Jumat, 26 Mei 2017

Home » Laporan » Laporan Utama » Menguak Modus Pengemis Kota Padang

Menguak Modus Pengemis Kota Padang

5 Juni 2015 - 4:02 WIB Kategori: Laporan Utama 2 Komentar A+ / A- Dilihat: 1.494 Kali

Pengemis depan Sari AnggrekGentaandalas.com – Sebagai ibukota provinsi, dan masuk dalam kategori kota besar, keberadaan pengemis tidak bisa dipisahkan dari Kota Padang. Masalah sosial yang satu ini selalu menjadi momok baik bagi pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat. Kesenjangan sosial yang muncul di tengah masyarakat, kebutuhan ekonomi yang mendesak, hingga lapangan pekerjaan yang tidak tersedia merupakan alasan dari pengemis melakukan pekerjaan tersebut. Berbagai cara pun telah ditempuh pemerintah Kota Padang dalam menertibkan dan memberikan pelatihan keterampilan terhadap pengemis. Namun, sikap pengemis yang membandel dan tetap melakukan aksinya dengan berbagai cara membuat keberadaannya mulai meresahkan masyarakat.

Motif Pengemis dalam Menjalankan Aksi Banyak titik yang dijadikan tempat mangkal para pengemis di Kota Padang, salah satunya di sepanjang jalan Permindo. Di depan Toko Buku Sari Anggrek, Genta Andalas berhasil mewawancarai beberapa pengemis yang sering duduk di sana. Salah satunya adalah Yet (50), Wanita paruh baya ini mengaku sudah mengemis selama tiga tahun. Alasannya mengemis karena terdesak kebutuhan ekonomi dan keadaan fisiknya yang tidak memungkinkan untuk bekerja.

Yet mengisahkan, dulunya ia bukanlah seorang pengemis. Ibu dua anak ini sebelumnya bekerja sebagai penggiling cabai di Pasar Raya Padang. Karena kecelakaan saat bekerja, Yet harus dirawat selama tiga bulan di rumah sakit. Hidupnya berubah total, Yet yang awalnya berjalan normal, kini harus memakai tongkat karena kakinya yang pincang. “Sajak tu amak mancubo maminta-minta ko nak. Hasilnyo lumayan dalam sahari, kadang saratuih atau duo ratuih,” ujar Yet berusaha tetap tersenyum.

Menjadi penopang hidup di kala usia dan fisik yang tidak lagi mendukung, membuat Yet harus terus mencari rupiah demi kelangsungan hidupnya. Yet mengaku mengemis bukanlah pekerjaan yang diinginkannya. Wanita yang tinggal di sekitar Andalas ini sudah pernah mencoba untuk mencari pekerjaan lain seperti buruh cuci dan pekerjaan rumah tangga lainnya, namun tidak membuahkan hasil. Tak seorang pun yang bersedia mempekerjakannya dikarenakan kondisinya yang tidak memungkinkan. “Kebanyakan alasannyo takuik amak jatuah atau ba’a-ba’a, tapaso maminta-minta ko karajo amak kini nak,” ujar Yet pasrah.

Pengemis di PadangBeberapa langkah dari tempat Yet duduk, terlihat seorang pengemis pria penyandang disabilitas. Genta Andalas pun sempat berbincang-bincang dengan pria yang duduk di kursi roda tersebut. Acik namanya, kondisi fisik yang tidak sempurna saat lahir, membuat kaki Acik tidak bisa digerakkan. Ia hanya bisa duduk di kursi roda yang sudah reot sambil mengetuk-ngetukkan ember kecil berisi uang receh kepada setiap orang yang lewat. Tiap harinya, pria yang tinggal di Sebrang Padang tersebut mengemis mulai dari pukul 11.00 hingga pukul 20.00 WIB. Acik diantar jemput oleh keponakannya dengan menggunakan becak.

Tak perduli panas dan hujan, Acik mengaku melakukan pekerjaan tersebut agar dapat tetap bertahan hidup.

“Kalau ndak bantuak iko, apak ndak makan do. Hasilnyo lumayan lah nak, lai cukuik untuak kehidupan apak jo kaluarga sahari-hari,” jelasnya.

Acik juga mengatakan pekerjaan tersebut baru dilakoninya selama sebelas bulan. Sebelumnya, ia mengaku hanya menghabiskan waktu di rumah.

Hal berbeda terjadi pada Syamsurizal dan istrinya, orang tua yang mempunyai anak pengidap penyakit hidrosefalus. Penyakit yang disebabkan karena penumpukan cairan pada otak ini, dapat meningkatkan tekanan pada otak penderitanya. Hal tersebut membuat kepala anak Syamsurizal yang bernama Icha mengalami pembesaran. Kedua orang tua ini juga mengemis di depan Sari Anggrek dengan ‘memanfaatkan’ keadaan anak mereka yang sangat memprihatinkan.

Tingkah Pengemis Mencengangkan

Melihat pola tingkah pengemis, Genta Andalas pun melakukan penelusuran terhadap seorang pengemis asal Belimbing, bernama Herman. Sekitar pukul 10.00 WIB, Herman diantar oleh anaknya dengan menggunakan gerobak untuk menaiki angkot merah Belimbing yang akan menuju Pasar Raya Padang. Sesampainya di Pasar Raya, Herman turun di persimpangan jalan Permindo. Dengan bermodalkan ember kecil, Herman duduk di depan toko aksesoris wanita sambil memasang wajah mengiba. Ia juga menggunakan bantalan di badannya sehingga terlihat seperti memiliki benjolan besar di badannya. Aksi tersebut dilakoninya hingga azan isya berkumandang.

Dari pantauan Genta Andalas, Herman tergolong perokok aktif. Hal ini dibenarkan oleh Yas, pedagang asesoris wanita tempat biasa Herman mengemis.

“Meskipun pengemis, pak Herman terbilang perokok berat, biasanya ia membeli rokok dari penjual rokok yang lewat. Bisa sebungkus sehari,” ujar Yas yang sudah tiga belas tahun berjualan. Yas menambahkan bahwa Herman telah ada semenjak ia membuka kedainya di lokasi tersebut. Hal senada juga dikatakan oleh Yar, pedagang martabak yang berjualan tepat di depan Herman. “Saya juga sudah berjualan di sini selama sebelas tahun dan Pak Herman sudah ada di sini,” katanya.

Pengemis di PadangLain Herman, lain pula Yet. Setelah melakukan ‘pekerjannya’, Yet pamit pada Genta Andalas karena telah dijemput anak perempuannya dengan menggunakan sepeda motor matic putih yang terbilang cukup bagus. Ironis memang, anaknya mampu membeli sepeda motor, namun tak mampu mengurus sang ibu dan malah membiarkannya menjadi pengemis.

Sedangkan bagi Syamsurizal, upayanya membawa sang buah hati yang kondisinya memprihatinkan merupakan caranya dalam menambah biaya untuk pengobatan rawat jalan si anak. Syamsurizal mengaku membawa Icha ke RS Siti Rahmah sepuluh hari sekali untuk melakukan check up. Pengakuan Syamsurizal tersebut membuat Genta Andalas melakukan kroscek langsung ke Rumah Sakit Siti Rahmah untuk mencari tahu kebenarannya. Informasi yang didapatkan Genta Andalas sungguh mencengangkan.

Menurut penuturan salah seorang petugas rumah sakit yang tak mau disebutkan namanya, ia membenarkan ada pasien yang pernah dirawat atas nama Icha.

“Pasien atas nama Icha, riwayat penyakit hidrosafalus, berasal dari Sungai Sariak Kabupaten Padang Pariaman, dan berumur sebelas tahun. Ia pernah dirawat di Rumah Sakit ini. Namun, ia sudah berhenti rawat jalan sejak tahun 2010,” ungkapnya.

Dari penuturan petugas rumah sakit tersebut, terungkaplah fakta yang sebenarnya bahwa orang tua Icha telah berbohong dengan mengatakan melakukan check up sepluh hari sekali ke rumah sakit.

Penghasilan Pengemis Lampaui UMR

Cukup mencengangkan memang, jika melihat pendapatan yang bisa didapatkan oleh seorang pengemis. Dalam sehari, minimal mereka bisa mendapatkan Rp100.000,00, sehingga jika ditotalkan selama sebulan mereka bisa mengantongi Rp3.000.000,00. Pendapatan yang tergolong besar jika dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) Kota Padang tahun 2015 yang hanya Rp1.615.000,00. Melihat kondisi tersebut, wajar saja jika banyak pengemis yang tidak mau beralih dari pekerjaannya.

Hal tersebut dialami oleh Yet, karena mengemis ia dapat mengontrak rumah sendiri.

“Dari penghasilan amak ko nak, amak bisa mangontrak rumah, walaupun anak laki-laki amak yang alah berkeluarga masih manumpang di rumah amak,” ungkap Yet.

Acik, dalam sehari bisa mengantongi Rp 100.000,00 per hari. “Kalau lai rami urang nak, lai lah duo ratuih ribu apak dapek sahari,” ujar Acik tersenyum.

Sedangkan Herman, yang sudah belasan tahun mengemis memiliki penghasilan yang lumayan besar dalam satu harinya. Meskipun Genta Andalas tidak mendapatkan informasi langsung dari Herman, hal tersebut diakui oleh Yas, penjual aksesoris. Namun ia tak bersedia menyebutkan nominalnya.

Syamsurizal mengatakan tiap harinya ia bersama istri membawa Icha berangkat dari Padang Pariaman untuk mencari nafkah. Tiap harinya, mereka berhasil mengumpulkan uang Rp150.000,00 hingga Rp250.000,00. “Bapak terpaksa melakukan ini untuk biaya pengobatan Icha, untuk sekali berobat saja dapat menghabiskan uang Rp1.200.000,00. Jika dalam bulan Ramadan, dalam seharinya bisa mencapai Rp500.000,00,” imbuh Syamsurizal.

Jumlah Pengemis Kota Padang

Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Sosial Kota Padang, pada tahun 2006-2008 jumlah pengemis yang terdata sebanyak 250 orang. Selama tiga tahun tersebut, jumlah pengemis cenderung stagnan dan tidak berubah. Namun pada tahun 2009-2010, jumlah pengemis mengalami penurunan sebanyak 20 persen. Karena yang terdata pada tahun tersebut berjumlah 230 orang. Sedangkan sisanya pada tahun 2010 pengemis yang terdata setelah ditangani oleh Dinas Sosial berjumlah 210 orang.

Terkait dengan data tersebut, Mahyeldi Ansharullah, Walikota Padang mengatakan pengemis merupakan salah satu dampak kemiskinan di Sumatera Barat (Sumbar).

“Munculnya pengemis ini menunjukkan adanya fakta kemiskinan di Sumbar. Kenapa Sumbar? Karena pengemis di Padang tak hanya berasal dari Padang tapi juga pendatang dari daerah sekitar padang,” kata mantan Wakil Walikota Padang ini.

Senada dengan Walikota Padang, Duski Samad, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padang mengatakan ada tiga faktor yang memengaruhi jumlah pengemis di Padang. Pertama, ada aktor yang bermain di belakang pengemis. Kedua, struktur masyarakat yang tidak berpihak kepada orang-orang lemah. Ketiga, mental masyarakat yang tidak mau bekerja keras. “Ada namanya pengemis rental, di mana mereka dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Di sisi lain, pengemis juga lemah dari segi ekonomi dan pendidikan. Sehingga pengemis terlihat tidak pernah ada habisnya,” ujar Duski yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Peran dan Upaya Pemerintah

Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh Pemko Padang untuk menanggulangi masalah pengemis dan anak jalanan, namun upaya ini tak kunjung membuahkan hasil. “Pemko Padang telah menyekolahkan pengemis pada usia sekolah, membina pengemis dengan memberikan pelatihan, dan memulangkan para pengemis ke daerahnya masing-masing. Namun biasanya, setelah diberikan pelatihan mereka kembali mengemis,” ungkap Mahyeldi.

Amrizal, Kasi Trantib Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menyatakan tiap harinya Satpol PP sudah melakukan berbagai usaha untuk menertibkan dan mengurangi jumlah pengemis dan anak jalanan. “Satpol PP sejauh ini terus berusaha mengurangi jumlah pengemis. Seperti melakukan penjangkauan setiap harinya kepada pengemis, anak jalanan, pedagang asongan, dan pengamen. Selain itu, membentuk Tim Elang yang khusus untuk menertibkan pengemis, anak jalanan, pengamen, dan orang gila yang bekeliaran di jalan raya,” ujarnya.

Amrizal menegaskan anak jalanan, pengemis, dan pengamen yang menganggu ketertiban saja yang ditangkap.

“Ketika pengemis tersebut belum menganggu tata tertib, kami masih bisa mentolerirnya. Namun, jika sudah terusik rasa nyaman masyarakat, Satpol PP akan berusaha untuk menekannya,” tegasnya.

Amrizal juga mengungkapkan anak jalanan, pengemis, pedagang asongan, dan pengamen yang tertangkap akan dibawa ke Dinas Sosial. “Kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial, pengemis yang tertangkap akan dibawa ke panti sosial untuk diberikan keterampilan. Sedangkan untuk anak yang di bawah umur akan dimasukkan ke panti asuhan,” ungkapnya. Hal ini terbukti, setelah dibawa ke panti sosial banyak pengemis yang sekarang menjadi teknisi handphone, supir angkutan umum, dan lain-lain.

Selain melakukan penertiban, Mahyeldi menghimbau seluruh masyarakat Kota Padang untuk tidak memberikan sumbangan kepada para pengemis.

“Sebenarnya sudah ada peraturan daerah yang mengatur tentang pengemis dan anak jalanan. Selain itu pemko juga sudah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tidak memberikan sumbangan kepada pengemis. Karena dengan memberikan uang, akan mendorong mereka terbiasa meminta-minta,” tambahnya.

Dinas Sosial dan tenaga kerja sebenarnya telah menjalankan peran mereka untuk meminimalisir pengemis dan anak jalanan. “Kami dari dinas sosial dan tenaga kerja telah memberikan penyuluhan, sosialisasi, agar tidak mengemis lagi, tidak berdiri di perempatan jalan,” kata Freisdawati A. Boer, Kepala Dinas Sosial Kota Padang.

“Untuk menyadarkan anak jalanan, gelandangan, pengemis, jika memang faktor ekonomi yang menuntut mereka untuk mengemis maka mereka akan diberikan semacam pelatihan kelompok usaha bersama. Seperti memberikan pelatihan montir sepeda motor untuk bekal mereka nantinya. Agar mereka bisa bekerja dengan layak dan bisa memperbaiki perekonomiannya,” tambahnya.

Untuk memberikan efek jera bagi pengemis, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja sudah memberikan peringatan agar tidak turun ke jalanan lagi.

“Mereka harus membuat surat perjanjian, jika mereka turun ke lapangan setelah dipulangkan ke daerah asal maka mereka akan ditangkap dan ditahan oleh Satpol PP. Selanjutnya Satpol PP akan melaporkan kepada Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja untuk ditindaklanjuti,” ujar Freisdawati.

Jelang bulan Ramadan, biasanya jumlah pengemis di Padang mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Hal inilah yang coba diantisipasi oleh MUI dengan memberikan himbauan kepada seluruh pengemis. Himbauan yang dilakukan MUI ini jika dilihat dari sudut pandang tertentu dapat berjalan efektif. “MUI akan memberikan imbauan untuk menertibkan tempat yang menyimpang dari kontrol sosial, salah satunya adalah tempat hiburan malam. Salah satu bentuk dukungan MUI dalam mengurangi pengemis adalah dengan mengadakan subuh mubarakah,” tutur Guru Besar Ilmu Tasawuf IAIN Imam Bonjol ini.

Melihat fenomena di atas, permasalahan pengemis tidak akan kunjung usai jika usaha preventif hanya dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat seharusnya sadar dan bijak dalam menghadapi pengemis. Kadang, pemberian dari masyarakat lah yang membuat mereka terus ‘candu’ melakukan hal tersebut. Tak ayal, mereka melakukan berbagai cara agar mendapatkan belas kasihan dari masyarakat padahal realitanya tidak selalu demikian. Masyarakat harus pintar dalam menghadapi ‘kepintaran’ pengemis, sehingga semua upaya dalam menekan jumlah pengemis dan memberikan efek jera dapat berjalan dengan baik.

Laporan: Anes, Arif, Gita, Laila, Lizsa, Peri, Ruli

Menguak Modus Pengemis Kota Padang Reviewed by on . Gentaandalas.com - Sebagai ibukota provinsi, dan masuk dalam kategori kota besar, keberadaan pengemis tidak bisa dipisahkan dari Kota Padang. Masalah sosial yan Gentaandalas.com - Sebagai ibukota provinsi, dan masuk dalam kategori kota besar, keberadaan pengemis tidak bisa dipisahkan dari Kota Padang. Masalah sosial yan Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-2km

Komentar (2)

  • R.novia

    Teman2 genta tolong donk cari informasi pengemis yang di lampu merah by pass
    Soalnya menurut kabar yang beredar, anak yang ada dalam gendongan pengemis itu selalu tidur.
    Terima kasih grntaa
    Selalu berkarya ..

  • Rizka Desri Yusfita

    Permasalahan pengemis merupakan salah satu permasalahan sosial yang sulit untuk ditangani. Penyebab dari timbulnya banyak pengemis itu antara lain adalah jumlah pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang memadai dan kesempatan kerja yang tidak selalu sama. Saya berharap pemerintah lebih serius dalam menyelesaikan persoalan seperti ini bukan hanya sibuk resuffle kabinet yang belum berujung. Go genta go genta go !

Tinggalkan Komentar

scroll to top