Oleh: Ayu Lestari

Jika ada suara ribut di pagi hari, pasti suara itu berasal dari rumahku. Hampir setiap pagi ibu marah-marah, merepeti aku. “Sudah terbit pula matahari, belum juga dia pulang.” Ibu berkata dengan sendirinya. Ayahku masih tidur, dan kakakku telah dari tadi bangun, mereka hanya diam mendengar ibu marah. Sambil membuka pintu jendela, ibu kembali merepet sambil terus memandang ke jalan, menanti aku pulang.

“Enak sekali tidurmu di sana, sudah tinggi matahari baru pulang, tidak sekolahkah engkau?”

Ibu menyambut kepulanganku. Aku hanya diam mendengar kata-kata ibu. Hal seperti itu sudah biasa terjadi. Tak kujawab kata ibu. Aku langsung menuju ke dalam sambil merangkul kain sarung di dadaku.

“Seperti hotel berbintang saja pondok Mak Tua itu, betah sekali kau tidur di sana.”

Ibuku masih saja merepet. Tak menginginkan ibuku berkata ini dan itu, aku langsung menuju sumur dan bersiap-siap berangkat sekolah.

***

Hujan datang di sore hari. Saat aku tengah duduk di depan televisi, tak kuhiraukan film yang sedang diputar, aku teringat Mak Didik. Bagaimana kalau hujan tak kunjung reda sampai nanti malam, dan aku tak dapat tidur di pondok Mak Didik. Ibu tak pernah mengizinkan aku tidur di pondok Mak Didik jika hari hujan. Ibu takut aku tertimpa pohon atau buah kelapa. Biasanya setiap hujan selalu disertai badai. Hal itu dikarenakan aku tinggal di tepi pantai. Aku khawatir, siapa yang akan menemani mak Didik tidur, siapa yang menemaninya keluar di tengah malam pergi ke sumur. Lamunanku buyar ketika suara ibu memanggil namaku,

“Li, tolong letakkan gulai ini ke atas meja.”

“ Baik bu.” Jawabku sambil menerima semangkuk gulai panas dari ibu.

Aku kembali duduk di depan televisi. Tak berapa lama kemudian ibu pun duduk di sampingku untuk melepaskan lelahnya setelah memasak. Aku menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan ibu, dan setelah kurasa pas, aku berkata dengan lemah dengan nada memohon.

“Bu, nanti malam aku tidur di pondok Mak Didik ya?”

Ibu menoleh padaku dan berkata dengan nada tinggi

“Tak kau lihat hujan begini?”

“Iya bu, tapi aku bisa memakai payung nanti.” Aku mencoba membujuk ibu.

“Kalau kau tertimpa pohon atau buah kelapa siapa yang akan bertanggung jawab? Maukah Mak Didik itu bertanggung jawab?”  Ibu mulai marah padaku.

“Tapi bu, kasihan Mak Didik tidur sendirian. Siapa yang akan menemaninya nanti?”

Ibu beranjak menuju kamar sambil berkata padaku.

“Jika ibu katakan tidak boleh, berarti kau harus tidur di rumah!”

Aku tak menjawab kata ibu, percuma.

***

Semalam aku susah tidur, tiap sebentar aku teringat Mak Didik. Walaupun begitu aku bersemangat pergi ke sekolah, hari ini cuaca cerah, dan sepertinya nanti tak akan turun hujan, itu artinya aku bisa menemani Mak Didik tidur. Sebenarnya tak ada hal istimewa yang membuatku suka tidur di pondok Mak Tua itu. Aku hanya merasa kasihan kepadanya. Di usia tuanya ia harus diasingkan oleh anaknya. Anak yang tak membalas jasa. Selain itu aku menyayanginya karena aku tak merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang nenek. Sepulang dari sekolah aku mampir ke pondok Mak Didik, memastikan apa ia baik-baik saja. Kudapati Mak Didik tengah memetik daun singkong yang tumbuh di belakang pondoknya.

“Untuk apa daun singkong itu Mak?” Aku mengejutkan Mak Didik yang tengah asyik memetik daun singkong.

“Eh kau, Li. Mak kira siapa. Mak ingin sekali makan gulai daun singkong, sudah lama mak tidak memasak.”

Aku mengerutkan kening.

“Tapi ‘kan, Ande Rosaniman setiap hari mengantarkan Mak nasi dan gulai, kenapa Mak tidak menyuruh dia untuk memasakkannya?”

“Ah, kau ini. Kau tak tahu akal Rosaniman itu. Dia pura-pura memperhatikanku. Dia ingin membujukku untuk memberikan sawah peninggalan mendiang ayahnya. Aku tak akan memberikannya.”

Mak Didik berhenti memetik daun singkong.

Ande Rosaniman itu anak Mak, Mak tidak boleh seperti itu.”

“Anak yang tak tahu balas jasa, air susu dibalas dengan air tuba. Kalau dia memang anakku, kenapa dia membiarkanku tinggal sendirian di sini.”

Mak Didik mulai marah, air mukanya yang tadi tenang kini mulai keruh, menyembulkan urang-urang lehernya yang dibaluti kulit keriput.

“Tapi ‘kan….”

“Sudah dihasutinya pula engkau! Kau bela-bela dia, apa yang telah dia beri kepadamu?”

Mak Didik memotong perkataanku.

“Tidak Mak, aku jarang bertemu Ande Rosaniman.”

”Pulanglah kau dulu, nanti ibumu marah jika kau terlambat pulang.”

Mak Didik meninggalkanku menuju ke dalam pondok, aku bingung.

***

Matahari baru saja terbenam. Senja menjemput malam. Setelah makan, aku mengintip bulan di balik daun kelapa. Untung malam ini terang bulan. Aku tak perlu membawa suluh ke pondok Mak Didik. Setelah meminta izin kepada ibu dan ayahku, aku pun bergegas ke pondok Mak Didik. Sebelum aku pergi ibu mengingatkan aku agar tak banyak bicara dengan Mak Didik, apalagi kalau ia sudah mulai marah. Ibu melarangku berbicara dengannya. Di sepanjang jalan, aku tak menoleh ke kiri dan ke kanan, aku sangat takut pada hantu daun kerisik, yaitu hantu yang sering menggoyangkan daun pisang di malam hari. Cahaya rembulan mengantarkanku ke pondok Mak Didik, angin malam mulai terasa dingin, aku pun mempercepat kayuh sepedaku.

“Mak… Mak…, Mak Didik…?”

Aku mengetuk daun pintu. Dari dalam terdengat lantai kayu berderit dipijak orang. Mak Didik membukakan pintu.

“Lama sekali kau datang, mampirkah kau di rumah Rosaniman tadi?”

Mak Didik bertanya dengan nada curiga padaku.

”Mak ini, seperti dekat saja rumah Ande Rosaniman itu. Dari tadi siang tak henti-hentinya curiga padaku. Baru pukul delapan Mak, biasanya aku juga datang jam delapan.” Jawabku sambil menyandarkan sepedaku.

Mak Didik tak lagi menjawab kataku, ia membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Aku hanya diam, matanya terpejam, namun kutahu ia tidaklah tidur. Jika diperhatikan dari raut wajahnya, Mak Didik termasuk orang yang hidupnya serba berkecukupan. Hal itu bisa terlihat dari wajah dan tubuhnya yang masih sehat dan kuat. Mak Didik memang seorang wanita yang termasuk kaya di kampungku, di mana pada umumnya wanita-wanita sebaya Mak Didik hanya bersuami tukang panjat atau petani. Almarhum suami Mak Didik adalah seorang saudagar yang terkenal kaya dulunya di kampung kami. Beliau pedagang pakaian yang pada zaman itu menjualkan dagangannya ke luar daerah. Beliau lelaki yang hebat, pintar berdagang. Hidup Mak Didik serba berkecukupan selama menikah dengan suaminya itu. Sawah dan ladangnya luas. Emas Mak Didik banyak. Belum lagi sapi-sapinya. Mak Didik  mempunyai seorang anak. Ya, hanya seoranglah anak Mak Didik, yaitu Ande Rosaniman. Mak Didik sangat mencintai suaminya itu, wajar saja karena beliau lelaki yang ganteng dan pandai bergaul.

Namun suatu hari ketika hendak pergi menbeli barang dagangannya ke tanah Jawa, kapal yang ditumpangi suami Mak Didik mengalami kecelakaan. Kapal itu tenggelam. Tak banyak yang selamat dari peristiwa itu. Namun sayang, suami Mak Didik tidak selamat dari peristiwa itu, dan yang lebih menyedihkan lagi jasad beliau pun tidak di temukan. Saat peristiwa itu Ande Rosaniman berumur delapan belas tahun dan akan melaksanakan pernikahannya. Aku bisa membayangkan bagaimana goncangan batin yang dirasakan oleh Mak Didik dan Ande Rosaniman saat itu. Dan andai saja saat itu aku telah ada di dunia ini pasti aku ikut merasakan betapa sedihnya hati Mak Didik. Tiba-tiba Mak Didik membuka matanya memandangi loteng pondok.

“Kau tahu, si Rosaniman itu pura-pura baik padaku. Ia ingin mengambil semua hartaku ini. Dia juga menginginkan aku cepat-cepat mati.”

Aku terkejut mendengar kata-kata Mak Didik.

“Tapi dulu aku dengar Ande Rosaniman sudah  mengajak Mak tinggal bersamanya, untuk pulang ke  rumah Mak yang lama, namun Mak yang tak mau.”

“Itu hanya akal-akalnya saja untuk membujukku agar aku mau menyerahkan semua hartaku padanya. Dan kau tahu, ketika aku tertidur dia akan menutup mulutku dengan bantal agar aku susah bernafas dan akhirnya mati. Itu yang membuatku tak mau lagi pulang ke rumahku.”

“Mana mungkin, Mak! Dia itu ‘kan anak Mak satu-satu, tak mungkin hal seperti itu akan dilakukan Ande Rosaniman.”

“Kau tahu apa tentang anak durhaka itu? Aku yang lebih tahu dia itu seperti apa. Dia itu anakku!”

“Mak jangan berfikir buruk seperti itu. Ande Rosanimanlah satu-satunya tempat Mak bergantung, mengurusi Mak, menjaga Mak.”

“Ya, mengurus, menjaga, lalu membunuhku!”

Aku terperangah mendengar perkataan Mak Didik. Tak  bisa kulanjuti kata-kataku. Sungguh sulit mengajaknya bicara baik-baik. Tak mau mendengarkan kata orang lain, keras menuruti apa katanya saja.

Andai saja aku tadi bisa bertemu dengan Ande Rosaniman, ingin kutanyakan banyak hal padanya dan menceritakan sikap Mak Didik selama ini. Rumah Ande Rosaniman lumayan jauh dari rumahku. Kami beda kampung tapi masih satu kecamatan. Ande Rosaniman selalu mengunjungi Mak Didik ke pondoknya di saat pagi, saat aku masih  berada di sekolah.

Aku pun segera diam dan pura-pura tidur. Aku teringat kata-kata ibu.

***

Hari ini aku tidak sekolah karena hari minggu. Biasanya, setiap hari minggu aku menggunakan waktu untuk membantu pekerjaan ibu dan kakakku. Mulai dari membersihkan rumah sampai belajar memasak. Lalu setelah semuanya selesai, kami makan siang bersama. Pada saat itulah aku berkata pada ibu.

“Bu bolehkah nanti aku membawakan sedikit gulai untuk Mak Didik?”

Ibu tak langsung menjawab pertanyaanku. Ibu hanya memandangiku dan menarik nafas panjang.

“Bu, dua hari yang lalu Mak Didik ingin sekali makan gulai daun singkong, tapi tak ada yang membuatkannya.” Tegasku.

“Mau kau antarkan ke panti?” Jawab ibu sekaligus bertanya padaku.

Aku tak mengerti kata-kata ibu.

“Panti? Maksud ibu?”

“Iya, Panti. Mak Didik sekarang ‘kan tinggal di Panti.”

Aku kaget. “Jadi Mak Didik sekarang tinggal di Panti? Jahat sekali Ande Rosaniman itu!”

“Bukan jahat, tapi karena dia sayang.”

“Sayang bagaimana pula? Selama ini Ande Rosaniman membiarkan Mak Didik tinggal sendirian dan sekarang dititipkan ke Panti. Jahat sekali Ande Rosaniman itu. Ingin mendapatkan harta orang tua dengan cara seperti itu!”

Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau tahu kenapa ibu memarahimu jika kau tidur di rumah Mak Tua itu?”

Aku menggeleng tanda tak mengerti.

“Kenapa bu?” Tanyaku.

“Ibu tak mau kau termakan perkataan dan pengakuan Mak Didik.”

Aku menatap heran pada ibu.

“Semenjak suaminya meninggal, Mak Didik jadi stres. Entah kenapa dia sangat membenci anaknya. Ia tak ikhlas menerima kenyataan pahit takdir yang merebut suami tercintanya. Mak Didik ingin juga anak semata wayangnya itu meninggal agar lengkap sudah penderitaannya. Tapi Tuhan berkehendak lain.”

Aku hanya terdiam mendengar perkataan ibu, masih tak mengerti mendengar semua itu.

“Merasa tak betah tinggal satu rumah dengan anaknya, Mak Didik memilih tinggal di pondok. Tanah Mak Didik luas, makanya dia memilih membuat pondok di kampung kita. Padahal Rosaniman bermaksud baik, tapi malah sebaliknya bagi Mak Didik. Ia sebarkan kepada orang kampung yang bukan-bukan. Itulah karenanya Rosaniman menitipkan Mak Didik ke panti.”

Aku hanya terdiam mendengar semua cerita ibu. Sungguh aku kesulitan memahami.

Jadi, selama ini, aku…?