werry Darta Taifur dalam memimpin Universitas Andalas (Unand) tinggal menghitung hari. Werry akan melepaskan jabatannya November mendatang. Rektor ba Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-2Nt

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Komentar

scroll to top