Senin, 25 September 2017

Home » Aspirasi » Ruang Sunyi Hari Buku Nasional

Ruang Sunyi Hari Buku Nasional

Oleh: Ulfa Sevia Azni*

17 Mei 2017 - 7:40 WIB Kategori: Aspirasi 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 174 Kali

Dok. Pribadi

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas” (Moh.Hatta)

Dari kutipan salah seorang tokoh proklamator di atas, kita tidak perlu lagi menjelaskan tentang seberapa penting buku pada kehidupan kita. Tahukah Anda, sekitar 15 tahun yang lalu, Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar mencetuskan hari ini sebagai Hari Buku Nasional. Memang masih banyak yang tidak menyadari bahwa hari ini adalah Hari Buku Nasional. Betapa tidak? Hari ini tidak se-eksis hari kasih sayang yang dirayakan seluruh dunia dengan cinta. Lalu bagaimana dengan hari ini? Apakah kita tidak riang gembira menyambutnya? Mari sejenak berefleksi mengenai Hari Buku Nasional, kawan.

Berdasarkan studi “The Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca buku. Kejadian yang sungguh ironis sekali bukan?

Benar sekali, pada dasarnya buku telah dikalahkan oleh penemuan digital. Contohnya saja kalangan remaja dan  masyarakat kekinian saat ini lebih asyik berselancar di dunia maya dalam mencari pengetahuan daripada melalui sebuah buku. Ditambah lagi maraknya buku dalam format e-book menjadikan seseorang malas untuk membuka dan membaca buku. Alhasil, tentu kita bisa lihat tingkat minat membaca buku disetiap tahunnya, bahkan perpustakaan serta toko buku yang lengang di setiap harinya. Pengunjungnya pun kian surut serta euforia gadget yang semakin menjadi-jadi dan mengiris hati.

Apa yang salah dalam membaca? Dari membaca kita dapat menembus ruang imajinasi kita sendiri. Buku juga sering dianggap sebagai sesuatu yang kurang bermakna. Orang-orang bahkan lebih suka ke Mall daripada ke toko buku. Jarang juga terlihat orang memberikan hadiah ulang tahun dalam bentuk buku, apalagi dalam kegiatan acara pernikahan misalnya, hal itu dianggap lelucon atas makna undangan yang diberikan.

Pada kalangan pelajar dan mahasiswa lebih sangat memprihatinkan lagi, budaya membaca buku berubah menjadi budaya yang menunduki gadget dengan menelisik informasi yang dibutuhkan. Keberadaan internet malah membuat setiap hal terasa lebih praktis. Orang lebih suka memilih dan mencari referensi melalui internet, hal itulah yang mebuat mereka semakin bergantung pada internet dan meninggalkan buku sebagai acuan mendapatkan informasi dan ilmu. Mirisnya, salah satu hal yang akan mendorong mahasiwa membaca buku biasanya karena tuntutan tugas kuliah atau memang karena dosen yang memaksa. Tak jarang juga kita melihat pada saat ulangan atau ujian mahasiswa dan tersebut tidak belajar dan membaca buku karena bisa mencontek dan menganggap semua jawabannya tinggal hanya dengan membuka gadget dan akses internet. Tak salah juga jika budaya masa kini terkenal dengan budaya caplok mencaplok.

Meminjam konsep ahli sosiologi George Simmel mengenai ‘Tragedi Kebudayaan”, sepertinya layak kita tujukan pada kita yang kurang minat terhadap membaca buku. Tragedi kebudayan yang dimaksud adalah ketika kita beramai-ramai memasuki jurang ciptaan kita sendiri yakni gadget tersebut, yang mungkin pada mulanya kita ciptakan sebagai sebuah perlindungan, tetapi pada akhirnya ia adalah kurungan raksasa yang merantai jiwa kita. Kita terjebak pada ‘hasrat kuasa’. Kita tidak lagi minat dalam membaca buku, melainkan kita hanya ingin tinggal praktis saja tanpa harus kerepotan membolak-balik sebuah buku.

Begitulah kondisi buku dalam kehidupan kita sekarang, kawan. Buku telah menjadi ruang sunyi dalam realita kehidupan sosial kita saat ini. Buku dianggap tradisional dan tidak mampu memberikan ruang kebebasan. Oleh karena itu, di Hari Buku Nasional ini, mari kita mencoba  menjadikan buku sebagai sahabat hidup. Tidak berlebihan rasanya jika kita membeli satu buku dalam kurun waktu satu bulan. Jadikanlah membaca buku sebagian dari budaya, karena dengan sebuah buku, di dalamnya terdapat sebuah investasi yang tiada habis dan tak ternilai harganya.

Selamat Hari Buku Nasional, kawan.

Jangan lupa baca buku hari ini.

*Penulis merupakan mahasiswi Jurusan Sosiologi,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas, Angkatan 2015

Editor: SAI

Ruang Sunyi Hari Buku Nasional Reviewed by on . [caption id="attachment_14771" align="aligncenter" width="600"] Dok. Pribadi[/caption] “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas” ( [caption id="attachment_14771" align="aligncenter" width="600"] Dok. Pribadi[/caption] “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas” ( Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-3Qe

Tinggalkan Komentar

scroll to top