Beranda Berita Laporan Menilik Kondisi Kampus II dan III Unand

Menilik Kondisi Kampus II dan III Unand

Mahasiswa kampus III melaksanakan proses perkuliahan di ruangan Aula.

gentaandalas.com- Yasir Irwanda adalah seorang mahasiswa asal Sumatera Utara yang tengah berkuliah di kampus III Unand Dharmasraya Program Studi (Prodi) Agroekoteknologi 2013. Sudah kurang lebih empat tahun menuntut ilmu di sini, seringkali ia mendapati dosen yang tidak masuk sesuai jadwal yang telah ditentukan. Akibatnya perkuliahan terpaksa ditunda dan diganti pada lain waktu. Yasir mengungkapkan sebuah kekesalan terhadap seringnya pergantian jadwal mendadak tersebut, sebab hal tersebut membuat aktivitas yang sudah direncanakan jauh-jauh hari menjadi batal karena adanya pergantian jadwal kuliah yang mendadak. Hal ini tak hanya dirasakan oleh Yasir seorang namun juga dirasakan oleh teman-temannya.

Tak hanya itu Yasir juga mengeluhkan sistem praktikum yang ada, dimana alat-alat praktikum yang digunakan tidak lengkap dan beberapa alat-alat yang digunakan ada yang rusak. Lain halnya dengan Iskandar Zulkarnain, mahasiswa kampus II Unand Payakumbuh Jurusan Peternakan 2014. Iskandar mengeluhkan perkuliahan yang seharusnya membutuhkan praktikum tapi hanya dipahami melalui pemaparan dari dosen saat perkuliahan dan slide yang diberikan. Hal ini disebabkan karena kandang ternak sebagai fasilitas praktikum yang sangat minim.

Itulah sedikit potret yang dialami mahasiswa kampus II dan III Unand. Kampus II dan III adalah kampus di luar domisili yang dimiliki Unand. Kampus II Unand terletak di Kota Payakumbuh dan kampus III terletak di Kabupaten Dharmasraya. Kampus II dan III Unand ini, pada awalnya dibuka karena permintaan dari pemerintah setempat.

Salah seorang dosen Fakultas Peternakan Erpomen mengatakan bahwa kampus II Unand dibuka berdasarkan kesepakatan antara pemerintah Kota Payakumbuh dengan pihak Unand. Dalam kesepakatan tersebut, pemerintah akan membantu dalam segi pembangunan sedangkan Unand dalam segi operasional. Untuk kampus III Unand, Sekretaris Jurusan Budidaya Perkebunan Dewi Rezky juga mengungkapkan hal yang sama. “Pemda butuh kampus untuk melanjutkan pendidikan anak-anak mereka yang ada di sini dan Unand juga tengah ingin mengembangkan pembinaan ke daerah-daerah, makanya dibuka kampus III Unand Dharmasraya ini,” tuturnya. Dewi juga mengatakan Dharmasraya merupakan wilayah perkebunan yang strategis, maka Unand bersedia membuka kampus di Dharmasraya dengan jurusan yang juga sesuai dengan kondisi daerah, yaitu Budidaya Perkebunan.

Alasan pendirian kampus II dan III Unand karena permintaan Pemko dan Pemda juga diakui mantan Rektor Unand, Werry Darta Taifur. Akan tetapi ada syarat yang harus dipenuhi. “Kemudian, setelah itu baru izin pendirian bangunan ke luar,” ujarnya. Senada dengan itu, Rektor Unand Tafdil Husni juga mengatakan kampus yang ada di Payakumbuh dan Dharmasraya itu memang permintaan dari pemerintah daerah. “Pihak kampus hanya menyediakan tenaga pengajar. Adapun untuk melakukan pembinaan langsung fakultas yang berada di sana,” ujarnya. Tafdil juga mempertegas bahwa lahan kampus III Dharmasraya merupakan milik Pemda. “Lahan itu milik orang lain. Pihak Unand tidak bisa membangun di lahan tersebut. Namun untuk kampus II itu baru milik kita,” ungkap Tafdil.

Berbeda dengan alasan tersebut, Wakil Rektor IV Unand Endry Martius justru  mempertegas bahwa pembangunan kampus luar domisili di Dharmasraya adalah sebuah kecelakaan. “Orang di PTN ini tidak disiapkan untuk menjadi pejabat yang mengerti tentang keuangan. Dahulu nampaknya ada permintaan kerjasama lalu disetujui. Bagi pemda baik, bagi masyarakat baik, kita berusaha sebaik-baiknya. Pada saat itu mudah dan Pemda memang berjanji. Dibalik hal tersebut tersimpan unsur politik. Bupati bertukar tentu berbeda pula karena  kepentingannya banyak,” katanya.

Lebih lanjut Endry menjelaskan kecelakaan yang dimaksud ialah sama dengan kodrati. “Gagasan atau ide itu terjadi saat paripurna tidak pernah lengkap. Pada saat itu, momentumnya, konteksnya, settingnya tidak sama dengan saat ini. Persoalan prosedur keuangan lebih mudah tidak seperti sekarang,” ujarnya. Ia menambahkan, saat ini kampus dapat berjalan karena dengan akal. “Sambil berjalan kami berfikir,”  tegasnya.

Kondisi Kampus II dan Kampus III Unand

Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kampus II dan  III Unand, kru Genta Andalas mencoba mengunjungi kedua kampus tersebut. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam dari Padang, kru Genta Andalas akhirnya sampai di kampus II Unand, Jumat (12/5/2017).

Dalam kunjungan tersebut, kru Genta Andalas disambut oleh ketua BEM dan jajarannya serta diajak untuk berkeliling kampus. Saat mengelilingi kampus kru Genta Andalas mendapati sebagian bangunan yang masih terbengkalai pembangunannya. Di lantai dasar terdapat empat buah ruangan kuliah, koperasi, toilet dan ICT. Di lantai kedua terdapat empat ruangan yang digunakan sebagai ruang kuliah. Namun, disalah satu ruangan terdapat sisa-sisa kebakaran yang tidak diketahui pasti penyebabnya. Lanjut ke lantai tiga, terdapat dua ruangan yang juga digunakan sebagai ruang kuliah dan beberapa ruangan yang masih terbengkalai pembangunannya.

Setelah menelusuri gedung kuliah, kru Genta Andalas melihat ada beberapa tempat yang sedang dibangun yaitu Bussines Center (BC) dan perpustakan. Di Kampus II Unand juga terdapat satu musala. Untuk praktikum, Fakultas Peternakan (Faterna) hanya memiliki satu laboratorium. Minimnya alat-alat pratikum membuat mahasiswa sulit melakukan pratikum. Tidak hanya itu, untuk pratikum farm, Faterna kampus II Unand tidak seberuntung kampus yang di Padang karena mereka tidak memiliki kandang dan hewan ternak besar seperti yang ada di Padang. Meskipun sebenarnya ada kandang, namun hewan yang ada hanyalah kelinci dan ayam saja.

Lebih lanjut, kru Genta Andalas menuju gerbang utama Kampus II Unand. Sampainya di sana kru Genta Andalas menemukan ‘sesuatu’ yang tidak seharusnya terjadi di lingkungan kampus. Tempat Satpam sudah berubah menjadi tempat para pemuda, dinding-dinding yang dulunya putih bersih berubah menjadi catatan-catatan kecil tangan jahil, dan masih banyak yang lain. Kemudian, jalan dari gerbang hingga ke arena kampus yang terbagi menjadi dua jalur, hanya satu jalur yang sudah rampung. Sedangkan yang satu jalur lagi masih dihiasi semak-semak belukar.

Selain itu, kru Genta Andalas juga melihat miniatur masterplan pembangunan Kampus II Unand Payakumbuh. Dalam keterangan masterplan tersebut dapat diketahui bahwa nantinya kampus II Unand ini akan memiliki landmark, gedung perkantoran, gedung perkuliahan, gedung serba guna, komersial, guest house, asrama, kantin dan musala. Namun, pada kenyataannya, yang dapat ditemui di kampus ini hanya sebagian kecilnya.

Walaupun kondisi kampus belum sesuai dengan harapan mahasiswa kampus II, tapi mereka tetap bersemangat untuk datang ke kampus. Prestasi mahasiswa di sana tidak kalah dengan mahasiswa kampus Unand Padang. Buktinya banyak mahasiswa kampus II Unand yang melakukan Credit Earning dan menorehkan prestasi lainnya. Mahasiswa kampus II tidak menuntut banyak, hanya meminta pihak kampus menyelesaikan pembangunan kampus II Unand dan melengkapi fasilitas serta sarana dan prasana. Hal ini diungkapka Ketua BEM Faterna, Iskandar. “Sesekali, kunjungilah mahasiswa yang ada di Kampus II karena kami juga bagian dari Unand,” ujarnya.

Pembangunan gedung kampus II Payakumbuh yang terhenti karena masalah dana.

Sejalan dengan kunjungan ke kampus II Unand, Kamis (11/5/2017) lalu, kru Genta Andalas juga mengunjungi kampus III Unand Dharmasraya. Kampus yang terletak di pinggiran Jalan Lintas Sumatera ini terdiri dari dua bangunan yang letaknya terpisah. Terletak di atas tanah yang luasnya kurang lebih dua hektar dan juga merupakan bekas kantor DPRD, bangunan pertama ini terdiri dari tiga ruangan kuliah, sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa, musala, kantin, perpustakaan, ruangan dosen dan pegawai, serta aula. Namun, hanya satu ruang kuliah dan aula yang digunakan untuk perkuliahan.

Aula itu terletak paling depan saat kita masuk dari gerbang kampus, bangunannya terlihat sudah sedikit kusam. Beberapa sisi dinding bagian dalam menghitam setelah beberapa waktu lalu sempat mengalami kebakaran ringan. Atapnya pun telah dihiasi oleh jaring laba-laba dan debu, bahkan plafon yang menutupi atapnya sudah rusak dan terkelupas separuhnya. Jika plafon tersebut terjatuh, dapat mengenai mahasiswa yang sedang belajar.

Semenjak kebakaran kecil yang melanda aula beberapa waktu lalu, kata mahasiswa Prodi Agroekoteknologi angkatan 2016, Mala, memang belum ada bentuk renovasi yang dilakukan pihak kampus terhadap aula tersebut. Beberapa mahasiswa yang memakai gedungpun telah lama mengeluhkan minimnya perawatan yang diberikan. Mulai dari kenyamanan penggunaan aula serta minimnya fasilitas sarana dan prasarana. “Kondisinya memprihatinkan. AC saja cuma pajangan. Sudah tidak bisa menyala lagi. Fasilitas juga belum memadai. Saat sedang kuliah pun, dosen harus menggunakan microfon agar dapat terdengar suaranya oleh mahasiswa,” ungkapnya. Selain aula, kata Mala, ada satu ruangan kuliah yang dipakai untuk proses perkuliahan. Hanya saja ruangan tersebut ukurannya lebih kecil. “Untuk perkuliahan dengan jumlah mahasiswa antara 30 sampai 40, ruangan dengan ukuran seperti itu sungguh tidak efisien. Ruangan ini biasanya hanya digunakan oleh mahasiswa angkatan 2014 ke atas, karena jumlah mereka lebih sedikit. Sedangkan mahasiswa angkatan 2015 dan 2016 lebih sering menggunakan aula,” katanya.

Selanjutnya kru Genta Andalas beralih menelusuri bangunan kedua. Di sana terdapat laboratorium dan beberapa ruangan kuliah. Laboratorium tersebut merupakan laboratorium milik pemerintah daerah yang sudah diperuntukkan menjadi tempat mahasiswa melakukan kegiatan praktikum. Hanya saja banyak dari alat-alat praktikum yang tidak bisa digunakan. Hal ini diutarakan salah seorang mahasiswa angkatan 2015, Muhamaturrahim. “Kata dosen, laboratorium ini paling lengkap. Tapi kalau saya lihat kenyataannya, alat-alat praktikum banyak yang tidak berfungsi. Barang ada, tapi tidak bisa digunakan. Ya percuma saja,” ujarnya.

Fasilitas Belum Memadai

Dari megahnya masterplan kampus II Unand Payakumbuh, kurang lebih sepertiga bagian yang baru terbangun. Begitupun dengan fasilitas lainnya seperti laboratorium juga masih kurang. Laboratorium yang ada hanya satu laboratorium komputer milik Fakultas Ekonomi yang berada di jalan Benteng dan satu laboratorium dengan alat yang serba terbatas yaitu laboratorium Fakultas Peternakan. Hal ini menyebabkan pelaksanaan praktikum tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Pada rencana awalnya, menurut Wakil Rektor II Unand, Asdi Agustar, pemerintah Kota Payakumbuh memang berperan langsung dalam pembangunan fisik gedung perkuliahan. Hal ini dibuktikan dengan bantuan pemerintah kota dalam membangun gedung utama di Payakumbuh. Hanya saja, pemerintah tidak bisa membantu secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh penjelasan Pasal 27 ayat (7) huruf f PP Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah membuat pemerintah daerah tidak bisa lagi membantu secara maksimal.

Selain itu, Asdi Agustar mengatakan bahwa Unand yang memiliki anggaran terbatas dalam pembangunan fisik gedung juga membuat pembangunan terhenti. “Kampus pusat saja belum banyak yang terbangun. Seperti FTI, Fateta, Faterna, dan Kedoteran Gigi. Pembangunan fisik gedung tidak bisa menggunakan uang yang bersumber dari PNBP,” jelas Asdi. Hal tersebut membuat  pembangunan fisik kampus II Unand terhambat hingga kini. Menurut Asdi, diperlukan dana APBN dari pemerintah dalam membangun gedung fisik universitas.  ”Mekanisme yang ada pada pihak swasta membuat kita (pihak Unand-red) sulit untuk bekerja sama. Kemudian, di Sumbar  jarang memiliki CSR yang besar,” tambahnya.

Selain anggaran yang terbatas, pembangunan kampus II Unand juga terhenti ketika habisnya masa jabatan Werry Darta Taifur sebagai Rektor Unand. “Dengan bergantinya Rektor Unand, maka kejelasan pembangunan Kampus II juga berhenti,” ujar Erpomen.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kata Asdi, Unand melakukan rekonsilidasi ulang perjanjian dengan masing-masing pemerintah kota dan pemerintah daerah. Pada 28 Maret 2016, Unand dengan pemerintah kota Payakumbuh membuat sebuah nota kesepahaman. Beberapa poin nota kesepahaman antara  pihak Unand dan pemerintah Kota Payakumbuh tersebut diantaranya Unand besedia berkontribusi dalam kemajuan kota sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi (tupoksi). “Kemudian, sesuai dengan Tiga Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambahnya. Pada tahun 2017, Asdi menambahkan, pemerintah kota Payakumbuh memberikan hibah dana rehabilitasi gedung  sebesar 650 juta dan segera dibuka tender  rahabilitasi.

Sampai saat ini, perkembangan pembangunan fasilitas gedung kampus II Unand tidak lepas dari kontribusi pemerintah kota Payakumbuh. Saat dikonfirmasi via whatsapp (26/5/2017), Walikota Payakumbuh Riza Palepi menyatakan akan terus mendukung pembangunan gedung kampus II Unand sesuai dengan kemampuan APBD. “Tahun ini ada anggaran dana hibah untuk menyelesaikan lantai III,” ujarnya.

Pembangunan ruangan kelas kampus III yang direncanakan dua tingkat, namun masih belum rampung.

Sedangkan untuk kampus III Unand, jika dibangun atau diperbaiki mesti mendapat izin dan bantuan dari Pemda setempat. Hal ini diperjelas Rektor Unand Tafdil Husni. Ia mengatakan kampus III tidak bisa dibangun oleh pihak Unand. Sebab lahannya merupakan milik Pemda Dharmasraya. “Tanah itu milik orang lain. Jadi, pihak Unand tidak bisa membangun,” ujarnya.

Sama halnya dengan Tafdil, mantan Rektor Unand Werry Darta Taifur menuturkan jika kampus II dan III tetap dibangun akan menimbulkan masalah. “Jika ada dana dari Unand, kalau kita perbaiki kampus III Dharmasraya itu akan menjadi masalah. Sebab itu bukan tanah Unand. Berbeda dengan Kampus II Payakumbuh, kalau pakai dana dari Unand untuk memperbaiki atau membangun tidak masalah, karena itu tanah Unand,” tuturnya.

Melihat kondisi kampus saat ini, kata Endry Martius, memang banyak pihak yang terlibat untuk menyelamatkan mahasiswa kampus III Unand dari keadaan sekarang. “Bisa saja tahun selanjutnya tidak perlu menerima mahasiswa lagi. Selesaikan saja yang ada saat ini,” jelasnya. Dalam waktu dekat Endry menyebutkan akan datang ke Kampus III Dharmasraya untuk membicarakan tentang kampus III lebih lanjut. “Nanti kita surati, datang ke sana. Kemudian kita lemparkan permasalahannya. Nanti kita undang pimpinan yang lama dalam penyelesaian masalah tersebut. Setelah itu, baru akan ditindaklanjuti,” katanya.

Dewi Rezky mengatakan bahwa Pemda memang membantu dari sarana prasarana sedangkan pihak Unand membantu Sumber Daya Manusia seperti dosen. “Ada MoU terkait hal itu. Unand dihibahkan lahan seluas 100 hektar oleh Pemda. Pihak Pemda menanggung biaya operasional 1,8 M setiap tahun selama lima tahun, tetapi MoU tersebut ternyata menyalahi aturan karena dalam aturan tersebut Pemda tidak boleh memberikan bantuan selama lima tahun berturut-turut,” ujarnya. Ia mengatakan Pemda diperbolehkan memberi dana hibah maksimal hanya tiga tahun. “Makanya setelah tiga tahun biaya operasionalnya diputus,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Dewi, pembangunan akan tetap ditindaklanjuti seperti gedung A yang masih 1 lantai di tambah menjadi 2 lantai sesuai masterplan. Kemudian alat-alat  laboratorium yang rusak diperbaiki. “Lahan percobaan dicari tambahannya karena sudah tidak cukup. Semakin banyak mahaasiswa tentu semakin luas lahan yang akan digunakan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, kru Genta Andalas menemui Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan di rumah dinasnya, Kamis (25/5/2017). Ia mengatakan bahwa ia hanya melanjutkan apa yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah periode sebelumnya. “Adapun untuk kontribusi pemerintah seperti bangunan dan fasilitas kampus didukung oleh pemerintah dan masih terus berjalan seperti biasa sampai saat ini,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa bantuan tersebut tidak bisa dilakukan secara kontinu. “Kalau secara pemerintahan ada aturan yang mengatur untuk bantuan secara terus-menerus. Meskipun begitu, kampus III akan tetap bisa berkembang kalau perlu ditambah lagi fakultasnya,” ujarnya.

Sistem Pembelajaran

Terletak jauh dari kampus pusat, ternyata juga membuat perbedaan yang jelas bagi kampus II dan III Unand dari segi sistem pembelajaran. Di kampus II Unand jadwal perkuliahan yang ada seringkali tidak sesuai dengan di portal. Mahasiswa Jurusan Peternakan kampus II Unand Dhifa Rezzy Pratama mengatakan bahwa jadwal perkuliahan yang ada di portal hanyalah formalitas. “Jadwal kuliah itu seringkali tidak sesuai dengan yang sudah kita isi di portal. Terkadang ada juga perkuliahan yang dipadatkan dalam satu hari sebagai kuliah pengganti,” ujarnya.

Menurut salah seorang dosen Fakultas Peternakan kampus II  Erpomen, permasalahan jadwal perkuliahan di kampus II Payakumbuh ini didasari oleh beberapa sebab, seperti perjalanan dosen dari Padang-Payakumbuh yang menghabiskan waktu. “Terkadang dosen yang dari Padang pada pagi hari saat menuju ke sini terkena macet, sehingga perkuliahan terkadang terpaksa diganti di hari lainnya,” ujarnya.

Selain jadwal kuliah, Dhifa juga mengeluhkan mengenai pelaksanaan praktikum. “Terkadang tidak ada praktikum padahal dalam SKS matakuliah praktikum itu ada. Selain itu, alat praktikum juga terbatas sehingga membuat penelitian mahasiswapun terbatas,” ujarnya.

Menjawab hal tersebut, Wakil Dekan I Fakultas Peternakan Mirzah mengatakan untuk praktikum itu ditangani langsung oleh dosen yang mengajar. “Labor memamg sudah ada, tapi terkendala pada teknisi. Solusinya, pihak kampus akan mendatangkan teknisi dari kampus pusat,” ujarnya.

Tidak berbeda jauh dengan kampus II, di kampus III juga terjadi hal serupa. Jadwal kuliah yang tidak menentu membuat mahasiswa banyak yang mengeluh dengan sistem perkuliahan. Mahasiswa Prodi Agroekoteknologi kampus III Muhamaturrahim mengatakan bahwa ada beberapa kendala dalam proses belajar mengajar. “Jadwal praktikum dan kuliah itu tidak teratur, bahkan banyak yang bentrok,” ujarnya. Muhammaturrahim juga mengatakan bahwa jadwal kuliah setiap harinya tergantung dosen. “Kalau misalnya dosennya bisa hari ini, kita kuliah hari ini. Jika kita ada tugas hari itu, otomatis harus dikerjakan hari itu juga. Semua terasa terburu-buru,” ungkapnya.

Selaku pihak kampus, Dewi Rezky mengatakan hal tersebut selalu berusaha diperbaiki dari waktu ke waktu. “Setiap semester pasti selalu diperbaiki. Mengeluhkan fasilitas dan jadwal yang tidak sesuai. Pihak pengelola tentu akan selalu mengupayakan untuk memperbaiki hal tersebut, tetapi memang ada saja oknum dosen yang tidak bisa datang saat jam kuliahnya dan pada pertemuan selanjutnya merapel 3 pertemuan menjadi satu pertemuan. Tetapi tidak semua dosen seperti itu,” ujarnya.

Tidak hanya jadwal kuliah, jadwal praktikum pun selalu terkendala di kampus III. Begitupun dengan segi alat yang digunakan. “Praktikum bioteknologi itu tidak ada alatnya di sini. Pihak pengelola membawa mahasiswa untuk praktikum ke Padang. Hal tersebut dilakukan secara rutin,” ucap Dewi.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor I Unand Dachriyanus mengatakan bahwa seharusnya jika dosen tidak masuk sesuai jadwal perkuliahan yang sudah ditetapkan harus dilaporkan ke ketua jurusan atau ketua program studi masing-masing. Selain itu, Dachriyanus juga mengatakan bahwa dosen yang terkadang jarang datang dikarenakan tidak komitmennya pemerintah setempat dari segi finasial. “Tidak ada efek finansial yang berarti. Akhirnya ya seperti sekarang,” ujarnya.

Khusus untuk kampus III Unand, Dachriyanus mengatakan ketua prodi jurusan bersangkutan akan lebih banyak menetap di Padang daripada di Dharmasraya. Kemudian, berdasarkan pelaporan Dekan, kata Dachriyanus, saat ini ketua prodi sudah berada di sana minimal 4 hari dalam seminggu. “Kita lihat komitmen kaprodi dan dekannya dulu. Setelah itu baru bisa diambil keputusan. Solusi terakhir, mahasiswa kampus Dharmasraya akan di pindahkan ke Padang. Jika tidak ada lagi yang mengurus, apa boleh buat. Apalagi tidak ada aset Unand di sana,” ungkapnya.

Harapan untuk Kampus II dan Kampus III Unand

Berbicara mengenai mahasiswa di Kampus II, Ketua BEM Fekon Okto mengatakan mahasiswa kampus II banyak menjadi lulusan terbaik dan aktif  berorganisasi. “Mahasiwa sangat antusias berorganisasi, apalagi di tahun 2015 sampai sekarang,” ujarnya. Selain itu, setiap penyelenggaraan acara di kampus II, baik Fekon maupun Faterna tidak pernah mendapat bantuan dari Unand. Seperti dituturkan oleh Iskandar. “Faterna pernah menyelenggarakan acara Seribu Telur dan dana penyelenggaraan acara sendiri dicari oleh mahasiswa,” ujarnya.

Disisi lain, Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Unand Adrinal berharap jarak kampus III dengan kampus pusat tidak menjadi penghalang mahasiswa kampus III untuk mengembangkan softskill mereka untuk berorganisasi. “UKM yang ada di kampus III sudah relatif memadai. Sekarang ada tujuh organisasi di sana baik yang berafiliasi ke UKM universitas maupun UKF fakultas,” jelasnya.

Untuk kampus III Unand, Bupati Dharmasraya berharap kampus III Unand ini dapat terus meningkat kualitasnya. “Kualitas kampus III Unand harus sama dengan kampus pusat walaupun jaraknya jauh. Kita melihat ada perkembangan yang positif dari aktivitas mahasiswa. Sangat bagus untuk daerah Pulau Punjung, mahasiswanya tidak hanya dari Sumbar saja, tetapi banyak juga yang dari medan, pekanbaru, dan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Dewi selaku dosen kampus III Unand juga berharap agar semuanya menjadi lebih stabil, dosen yang datang sesuai jadwal, praktikum terlaksana dengan baik, sarana prasaran semaikin baik, untuk kedepannya semakin berkualaitas. “Paling tidak sama dengan kampus induk. Apa yang dirasakan oleh mahasiswa kampus induk juga dapat dirasakan oleh kampus 3,” tegasnya.

Tim: Ade, Aza, Endrik, Ilham RF, Mis, Rival, Rizka, Suci, Ulfa, Wita, Yoga

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Tabloid Genta Andalas Edisi LXVIII April-Mei 2017 pada Rubrik Laporan Utama.

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here