Senin, 21 Agustus 2017

Home » Sastra dan Budaya » Monyet Besar

Monyet Besar

Oleh: Muhaimin Nurrizqy*

10 Juni 2017 - 1:37 WIB Kategori: Sastra dan Budaya, Sastra dan Seni 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 65 Kali

Hari-hari menjadi penuh was-was semenjak Pak Tongkong menceritakan tentang seekor monyet besar yang bakal datang untuk mengambil salah satu perempuan di desa itu. Semua warga tentu gemetar, pasalnya Pak Tongkong itu berbicara dengan gemetar pula.

Bagaimana Pak Tongkong itu bisa tahu? Itu adalah pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh warga. Namun, ketika Pak Tongkong itu ingin menjawab, tenggorokkannya tercekik. Hal itu terjadi karena Pak Tongkong baru saja berlari dari luar desa sambil berteriak perihal monyet besar itu. Ketika sampai di inti desa, (sebuah lepau yang lumayan besar) ia gemetar. Lalu orang-orang langsung mengerubunginya. Kemudian diceritakanlah semuanya. Ada seekor monyet besar yang bakal datang ke desa dan akan mengambil salah satu gadis untuk dibawa ke hutan.

Namun, orang-orang tidak sadar Pak Tongkong begitu haus. Akibat haus itulah ia tercekik. Jalur pernapasan Pak Tongkong kering dan mengecil. Tapi warga yang melihat Pak Tongkong tercekik, menganggap bahwa itu adalah dampak dari berita besar yang dibawanya. Karena oksigen yang mengalir tersumbat di kerongkongannya, sehingga membuat otaknya kehilangan kekuatan dan lumpuh. Pak Tongkong langsung terkapar ditempat. Setelah diraba-raba nadinya oleh salah satu warga yang memegang bakul, dapatlah disimpulkan bahwa Pak Tongkong mati ditempat. Pak Tongkong itu mati karena tercekik.

“Ini pertanda buruk!” ucap salah satu warga yang sedang memegang cangkul.

“Benar. Ini pertanda buruk sekali!” sahut seorang pemuda yang sedang memegang sabit.

“Tidak salah lagi. Ini adalah wasiat Tuhan yang dititipkan kepada Pak Tongkong!” ucap seorang garin mesjid yang sedang mengunyah mentimun.

Sontak, desa itu menjadi geger. Geger  atas pertanda buruk datangnya seekor monyet besar yang akan mengambil gadis dan membawanya ke hutan.

Pak Tongkong yang mati tadi dikuburkan dengan berbagai proses. Pertama, jasad dimandikan dengan air tujuh muara. Kedua, jasad dikafankan dengan kain yang dibeli di tujuh pasar. Ketiga, jasad dimakamkan dengan berdoa bersama sambil membakar kemenyan. Bantal-bantalan mayat untuk di liang kubur, di buat dari tujuh tanah. Para dukun dan kiyai bersama-sama berdoa dengan cara masing-masing pula. Mereka berdoa agar kabar buruk itu tidak terjadi. Mereka berdoa agar monyet besar itu tidak datang ke desa mereka.

Semenjak itu, warga selalu was-was setiap menitnya. Sebab, tidak ada yang tahu kapan atau di mana monyet besar itu akan menampakkan dirinya.

***

Desa itu bernama Desa Gadang. Letak Desa Gadang itu di kaki Bukit Ota. Maka orang-orang sering menyebutnya Desa Gadang Ota, karena letaknya tepat di bawah Bukit Ota.

“Pak, bagaimana jika Juliati yang nanti akan dibawa oleh monyet besar itu?” tanya Susi kepada suaminya, Berdi.

“Tidak akan aku biarkan monyet besar itu mengganggu anak perempuanku. Jangankan dibawanya, dilihatnya saja bakal aku bunuh itu monyet besar!” jawab suaminya sambil mengasah golok yang baru saja dibelinya di pasar.

“Tenang saja kau Susi. Untuk sekarang ini, jangan kau dan Juliati keluar dulu. Biar aku yang keluar untuk berjaga-jaga. Tetap saja kalian di rumah. Kunci pintu jika aku keluar,” sambung Berdi memastikan kejantanan dan tanggungjawabnya sebagai seorang suami.

Susi bergembira melihat suaminya begitu. Matanya bersinar melihat wajah suaminya yang begitu rupawan kala itu. Ia tidak menyesal menikahi lelaki seperti Berdi. Walau ia dan Berdi dijodohkan dahulu.

Susi bukanlah satu-satunya orang yang merasa takut jika anak perempuannya akan dibawa oleh monyet besar itu. Semua warga di desa itu merasa takut kalau-kalau anak perempuan mereka akan dibawa oleh monyet besar itu. Mereka semua mengurung anak perempuan mereka di rumah. Tidak ada anak gadis yang keluar dari rumah.

Tapi hal itu tentu membuat Juliati sedih. Pasalnya, ia tidak bisa lagi bertemu dengan Yusuf, lelaki yang ia cintai. Yusuf pun begitu. Padahal banyak hal yang ingin Yusuf lakukan bersama Juliati. Ia ingin mengajak Juliati duduk berdua di tepi sungai yang letaknya di  belakang desa, melihat pemandangan atas Bukit Ota, namun mereka tidak bisa melangsungkannya.

***

Pasar kini mulai ramai oleh warga. Memang biasanya pasar selalu ramai oleh orang-orang. Namun, kali ini pasar diramaikan bukan karena membeli bahan makanan, melainkan membeli senjata dan jimat tolak bala. Penjual senjata tajam serupa golok, sabit, pisau, pedang, sangat beruntung. Semua orang, atau lebih tepatnya kaum laki-laki, banyak yang membeli senjata tajam. Mereka mempersenjatai diri mereka, agar jika monyet besar itu datang, mereka bisa langsung membunuhnya. Tidak hanya itu, orang-orang juga membeli mantra penolak bala di pasar. Mulai mantra yang dibuat pertapa di Gunung Kelambir. Lalu mantra dari kiyai yang bisa terbang ke Mekkah dengan hanya sekejap mata. Juga mantra yang dibuat oleh dukun hitam penunggu Gua Ula. Mantra-mantra itu laku keras. Malahan, penjual mantra terpaksa membuat mantra palsu, karena permintaan konsumen melampaui batas dari bahan jualan.

Mantra-mantra itu kemudian yang akan ditempel di depan pintu rumah, di pagar, di golok, di jendela, di pintu kamar, di langit-langit rumah. Semua rumah penuh dengan mantra. Bahkan ada yang menempelkan mantra di tubuhnya sendiri.

Melihat hal itu kepala desa, Halim mengumpulkan seluruh pemuda desa dan tua-tua desa. Ia ingin berunding untuk membuat suatu pertahanan di desa itu, agar jika monyet besar itu menampakkan dirinya, warga desa mampu menyerangnya.

Pada hari yang tepat, perundingan dilangsungkan di tanah lapang. Semua laki-laki di desa itu berkumpul.

“Baiklah, saya mengumpulkan saudara-saudara di sini untuk merundingkan suatu masalah yang ada di desa kita. Desa kita sekarang sedang dilanda ketakutan akan monyet besar yang datang untuk mengambil salah seorang gadis dan membawanya. Bagaimana jika kita membuat suatu pertahan di desa ini, agar kita siap jika monyet besar itu datang kemari?”

“Setuju!” teriak warga.

“Baiklah, kita akan membagi ronda malam dan siang. Semua laki-laki harus ikut dalam ronda ini.”

“Setuju!” teriak warga.

Maka dibuatlah daftar ronda siang dan malam. Semua laki-laki di desa itu berkeliling untuk menjaga desa dari ancaman monyet besar. Mereka juga membawa anjing-anjing peliharaan. Kerena anjing begitu kuat instingnya.

Namun, Yusuf tidak bisa menerima hal itu. Ia begitu kangen dengan Julianti. Ia ingin sekali bertemu Julianti. Hatinya membeku tidak bertemu Julianti. Ah!

Yusuf yang mendapatkan ronda malam, diam-diam berjalan mendekati rumah Julianti. Setiba di sana, ia mengetuk jendela kamar Julianti. Tok! Tok!

Tidak ada respon dari dalam.

Ia ketuk lagi. Tok! Tok! Tok!

Tetap tidak ada respon.

Ia ketuk sedikit agak keras. Tok! Tok! Tok! Tok!

“Siapa itu?” teriak suara dari dalam. Sepertinya bukan suara Julianti. Suara itu seperti suara laki-laki. Ternyata Yusuf salah mengetuk jendela.

“Monyet besar, ya?!” teriak suara di dalam.

Suara itu ternyata suara Berdi yang sedang bercinta dengan Susi. Berdi langsung memasang bajunya dengan terburu-buru, sehingga ia salah memakaikan celana dalam, celana dalam Susi. Ia kemudian mengambil golok yang sudah dilapisi jimat tolak bala. Lalu Berdi berteriak, “Monyet besar! Monyet besar!”

Orang-orang yang sedang beronda terkejut. Anjing-anjing yang mereka bawa menyalak. Mereka langsung mempersiapkan diri. Mereka pun berlari ke arah rumah Berdi sambil berteriak, “Monyet! Monyet besar!”

Semua orang terbangun. Semua orang ketakutan.

Yusuf yang gemetar tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Jika ia mengaku, sama saja. Ia akan dikejar juga lantaran datang menemui gadis malam-malam. Wah, ini gila, pikir Yusuf.

Tanpa pikir panjang, Yusuf berlari menjauh dari rumah Julianti. Ia terus berlari menuju semak-semak. Terus berlari ke hutan. Terus berlari keluar dari desa.

“Monyet besar itu berlari ke hutan!” teriak Badri yang baru saja membuka pintu depan.

Orang-orang berlari mengejar di belakang. Mereka semua tidak tahu apa sebenarnya yang mereka kejar. Dalam pikiran mereka hanya monyet besar dan monyet besar.

Semua warga bangun. Semua warga gemetar. Semua warga penasaran dengan monyet besar.

Yusuf, yang begitu ketakutan berlari masuk ke dalam hutan. Rasa takutnya terhadap hutan malam, ditelan oleh rasa cemasnya akan tertangkap warga yang mengejar di belakang. Sejadi-jadinya Yusuf berlari di antara semak dan reranting pohon. Matanya seakan bersinar, menerangi setiap langkahnya di kegelapan.

Sendal yang dipakai Yusuf putus. Yusuf berlari dengan kaki telanjang, sehingga terasa pedih dan perih di telapak kakinya. Namun Yusuf mengabaikan rasa sakit itu. ia terus saja berlari. Terus berlari, hingga pada suatu ketika Yusuf sampai di sebuah jalan besar.

Yusuf berhenti sejenak, ia menekuknya badannya. Napasnya terpacu, keringat Yusuf menetes deras ke jalan. Yusuf lalu menegakkan badannya, matanya liar memandang sekitar. Lalu mata Yusuf terpaut terhadap sesuatu hal. Sebuah kain besar yang terpampang di tepi jalan yang lain. Yusuf mendekat untuk melihat lebih jelas.

Tubuh Yusuf semakin gemetar, lututnya terasa lemas sekali, keringat dinginnya mengalir lebih deras dari sebelumnya. Pada sebuah kain yang terpampang di pinggir jalan itu, Yusuf melihat gambar, seekor mirip monyet dengan tubuh yang sangat besar sedang memegang seorang gadis memakai kemben yang terlihat meronta. Pada kain itu bertuliskan: Pemutaran Gambar Hidup, King Kong, pada Kamis malam. Yusuf semakin pucat, ia teringat seseorang, Julianti!

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Monyet Besar Reviewed by on . Hari-hari menjadi penuh was-was semenjak Pak Tongkong menceritakan tentang seekor monyet besar yang bakal datang untuk mengambil salah satu perempuan di desa it Hari-hari menjadi penuh was-was semenjak Pak Tongkong menceritakan tentang seekor monyet besar yang bakal datang untuk mengambil salah satu perempuan di desa it Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-3Tg

Tinggalkan Komentar

scroll to top