Senin, 25 September 2017

Home » Aspirasi » Ketika Media dan Politik Berkolaborasi

Ketika Media dan Politik Berkolaborasi

Oleh: Azalia Mutiara Fitri*

8 Maret 2017 - 12:18 WIB Kategori: Aspirasi 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 73 Kali

Hidup di zaman yang serba canggih tidak menutup kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang pesat. Media, khususnya media cetak dan elektronik telah banyak melakukan perubahan. Para pemilik media kini selalu melakukan inovasi agar tidak ketinggalan zaman dan semakin diminati khalayak.

Ketika media cetak seperti koran dan majalah sudah tidak lagi dilirik, pemilik media langsung beralih ke media digital. Mereka berlomba-lomba menghadirkan aplikasi, link, bahkan web dalam memuat berita.  Keuntungannya bagi kita bisa diakses dimana saja tanpa perlu repot-repot lagi membawa koran atau majalah. Tapi, jika semua serba digital kita bisa dikatakan sebagai orang yang tidak lagi melek akan dunia sekitar.

Perkembangan media juga diiringi dengan perkembangan jaringan internet yang semakin meluas bahkan sudah menjangkau daerah terpencil. Jaringan internet yang semakin meluas tadi berdampak pada banyaknya muncul aplikasi berbasis internet seperti Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan lain-lain.

Dewasa ini, media massa yang paling marak adalah media sosial. Dengan adanya media sosial informasi lebih cepat tersebar. Terkadang media sosial lebih tahu dari pada wartawan. Tapi informasi yang didapatkan belum tentu akurat. Namun siapa yang peduli. Masyarakat hanya perlu informasi dan ada pihak atau orang yang disalahkan dalam pemberitaan tersebut.

Kita saja sebagai masyarakat bisa jatuh hati kepada media, apalagi panggung politik. Banyak dari aktor politik yang menguasai media, bahkan media itu sendiri merupakan milik si aktor politik. Hal tersebut sudah menjadi konsumsi publik, apalagi di Indonesia.

Hubungan media dan politik terlihat dengan sangat jelas. Apalagi menjelang pemilu. Setiap kegiatan dalam kampanye yang diadakan salah satu partai politik, akan disorot media. Media ada dimana-mana saat itu. Bahkan ada aktor politik yang tidak memiliki media bersedia membayar ratusan juta untuk mengikuti kegiatannya. Semua dilakukan untuk menjaga image dan pencitraan.

Iklan politik merupakan bentuk dari kolaborasi antara media dan politk. Saat berlangsungnya kampanye tadi, semua bentuk kegiatan, profil diri, pamflet akan muncul dimana-mana. Bahkan mereka mampu menyingkirkan lawan dengan memburuk-burukannya di media.

Tidak cukup sampai live report, aktor politik sama halnya dengan artis yang juga memiliki channel tersendiri untuk mempublish setiap kegiatannya. Segala pemberitaan terlihat jelas mengenai dirinya. Anehnya, semua pemberitaan itu selalu yang baik-baik saja. Lalu akan muncul pertanyaan, dimana buruknya? Apakah dia memang seperti itu? Sebagai masyarakat awam kita hanya bisa mengangguk-angguk sampai waktunya tiba.

Aktor politk yang menguasai media juga mampu menyaring setiap pemberitaan yang akan ditayangkan. Jika berita buruk mengenai dirinya, hal tersebut dipastikan tidak akan tayang. Tapi jika berita buruk tentang lawannya, pasti ditayangkan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan media dan politik berkolaborasi. Hanya saja perlu memperhatikan etika dan sesuai dengan yang seharusnya. Sebagai masyarakat yang mengonsumsi media massa kita harus bisa menyaring dan memilah-milah pemberitaan terlebih dahulu. Jangan sampai langsung diterima bulat-bulat. Oleh karena itu jangan sampai kita mau dibodohi oleh siapa pun.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jururan Ilmu Komunikasi

Angkatan 2015 Universitas Andalas

Ketika Media dan Politik Berkolaborasi Reviewed by on . Hidup di zaman yang serba canggih tidak menutup kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang pesat. Media, khususnya media cetak dan elektronik Hidup di zaman yang serba canggih tidak menutup kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang pesat. Media, khususnya media cetak dan elektronik Rating: 0

Permalink : http://wp.me/p52sAd-3Bc

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Komentar

scroll to top