Beranda Aneka Ragam Resensi Kepiluan Anak Cindaku

Kepiluan Anak Cindaku

novel-cindaku-cetakAku akan mengambil kehormatan yang telah terenggut dari keluarga kita, Bu. Bagi laki-laki, kehormatan harus diambil kembali kepada tempat di mana ia telah direnggut itu.

Kalimat di atas merupakan surat Salim saat Ia merantau di Tanjuang Karang. Ranah rantau sebenarnya yang ingin Ia tuju ialah tanah Jawa. Namun, keinginannya gagal karena Ia ditinggal bus yang mengantarkannya, saat Ia melaksanakan salat. Surat itu ditujukan pada ibunya yang Ia tinggalkan sendirian di kampung. Salim ingin mengangkat harkat martabat keluarganya. Ia tak mau dibilang anak Cindaku. Karena Ia yakin tak semua sifat buruk ayahnya akan turun padanya.

Lewat novel “Cindaku“, Azwar Sutan Malaka, berusaha menguak kembali mitos-mitos yang berkembang di Minangkabau. Novel yang berlatar Bukittinggi dan Tanjuang Karang ini, membuat kita seolah benar-benar berada dalam alurnya, karena kemelut dalam cerita tersebut sangat dekat dengan kita. Azwar mengemas cerita dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami serta pemilihan kata yang tepat.

Melalui tokoh Salim, Azwar mengungkap betapa perihnya hidup seorang anak Cindaku. Salim yang masih muda harus menelan pil pahit dalam hidupnya. Dibesarkan di lingkungan “Cindaku” membuatnya tak goyah. Sewaktu kecil Salim telah mereguk luka keluarganya. Ayahnya dibunuh oleh warga kampungnya sendiri. Karena masyarakat resah atas kelakuan ayahnya. Ayahnya seorang yang punya ilmu hitam (di Minang dikenal sebagai Cindaku). Ia bahkan sering menggerakkan Gasiang tangkurak (sejenis santet) untuk orang-orang yang tidak ia sukai. Apabila ia mati kelak, langit dan bumi tak akan menerima arwahnya. Setiap yang mempunyai ilmu tersebut, saat mati mereka akan berubah menjadi manusia setengah hewan. Perubahan pada diri mereka tergantung akan tingkat ilmu yang mereka miliki. Ada yang paling tinggi ilmunya akan berubah menjadi manusia harimau atau inyiak. Begitu seterusnya, ada yang menjadi serigala, dan tikus.

Latar belakang ayahnya memiliki ilmu sakti ini, karena ia mempunyai dendam. Saat itu ayahnya hidup di masa pendudukan tentara jepang. Nyawa ibunya direnggut oleh kejinya perlakuan tentara-tentara yang datang kerumahnya. Begitupun dengan kakak perempuannya yang harus kehilangan kehormatannya akibat ulah para tentara bejat kala itu. Tak hanya itu, Sutan Said (ayah Salim) harus kehilangan sebelah matanya karena kena tusukan dari sangkur di matanya, saat ia ingin melawan tentara-tentara itu.

Usut punya usut, Sutan Said akhirnya memutuskan pergi ke Bukit Barisan, menemui Nyiak Sangek. Setalah beberapa bulan belajar ilmu hitam dengan Nyiak Sangkek, Sutan Said mulai membalas dendamnya setelah ilmunya terasa kuat.

Azwar juga lihai dalam mengatur alur dari beberapa kejadian yang dialami tokoh Salim. Setiap persoalan disajikan dengan detail oleh Azwar, hingga kita serasa dibuat berada dan merasakan sendiri apa yang dialami tokoh. Salim yang merupakan seorang anak muda yang punya semangat dan ketangguhan hati tak pernah patah arang dalam hidupnya. Bertubi-tubi masalah menimpa seperti tak kenal waktu. Mulai dari sering di caci sebagai anak Cindaku, ia gagal meminang Laila, dan kehidupan merantaunya yang menyedihkan, serta Ia pernah dijebak oleh anak majikannya sendiri. Bahkan pernah berpura-pura menikah dengan janda kaya, demi bebas dari jeruji besi.

Hal yang sangat disayangkan dari novel ini dibagian ending, Azwar belum mampu mewujudkan mimpi tokohnya. Mimpi yang sangat ingin ia raih yaitu ingin mengangkat harkat martabat keluarganya dan ingin hidup bersama Laila. Karena ibu Laila tidak sudi seumur hidupnya apabila Salim menikahi putrinya. Ia malah mengelak bahwa Salim dan Laila saudara seayah. Apa sebenarnya hubungan Laila dengan ayah Salim? Kenapa ia dikatakan saudara seayah dengan salim? Kemanakah Salim setelah ditolak pinangannya oleh pihak Laila? Bagaimana dengan mimpi Salim? Pembaca akan dibuat terguras emosinya oleh alur cerita dera dan beban hati seorang anak Cindaku ini. Kita akan dibuat terkejut oleh setiap ceritanya.

Selamat berpetualang dengan mitos Minang dalam Novel “Cindaku”. Saya sangat merekomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan, karena banyaknya kisah inspiratif di dalamnya. Serta ceritanya sangat dekat dengan kehidupan kita,  khususnya masyarakat Minangkabau. Selamat membaca!

Identitas Buku :

Judul               : Cindaku

Penulis            : Azwar Sutan Malaka

Penerbit           : Kaki Langit Kencana

Tahun terbit    : September 2015

Resensiator     : Nite

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here